Every Human Being Has Rights

vkfdfdkvlb

 

Hai semua! Sudah pernah dengar istilah LGBT belum? Mungkin masih ada beberapa orang yang belum tahu dan bertanya-tanya, “Apaan sih LGBT itu?”. Untuk yang belum tahu, LGBT itu adalah akronim dari lesbian, gay, biseksual dan transgender. Nah, kalau sudah liat kepanjangan nya pasti tahu kan? Ya, Istilah-istilah tersebut memang sering kita dengar dari televisi, koran dan atau majalah. Bisa dibilang kita sudah tidak asing lagi mendengar nya.

 

LGBT sebenarnya sudah lama ada. Namun untuk istilah LGBT sendiri baru dikenal di Amerika pada tahun 1988 dan baru banyak digunakan secara universal tahun 1990-an. Lesbian atau gay dulu lebih dikenal dengan istilah ‘gender ketiga’. Singkatan LGBT ini pun sendiri sering diubah susunan hurufnya. Ada yang menyebutnya LGBT dan ada juga yang lebih suka menyebut GLBT. Meskipun maknanya sama, “LGBT” punya konotasi yang lebih feminis dibanding “GLBT” karena menempatkan “L” terlebih dahulu.

 

Mereka dari golongan LGBT biasanya tertutup dan enggan menonjolkan diri di tengah-tengah masyarakat luas. Itu gak mengherankan sih, karena sampai sekarang keberadaan mereka masih menimbulkan sinisme di masyarakat. Meskipun begitu, kini mereka sudah mulai mencari jenisnya dan membentuk komunitas tertentu yang mulai memperlihatkan jati diri mereka yang sebenarnya. Mereka sudah mulai terang-terangan berkumpul di suatu tempat. Di banyak tempat di Indonesia, mereka kadang berkumpul di tempat-tempat malam seperti diskotik atau klu-klub malam dan mengadakan party khusus orang-orang sesamanya. Akses internet juga menjadi fasilitas penghubung yang mempermudah mereka untuk mencari teman sejenisnya.

 

Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang bisa menjadi lesbian atau gay bisa dibilang cukup banyak. Misalnya karena ada perpecahan dan kekerasan dalam keluarga dimana individu tersebut melihat ayah/ibunya berperilaku kasar sehingga ia merasa semua wanita/pria berperilaku kasar. Lingkungan sekitar juga sangat mempengaruhi. Misalnya individu yang suka bergaul dengan teman yang gay atau lesbian lalu merasa nyaman dan akhirnya menjadi seorang gay atau lesbian. Pengalaman pahit atau menyakitkan juga bisa juga menjadi faktor. Misalnya seseorang disakiti oleh orang yang mereka sayangi dan menjadi trauma untuk berhubungan dengan lawan jenis sehingga akhirnya berpindah haluan ke sesama jenis. Selain itu ada juga faktor dari dalam diri individu. Ia merasa tidak percaya diri dengan keadaan nya yang sekarang dan lebih nyaman ketika berperilaku dan bergaya seperti lawan jenis.

 

Banyak sekali pro dan kontra yang timbul ketika membahas masalah LGBT. hal tersebut tentunya disebabkan oleh perbedaan persepsi setiap individu. Misalnya LGBT dilihat dari sisi keagamaan. LGBT dinilai salah dari sisi ini karena LGBT menyalahi kodrat manusia yang telah memiliki jenisnya masing-masing. Padahal Tuhan telah menciptakan segala sesuatunya itu secara berpasang-pasangan (pria dan wanita). LGBT dari segi sosiologi juga dianggap salah karena dinilai sebagai perilaku menyimpang dimana seseorang bertindak secara tidak sesuai dengan apa yang harusmya ia perankan dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Saya sendiri juga sebenarnya sangat tidak setuju dengan adanya LGBT. Tetapi, sebenci apapun kita kepada mereka, kita juga harus bertoleransi bukan? Banyak yang sering memperlakukan mereka secara gak adil dan gak manusiawi. Bahkan tak sedikit yang memperlakukan mereka seperti binatang. Mereka (dari golongan LGBT) biasanya dikucilkan oleh masyarakat sekitar dan bahkan tidak jarang dihina-hina secara frontal dengan kata-kata yang kasar. Memang sih mereka telah melakukan hal yang sangat salah dan menyimpang, tapi bukan berarti mereka bukan manusia. Harusnya kita sekedar menasehati atau menyadarkan mereka atau bahkan mengajak mereka untuk terapi psikologis. Kalau memang kita gak suka melihat perilaku mereka, ya, sekedar menjaga jarak aja dari mereka tapi gak perlu mencela mereka. Kasihan juga kan mereka kalau dijauhin plus dicaci maki juga. Tapi toleransi pun ada batasnya, kita juga tetap harus memperteguh diri supaya gak ikut-ikutan berperilaku menyimpang seperti mereka.

A word so hateful, some would rather die than to be who they are.

Kutipan tersebut bisa dibilang mencerminkan kehidupan para LGBT yang merasa putus asa dan desperate karena celaan dan orang-orang yang tidak suka dengan keberadaan mereka. Mereka kadang berpikir lebih baik mati daripada hidup jadi diri sendiri tapi dicela terus sama orang lain. Kita mungkin emang gak setuju sama sikap mereka yang menyalahi kodrat. But, hey, we’re not God, we don’t have any rights to judge them. Lagipula, mungkin jauh di dalam lubuk hati, mereka juga gak mau jadi kaya gitu tapi mungkin keadaan yang memaksa mereka. Bagaimanapun juga mereka juga manusia. Derajatnya sama dengan kita. Hanya Tuhan yang derajatnya paling tinggi. Jadi kalau misalnya perilaku mereka memang salah biarkan aja Tuhan yang menilai, kita gak perlu repot-repot mengusik hidup mereka kan? :)

 

Windi Huliana 2

One thought on “Every Human Being Has Rights

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *