“Anak Muda Tawarkan Masa Depan”

image

Kurikulum 2013. Bagi siswa ataupun siswi jaman sekarang, pasti sudah tidak asing lagi bahkan sampai bosan mendengar kata-kata tersebut. “Siswa dituntut lebih aktif…”, “Ingat, guru hanya sebagai fasilitator”, “utamakan belajar dahulu sendiri”, dan kata-kata lainnya telah berulang kali kerap didengar oleh murid-murid sd, smp, dan sma. Sebagai seorang pelajar, saya juga merasakan ‘jatuh-bangun’ akibat perubahan dari ktsp ke kurikulum 2013 ini. Terkadang, mendengar ataupun membaca sebuah perdebatan tentang kurikulum ini pun sedikit menjenuhkan. Namun kali ini, saya cukup bersemangat untuk membahas topik ini.

Kita mulai dari bagian pro. Di tingkat sekolah dasar, pelajaran bahasa inggris dihapuskan akibat kurikulum ini. Positifnya, memang anak-anak Indonesia akan lebih menangkap dan mempelajari ‘bahasa ibu’ kita sendiri dengan lebih baik. Baru kemudian, di tingkat smp dan seterusnya mereka dapat belajar bahasa asing sebagai kebutuhan bersaing di era globalisasi yang akan terus berlanjut. Selain itu, sesuai dengan tujuan awalnya, kurikulum ini juga membuat siswa lebih semangat untuk aktif dalam diskusi kelas dan meningkatkan inisiatif dalam pembelajaran. Karena menuntut siswa untuk lebih aktif dan menggunakan sistem penilaian yang tidak hanya mengandalkan teori, menurut saya, siswa pun terdorong untuk cenderung lebih mengekspresikan pehamannya masing-masing dan tidak lagi memakai nilai yang tinggi saja sebagai target utamanya belajar. Hubungan antara guru dan murid pun akan cenderung lebih ‘hidup’ karena aktifnya interaksi di antara keduanya. Jelas ini merupakan hal positif yang kita dapatkan.

Namun, tak dapat dielakkan bahwa sebagian masyarakat berada di pihak kontra atas topik ini.
Pertama karena ada beberapa mata pelajaran yang dihapuskan sehingga banyak guru yang mengajar mata pelajaran yang bersangkutan kesulitan memenuhi wajib mengajar 24 jam-nya. Guru-guru tersebut pun harus dialihkan mengajar mata pelajaran lain atau pindah ke sekolah lain agar tetap dapat mengajar. Bahkan tidak sedikit guru yang bingung akan dipindahkan ke posisi apa karena kurangnya jam wajib mengajar tadi.

Kedua, masih dalam soal guru, pengarahan tentang kurikulum 2013 agak sulit merata ke seluruh daerah sehingga ketika pengisian rapot siswa ataupun kbm di kelas masih ditemukan beberapa kendala. Ketiga, di sekolah dasar, penggabungan bahasa indonesia dengan IPA menjadi satu mata pelajaran masih sedikit membingungkan para guru yang mengajar.

Terakhir, ada beberapa materi yang agak berantakan karena diubah-ubah letak tingkatannya dan cenderung agak membingungkan saat pembelian buku sebagai acuan. Misalnya pada matematika kelas 11, ada materi irisan dan kerucut yang awalnya pada ktsp tidak ada. Beberapa guru pun sempat bingung karena ada beberapa materi fisika misalnya, pada tingkat tertentu dihilangkan atau diskip ke tingkat berikutnya. Tingkat kesulitan materi-materinya pun agak lebih berat. Bahkan materi yang harusnya dipelajari di tingkat sma, sudah ‘turun’ diajarkan di tingkat smp. Mungkin dalam beberapa kasus ini cukup baik karena akan menyiapkan siswa lebih matang untuk bertahan dengan materi yang agak sulit dengan belajar lebih mandiri ketika di kuliah nanti. Namun juga hal ini sering sekali membebani siswa. Terkadang saya cukup sedih memikirkan kurangnya waktu seorang anak berkumpul dengan keluarganya bahkan di saat weekend karena harus mengikuti les ini itu demi mengejar prestasi di sekolah. Saya pribadi, terkadang pulang sampai rumah bersamaan dengan ayah saya yang pulang dari kantor jam 10 malam, karena harus les. Jika terbiasa, mungkin tidak masalah. Tetapi tetap saja, remaja juga butuh waktu bermain dan menikmati masa remajanya yang tidak lama. Karena nantinya, tidak akan terulang kembali.

Ada sebuah kutipan seperti ini; “life is what happens while you’re busy making plans.” So, kerja keras demi masa depan itu harus, tetapi jangan lupa untuk sesekali berhenti sebentar dan nikmati apa yang sedang terjadi. Do what we love, and love what we do. Itu sih menurut saya kunci sukses dalam mengerjakan apapun. Karena jika kita enjoy, insyaAllah pekerjaan apapun akan lancar.

Saran saya, untuk pemerintah mungkin akan lebih baik jika sebelum diterapkan secara meluas ke sekolah-sekolah di Indonesia, ada baiknya jika kurikulum 2013 ini diuji coba terlebih dahulu di beberapa sekolah mulai dari sd, smp, dan sma. Lalu dicatat dan diatur sedemikian rupa agar dari segala aspek siap diterima oleh masyarakat dan hasilnya tidak setengah-setengah.

Yap itu dia pro-kontra yang saya tangkap selama ini. Setelah pergantian kabinet baru di pemerintahan, kurikulum 2013 dihapuskan di beberapa sekolah, kecuali untuk sekolah yang telah 3 semester menjalaninya. Termasuk SMAN 81 Jakarta. Ya, salam semangat aja untuk semua! Seberapa pun kita merasa lelah, sesungguhnya akan ada buah manis yang dapat kita petik dari jerih payah kita di ,asa depan. Semoga berangkat ke sekolah di saat masih gelap dan kembali ke rumah saat matahari telah terbenam karena menuntut ilmu adalah permulaan dari kesuksesan kita nantinya, aamiin. :-)

Ada satu lagi kutipan yang saya suka, kali ini dari menteri pendidikan kita saat ini; Anies Baswedan.

image

Annisa Maulidina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *