A Friend Like Henry

Kisah yang mengharukan tentang bagaimana seorang anak lelaki kecil menghadapi autismenya dengan bantuan seekor anjing keluarga yang setia.

Autisme. Semua orang pasti pernah dengar tentang autisme. Autisme itu bukan sebuah penyakit, melainkan sebuah kondisi. Ini merupakan sesuatu yang sudah ada sejak lahir. Orang dengan sindrom autisme kadang mempunyai kesulitan dalam berkomunikasi dengan lingkungannya dan menunjukan perilaku yang berulang-ulang (melakukan sesuatu seperti ritual). Sindrom autisme ini biasanya berhubungan dengan kesulitan intelektual, kesulitan dalam koordinasi gerakan motorik dan memperhatikan sesuatu, serta menyangkut masalah kesehatan termasuk masalah jam tidur.

 

Harus saya akui bahwa saya sendiri hanya tahu sedikit tentang autisme. Saya sebagai orang awam hanya tahu autisme dari luar saja. Saya membaca keterangan-keterangan tentang ciri-ciri autisme dari dunia maya lalu memikirkan seperti apa kiranya anak yang mengalami hal tersebut. Sebenarnya saya sendiri pun tidak pernah menyimpan ketertarikan pada bidang ini.

 

Buku ini saya dapatkan dalam bentuk hadiah. Awalnya saya kurang tertarik karena genre bukunya non-fiksi (waktu itu saya sedang suka sekali buku ber-genre fiksi). Tapi setelah saya coba baca, semua diluar dugaan! Don’t judge a book by its cover! Buku ini ternyata enak dibaca. Banyak emosi yang kita rasakan saat membacanya—depresi, frustasi, patah hati, kegembiraan, kecemasan yang amat sangat dan lain-lain. Saat kita membacanya, kita akan merasakan apa yang dirasakan oleh keluarga Gardner dalam menghadapi anak mereka, Dale, yang mengalami autisme. Terutama, cerita ini berlatar tahun 80-an akhir, saat autisme masih segelintir orang yang tahu.

 

Sedikit cerita dari buku A Friend Like Henry

 

1268313James dan Nuala Gardner yang baru saja mempunyai anak yang lahir pada tanggal 13 Juni 1988, merasa khawatir karena anak mereka, Dale Gardner, lahir dengan bentuk kepala belakang yang pipih. Namun, mereka meyakini bahwa itu karena Dale lahir prematur. Seiring berjalannya waktu, Dale bertumbuh besar, tetapi tidak diikuti dengan kemampuan seperti anak pada umumnya. Misalnya, ketika mendapat mobil mainan, anak lain cenderung akan menirukan suara mobil sambil memainkannya maju-mundur. Lain dengan Dale, dia akan menjejerkan mobilnya dan merasa puas dengan hal itu. Dia pun mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Hal-hal yang sangat tidak wajar ini sangat dikhawatirkan Ibu Dale. Nuala pun membawa Dale ke berbagai macam profesional, seperti psikolog, psikiater, dokter pendidikan, dokter anak dan lain-lain. Namun tanggapan mereka semua sama, bahwa Dale punya kesulitan dalam berkomunikasi dan sang Ibu tidak mendukung perkembangan anaknya. Nuala sangat terpukul dengan pernyataan mereka, karena pada kenyataannya dia dan Nenek Dale akan selalu mengajak Dale berkomunikasi walaupun respon Dale sangat sedikit bahkan nihil. Di usia Dale yang mulai menginjak 2 tahun, Dale sama sekali belum berbicara. Nenek Dale akan selalu sabar dan penuh akal dalam mengajari Dale berbicara. Sampai pada akhirnya Dale mengucapkan “Pohon” sebagai kata pertamanya. Itu merupakan suatu celah harapan, bahwa sebenarnya Dale bisa belajar walaupun harus diulang berkali-kali. Nuala sangat gembira dengan kemajuan Dale, namun masih tetap khawatir karena perkembangannya yang sangat lamban. Suatu ketika Dale dibawa ke pesta anak-anak di sebuah asrama, lalu tiba-tiba saja Dale mengamuk dan membuat takut anak-anak lain. Dale dibawa keluar oleh Nuala, disusul oleh Jean, sang Ibu Asrama. Jean berkata bahwa dia pernah melihat hal yang serupa dengan kelakuan Dale barusan. Semua anak tersebut mengalami autis. Nuala sangat terkejut dengan pernyataan Jean walaupun dia belum pernah mendengar dan tahu apa itu ‘autis’. Tapi, dari namanya saja, itu bukan suatu hal yang menyenangkan. Sejak mendengar kabar dari Jean itu, Jamie dan Nuala Gardner hidup dalam ketidaktenangan, karena para profesional tidak ada yang mau memberikan hasil diagnosa yang menentukan Dale autis atau tidak. Namun, orangtua Dale akan tetap memberikan yang terbaik untuk anak mereka.

 

Cerita di atas hanya awal dari perjalanan hidup keluarga Gardner saat mengetahui apa yang dialami anak mereka. Bagian yang paling saya suka adalah ketika Dale akhirnya bisa belajar banyak dari anjing Golden Retriever yang Dale beri nama Henry, seperti nama salah satu kereta di film animasi Thomas the Tank Engine Show. Henry adalah tokoh kereta favoritnya, maka dia pun sangat sayang terhadap anjingnya. Dengan bantuan Henry, Dale bisa belajar apa saja. Berkomunikasi, membuat kontak mata, belajar buang air kecil di toilet, makan makanan yang sepantasnya, mandi, bahkan mengucapkan kalimat “I Love You”. Ketika Nuala mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Dale, betapa senang dirinya, karena dia tahu bahwa mengungkapkan perasaan adalah hal yang sangat sulit untuk diungkapkan anak autis. Sedangkan bagian yang paling mengharukan dan harus siap tisu adalah bagian akhir ketika Henry harus meninggalkan keluarga Dale.

 

Banyak yang pelajaran yang dapat kita ambil dari buku ini. Terutama dari Nuala Gardner, Ibu Dale. Dia rela melakukan segalanya demi mendobrak dan menghancurkan tembok pembatas antara dunia autisme Dale dengan dunia luar. Walaupun harus menerima tatapan-tatapan aneh dari orang lain, mendapat tanggapan para profesional yang memojokkannya, waktu dan tenaga yang tersita hanya untuk Dale serta percobaan bunuh diri karena sempat putus asa, semua itu dia lalui karena dia sangat sayang terhadap Dale. Sungguh besar kasih sayang seorang Ibu terhadap anaknya. Kalau jaman sekarang, sudah banyak orang yang bisa membantu perkembangan anak autis. Bayangkan pada jaman Dale dilahirkan. Hanya segelintir orang yang tahu, bahkan Nuala yang seorang perawat saja belum pernah mendengar kata itu. Tapi Nuala tidak mau berputus asa, dia tetap tegar dan mencarikan pendidikan yang bagus untuk Dale. Ketika pada akhirnya Dale dapat berkembang di usia remajanya, Nuala sangat bersyukur. Bagi Dale, balasan sebesar apapun atas jasa Ibunya, rasanya selalu belum cukup.

 

Well, this book is highly recommended! Terutama bagi yang ingin tahu bagaimana kehidupan yang dijalani sebuah keluarga yang memiliki anak dengan autisme. Memang, buku ini bukan satu-satunya buku yang mengangkat tema tentang autisme, tapi merupakan salah satu dari yang terbaik dan kita pun menjadi banyak tahu tentang autisme.

 

Maysari A.P

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *