Bus-Way, bukan Car-Way!

busway

 

Butuh waktu beberapa saat untuk saya memahami maksud foto di atas, ketika saya pertama kali melihatnya di suatu media social. Reaksi pertama saya ketika melihat foto diatas—tentu, sudah jelas—tertawa.

 

Mengapa saya tertawa?

 

Karena masyarakat kita—khususnya masyarakat Ibukota—masih belum mengerti esensi sebenarnya dari sebuah peraturan!

 

Tentu kalian semua disini sudah tahu—atau setidaknya pernah dengar—tentang kebijakan baru Pemprov DKI Jakarta berhubungan dengan sterilisasi jalur Transjakarta (ingat, namanya Transjakarta, bukan busway :p ), di mana jalur tersebut harus selalu steril dari kendaraan-kendaraan roda empat maupun roda dua selain Transjakarta. Apabila melanggar? Sanksinya lumayan bikin muka tertekuk. Denda Rp 1.000.000 bagi pengguna mobil dan Rp 500.000 bagi pengguna sepeda motor.

 

Tapi, apa yang terjadi pada gambar di atas?

 

Terlihat jelas ada seorang polisi lalu lintas yang berjaga di ujung jalur Transjakarta, sambil menggenggam sebundel surat tilang. Di sebelah kanannya, terlihat lalu lintas macet total, tidak bergerak. Sangat kontras dengan tetangga sebelahnya, jalur Transjakarta yang kosong melompong.

 

Bukan, bukan kosong melompong!

 

Jika kalian perhatikan baik-baik, Kira-kira belasan sepeda motor tampak menumpuk, berhenti total pula, tanpa bisa bergerak maju ke depan. Suatu pemandangan yang aneh memang. Kita sudah biasa melihat para pengendara motor yang langsung banting setir, putar balik arah apabila bertemu polisi lalu lintas di jalan raya. Kita sudah biasa pula melihat para pengendara motor yang tiba-tiba memenuhi arah berlawanan dengan wajah tegang dan membuat kita bergumam, “Oh, pasti ada polisi…”

 

Lalu, kenapa skenarionya berbeda di sini? Kenapa sepeda motor-sepeda motor itu tidak membanting setirnya ke arah lain?

 

Tentu karena ada si empunya jalur yang asli menunggu tepat di belakang si pencuri jalur!

 

Pilihan yang dimiliki oleh para pengendara sepeda motor (atau pencuri jalur) sekarang cuma dua: ditilang polisi dan didenda lima ratus ribu atau tetap mundur dan terlindas si Transjakarta.

 

Sungguh pilihan yang tidak menyenangkan. :p

 

Di sinilah saya kembali lagi kepada apa yang saya sebutkan di atas:

 

Masyarakat kita masih belum mengerti esensi sebenarnya dari sebuah peraturan.

 

Apa tujuan para penegak hukum menetapkan sebuah peraturan? Tentu, agar tercipta sebuah keteraturan dan keserasian di segala aspek kehidupan masyarakat. Agar masyarakat dapat memahami bahwa setiap perbuatan yang mereka lakukan akan mendapat pertanggungjawaban. Agar peraturan tersebut dapat menjadi alat control diri sekaligus ‘rem’ dari tindakan-tindak menyimpang. Dalam hal ini, jalur Transjakarta yang harus steril dari gesekan roda empat dan roda dua.

 

Memang, pada awal peraturan ini resmi ditetapkan dan pada saat polisi mulai ditempatkan di setiap jalur Transjakarta pada jalan-jalan protokol ibukota (dengan dilengkapi sebundel surat tilang, lebih tepatnya), reaksinya gila-gilaan. Macet sana-sini. Tidak bergerak sama sekali. Thamrin ke Buaran tigas jam. Protes sana-sini.

 

Tapi, itulah masa sosialisasi. Layaknya seorang siswa SMP yang baru memasuki jenjang pendidikan baru, pendidikan SMA, siswa tersebut pasti akan mengalami masa-masa suram bernama masa sosialisasi. Masa di mana siswa tersebut mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, ketentuan baru. Masa di mana sang siswa perlu waktu cukup lama untuk melupakan kebiasaan-kebiasaannya di SMP dulu.

 

Tapi, setelah masa suram itu berakhir, tentu sang siswa akan terbiasa dengan lingkungan barunya, merasa nyaman dan lambat laun mulai menyadari bahwa peraturan-peraturan di sekolah barunya itu bermanfaat untuk dirinya sendiri.

 

Sama halnya dengan persoalan kita menyangkut sterilisasi jalur Transjakarta. Saya mendukung 100% peraturan baru Pemprov.

 

Saya sudah jenuh—mengarah ke muak—melihat mobil-mobil dan motor-motor yang merampas jalur Transjakarta dapat tiba lebih dulu di tempat tujuan daripada mobil-mobil dan motor-motor yang menunggu dengan tertib di jalurnya sendiri. Hey, ini Bus-way, bukan Car-way, atau bahkan Motorcycle-way!

 

Sudah waktunya masyarakat Jakarta bersikap disiplin, setelah dimanjakan bertahun-tahun. Sudah waktunya masyarakat Jakarta memiliki kesadaran sendiri, bahwa peraturan ini akan membawa dampak baik bagi mereka sendiri nantinya.

 

Hey, No Pain No Gain, right?

 

Selamat malam PIDAS! 😉

 

Allya Mahira (nametag)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *