Bangkit Itu… (Bagian I)

Bermula dari:

 

Bangkit itu susah, susah melihat orang lain susah, senang melihat orang lain senang.
Bangkit itu takut, takut korupsi, takut makan yang bukan hak nya.
Bangkit itu mencuri, mencuri perhatian dunia, dengan prestasi.
Bangkit itu marah, marah bila martabat bangsa dilecehkan.
Bangkit itu malu, malu jadi benalu, malu karena minta melulu.
Bangkit itu tidak ada, tidak ada kata menyerah, tidak ada kata putus asa.
Bangkit itu aku, untuk Indonesiaku.

—Deddy Mizwar

 

Tak sekedar tertulis tanggal 20 Mei yang tertera pada tiap kalender yang ada untuk kegiatan seremonial belaka dalam menyambut Hari Kebangkitan Nasional, walaupun sudah berlalu pula tanggal 20 Mei 2013 itu, sudah bersyukur masih ada motivasi dengan adanya tanggal 20 Mei sebagai reminder untuk kita, bangsa Indonesia. Namun, bukan reminder lagi yang dibutuhkan saat ini! Bangkit yang sesuai untaian sang sutradara dari beberapa film nasionalis ini layak dijadikan landasan kita tuk “wake up!” Terbayang olehku, jika tiap dari kita punya emosi yang cerdas dalam menyerapnya, bisa mantap negara kita. Ups, sebaiknya jangan terlalu luas dulu hingga ke tingkat negara, yuk diperkecil ke lingkungan kita. Jika kita berbicara tentang negara maka tak jauhlah dengan politik, lalu politiklah yang paling dekat dengan keseharian kita, dan biasanya jauh dari benak pemuda, hohoho #jujur, padahal kita hidup di atas keputusan-keputusan politik, keseharian kita ialah hasil dari keputusan politik nih.

 

“Knowing, Planning, Act!”

 

Yup, semboyan itu harus jadi patokannya tiap kali mau bangkit! Apalagi mau merubah. 😀

 

Knowing

 

Bangkit itu susah, susah melihat orang lain susah, senang melihat orang lain senang.

 

Yap, bisa susah melihat orang yang kesusahan. Merasa berada di posisi mereka tentulah bukan hal mudah jika tak pernah merasakan secara langsung, apalagi jika kita sering berada di ‘atas’, namun salah satu kegiatan di 81 sangat mendukung bung Deddy Mizwar ini, yaitu Trip Observasi. Yuk bernostalgia dengan kisah itu. Bisa dikategorikan susah jika dibandingkan dengan kehidupan kita yang serba ada di kota, dengan segalanya yang instan maka disebutlah mudah bagi kita yang hidup di kota. Namun, kita dibawa ke kehidupan lain dengan memasak sendiri, mempersiapkan mandi sendiri, buang air harus hijrah dulu dari tempat tinggal, tak berlistrik, suasana lembab, dekat dengan rawa, dan hal susah lain yang masih banyak lagi. Lagi-lagi berbicara soal pemuda, termasuk saya, yang jika menanggapi persoalan seperti ini akan muncul dua opsi, apakah ia akan menuntut perubahan atau menciptakan perubahan. Ya, sungguh berwarna-warni sikap kita saat Trip Observasi pastinya, ada yang selalu berkomentar dalam menuntut perubahan di daerah setempatnya dengan menggerutu, mengeluh, tak suka lah, dan lain-lainnya, namun ada pula yang berdiskusi mencari solusi bagaimana membangun daerah itu, bahkan ada yang menciptakan perubahan langsung di sana yang diawali dengan diskusi langsung mencoba dengan membantu orang setempat melakukan sesuatu, dll. Namun, semua kegiatan yang berlangsung pada Trip Observasi 81 tetaplah bermuara pada membentuk pemuda yang bersolutif membangun, responsif dengan lingkungannya, dan bertindak cepat menghadapi sesuatu baik itu dengan teman satu angkatan maupun dengan warga di daerah tempat tersebut.

 

Tak hanya di Trip Observasi, jika ditelusuri lebih luas lagi di daerah kota yang dekat dengan lingkungan kita masih banyak yang susah, walaupun mereka ada yang terlihat senang dalam aktivitasnya, mereka berhak mencoba kemudahan kehidupan kita. :-)

 

Let The Picture Speaks

 

Jika kita mampir ke salah satu trotoar…

 

GBR1

 

Jika kita mampir ke salah satu lintasan rel kereta api…

 

GBR2

 

Jika kita mampir ke salah satu ‘kota lain’ di dalam kota…

 

GBR3
GBR4

 

Dan pastinya masih banyak lagi penampakan yang kondisinya tidak semudah kehidupan kita. :-)

 

Semua gambar di atas bersifat meaningless kalau sekedar diliat, tanpa adanya rasa susah melihat orang lain susah, tetaplah gambar-gambar di atas hanya sekedar pajangan.

Memang susah rasanya susah melihat orang lain susah, sebelum kita susah lebih baik kita susahkan tuk mereka yang susah. 😀

 

Lalu, senang tuk melihat orang lain senang, seperti mudah tuk diucap namun sering sulit tuk dilaksanakan apalagi tuk melihat orang yang kita benci ditambah lagi jika karena hal sepele lah yang membuat rasa benci itu, it’s the truth definition of “lebay”. Yup, iri yang bersifat lebaylah yang menjadi bibit tak senang itu. Dan memang segala sesuatu yang berlebih pula sering tak membuahkan yang sesuai harapan. Alhamdulillah, bahkan dalam sudut pandang Islam memang telah dipastikan bahwa manusia berlebihan!

 

Q.S. Al-‘Alaq [96] : ayat 6 [96:6] Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.

 

Q.S. Asy-Syuura (Asy-Syura) [42] : ayat 42 [42:42] Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.

 

Yap, mudah-mudahan kawan pembaca bisa self-talking tentang hal ini, lagi-lagi bagi seorang muslim ayat di atas bisa menjadi sebuah kalimat semata, meaningless pastinya, dan timeless/buang waktu jika tak diresapi yang menjadi introspeksi diri, dan hati-hati bisa tak teresapi jika pembaca muslim telah ‘buta’. 😀

 

Itulah penjelasan secuilku. Tentang susahnya, senangnya, dilanjut kelak takut, mencuri, marah, malu, menyerah, hingga ‘AKU’-nya pada BANGKIT.

 

Hal yang membuat kita tidak mau melakukan hal yang benar hanyalah kita menolak untuk menerima konsekuensi” —Pandji Pragiwaksono

 

Bersambung

 

Luthfi Abdur Rahim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *