Denda Saat Melintasi Jalur Busway, Efektif atau…?

Beberapa minggu yang lalu sempat ramai diperbincangkan tentang sterilisasi jalur busway yang katanya jika kita melintasi jalur busway akan terkena denda, (motor Rp 500.000 kalau mobil denda Rp 1.000.000). Hal itu tentu saja mengundang berbagai reaksi dari kalangan masyarakat, ada yang setuju namun tak sedikit pula yang menentang kebijakan tersebut.

 

Seperti biasa banyak di antara mereka yang berpendapat bahwa kebijakan ini tak akan memberikan dampak yang signifikan untuk steril atau tidaknya jalur busway, karena mungkin saja banyak masyarakat yang menyepelekan kebijakan dan denda yang diberikan, sedangkan beberapa diantara mereka cenderung mendukung dan berpendapat bahwa hal ini bisa saja menyebabkan masyarakat lebih disiplin karena denda yang diberikan cukup besar.

 

Menurut saya pribadi, kebijakan pemerintah yang satu ini cukup masuk akal mengingat bahwa banyak kendaraan lain-khususnya angkutan umum-yang menggunakan jalur busway agar mereka terhindar dari kemacetan-apalagi jika mereka sedang mengejar setoran-. Hal ini seringkali mengganggu para supir busway sekaligus penumpangnya, karena sebagian besar dari mereka memilih untuk menggunakan busway agar tidak terjebak kemacetan, namun jika pada kenyataannya kendaraan umum dapat menggunakan jalur basway seenaknya, apa bedanya busway dengan angkutan lainnya?

 

Sejujurnya, yang paling mendasar adalah tentang kedisiplinan dan bagaimana masyarakat di Jakarta menaati kebijakan yang dikeluarkan pemerintah saat ini. Sebagai contoh, dahulu sempat dibuat palang yang dapat menutup otomatis bila kendaraan selain Transjakarta melewati jalur busway, namun saat ini palang tersebut kebanyakan sudah tidak berfungsi bahkan beberapa telah patah, hingga akhirnya beberapa petugas Transjakarta berdiri di sekitar palang untuk menghalangi pengemudi lain yang berniat memakai jalur busway. Contoh lain adalah “keistimewaan” yang dimiliki oleh “pejabat” yang dapat dengan seenaknya menggunakan jalur Transjakarta untuk kepentingan pribadi. Saya pernah bertanya kepada salah satu supir Transjakarta dan ternyata responnya hanya tersenyum sambil bergumam, “Liat aja platnya, Ddek.” Saat itu saya hanya bisa tersenyum karena bingung harus merespon seperti apa sekaligus merasa miris dengan orang-orang yang seharusnya memberi contoh malah melanggar kebijakan tersebut.

 

Kembali pada kebijakan pemerintah pertanyaan saya hanya satu, apakah kebijakan ini akan terus berlanjut atau hanya akan seperti kebijakan-kebijakan yang sebelumnya? Karena sejujurnya kebijakan ini sudah cukup baik bila diterapkan dengan sama baiknya, kebijakan ini secara tidak langsung mengubah pola pikir masyarakat karena mereka tidak ingin kehilangan uang mereka begitu saja-dengan jumlah yang relatif lumayan-hanya karena melalui jalur Transjakarta. Namun, jika penerapannya hanya diawal dan selanjutnya dilupakan seperti yang sudah-sudah saya tidak tahu harus mengatakan apa. Mungkin akan lebih baik jika kita memulai kesadaran dari diri sendiri untuk tidak melanggar peraturan, toh tidak ada ruginya menjadi orang yang taat akan peraturan.

 

Zakiya Zulviyanda (nametag)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *