Selalu Berubah, Gagal atau Berhasil?

images (3)

 

images (1)

 

Haiii mungkin kalian tak asing dengan kata kata kurikulum karena kurikulum itu sendiri erat hubungannya dengan pendidikan. Bukankah begitu? Namun, berbicara mengenai kurikulum, sebenarnya apasih arti kurikulum itu? Kurikulum ialah suatu perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada siswa dalam satu periode jenjang pendidikan. Fungsi kurikulum itu sendiri sebagai suatu pedoman pendidikan pada suatu lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Mungkin itu bahasanya terlalu formal, jelasnya gini kurikulum itu suatu standar kompetensi yang digunakan dalam dunia pendidikan.

 

Nah, mari kita bahas kurikulum di Indonesia. Baru baru ini kita dengar bahwa kurikulum lama (KTSP 2006) akan diganti dengan kurikulum 2013 yang akan diberlakukan Juli ini. Tentu saja kebijakan yang akan diberlakukan Kementerian Pendidikan & Kebudayaan ini menuai banyak protes. Banyak kalangan yang mempersoalkan kebijakan perubahan kurikulum sekarang bahkan tidak sedikit yang meragukan akan keberhasilan dari kurikulum 2013 ini. Seperti contoh Fahrus Zaman Fadhly, wakasekjen Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan sosialisasi penerapan kurikulum 2013 yang dicanangkan Mendikbud M. Nuh belum maksimal. Selain itu banyak keluhan-keluhan mengemuka dalam rancangan kurikulum 2013, diantaranya rencana penambahan jam pelajaran, kesiapan tenaga pendidik,sarana dan prasarana, dll. Pengamat pendidikan H.A.R. Tilaar juga berkomentar, perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia dinilai hanya menyulitkan siswa saja.

 

Coba kalian bayangkan, belum selesai menyerap ilmu dari sebuah kurikulum yang dianggap unggul, siswa ini harus beradaptasi lagi dengan kurikulum baru. Ini seperti melakukan suatu hal dengan tekhnik yang canggih namun belum selesai tekhnik tersebut diganti lagi dengan yang lain. Ini justru akan menjadikan suatu kendala. Di kurikulum 2013, jumlah jam belajar bertambah dari 26 jam menjadi 30 jam per minggu untuk siswa SD. Berikutnya, untuk siswa SMP dari 32 jam menjadi 38 jam. Hal ini justru akan membuat siswa “kaget” dengan kurikulum baru ini. Sebenernya apasih alasan kurikulum harus diganti? Menurut Mendikbud Mohammad Nuh, alasan kurikulum harus diganti karena tingginya kegagalan sejumlah sekolah dalam menerapkan KTSP. Untuk itu, beliau mengeluarkan kebijakan baru yakni mengubah kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013.

 

Menurutnya, kurikulum 2013 mempunyai keunggulan tersendiri dari kurikulum sebelumnya. Di antaranya ialah jika pada kurikulum KTSP mata pelajaran ditentukan dulu untuk menetapkan standar kompetensi lulusan, maka pada Kurikulum 2013 pola pikir tersebut dibalik. Kurikulum baru ini diyakini telah memenuhi tiga komponen utama pendidikan, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang akan menjadi penguatan pada pembentukan karakter. Kemendikbud pun telah menyiapkan strategi melalui 2 program. Yang pertama menyiapkan buku referensi untuk pegangan guru dan siswa namun isi dan bobotnya berbeda. Yang kedua akan diadakan pelatihan guru secara bertahap. Selain itu murid juga tidak harus lagi bawa buku yang banyak.

 

Nah, kalau kita simak terdengar perencanaan itu akan berjalan lancar dan sukses serta mencapai hasil yang maksimal. Akan tetapi faktanya berbeda, perubahan kurikulum di Indonesia bukanlah suatu hal yang baru dilakukan. Tercatat Indonesia sudah merubah kurikulum sebanyak 11 kali namun seperti kita tahu pendidikan di indonesia tidak ada pada tingkat yang spektakuler. Mengapa perubahannya sampai sebanyak itu? Sebelas bukan merupakan angka yang sedikit dalam hal ini, kalaupun alasan perubahan kurikulum karena mengikuti zaman mungkin itu masih bisa diterima akal. Namun, kenapa harus sebanyak itu? Seharusnya, kalau negara ingin merubah kurikulum harus dengan komitmen yang kuat. Semua aspek pun harus ditinjau secara mendalam seperti contoh jikalau ingin menetapkan kurikulum A harus ditentukan sejauh mana kualitasnya, seberapa baik bukunya, sejauh mana tingkat kesiapan guru dalam mengajar, sejauh mana tingkat teknologinya dan yang terpenting seberapa banyak biaya yang harus dikeluarkan.

 

Kalau saja satu aspek tidak ditinjau secara mendalam maka hasil yang didapatkan tidak akan maksimal. Kalau kita melihat sejarah, sebenernya siapa yang salah? Apa yang salah? Kurikulumnya? Pemerintah? Tak ada yang bisa dikatakan bersalah apabila semuanya tidak mengintrospeksi diri. Kalau pun kurikulum 2013 ini dianggap sebagai perubahan untuk kemajuan pendidikan kurikulum ini hanya bisa dianggap sebagai “Harapan Baru”. Kurikulum yang selalu berganti ini hanya saja membuat siswa serta guru menjadi korban karena mereka hanya dijadikan sebagai kelinci percobaan. Kalau berhasil dilanjutkan kalau gagal tinggal diganti. Sebenernya kalau pendidikan di Indonesia ini rendah, kurikulum bukanlah faktor utama.

 

Andai saja, guru guru diberikan pelatihan yang benar sebagaimana mestinya dan pelatihan ini didapatkan di seluruh pelosok daerah bukan hanya di Jakarta pastilah anak muridnya akan sukses. Karena di dalam sekolah guru adalah contoh para muridnya. Jika guru berkata A maka muridnya pun akan berkata A. Jika gurunya diberikan pelatihan secara bagus maka ia pun akan mengajari muridnya dengan bagus pula dan sesuai dengan tujuan pendidikan. Kalau kita lihat kurikulum 2013 sebenernya Ada baiknya karena pada kurikulum tersebut dikatakan bahwa tidak lagi guru berperan 100% dalam pendidikan justru siswa yang berperan aktif.

 

Namun, kebijakan perubahan kurikulum ini layaknya seperti mengobati suatu penyakit. Hanya dilihat gejala-gejalanya saja tidak dipelajari mendalam langsung mengambil tindakan. Selain itu,penetapan atau pengambilan keputusan tentang perubahan kurikulum seringkali lebih condong pada kebijakan secara politik sehingga terkesan ganti menteri ganti kebijakan. Saya pribadi tidak setuju dengan kurikulum baru karena kesiapannya belum sempurna. Jadi, apakah kurikulum baru ini akan berhasil? Apa justru malah gagal? Apakah akan ada kurikulum baru lagi? Kita tunggu saja. Terimakasih telah membaca.

 

Shafira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>