Gak Ada Prom Night? Gak Apa-apa Kok!

 

Jujur saja, saya juga masih belum paham betul yang namanya prom night, sekilas saya membaca, prom night adalah acara terakhir untuk mengenang masa-masa SMA dengan merayakannya dengan pesta di malam hari, yah, namanya juga prom night. Peringatan malam terakhir ini sudah masuk sebagai agenda khusus angkatan kelas 3 SMA yang mau lulus dari sekolah.

 

Karena masih kelas 1 SMA, jadi hanya mendengar desas-desus perayaan prom night di Indonesia. Perayaan ini adalah adaptasi dari budaya barat yang masuk ke Indonesia. Entah bagaimana awal dari budaya prom night ini. Tetapi peristiwa ini sudah sedemikian rupa dilaksanakan oleh siswa-siswi yang hendak melanjutkan studi pada akhir tahun.

 

Dari tempat asal pesta malam ini, dirayakan amat sangat meriah. Bagaimanapun caranya agar pesta ini begitu mengenang di diri masing-masing siswa baik sedih, senang, haru, malu, sampai yang aneh-aneh. Ambil saja contoh, prom night dirayakan dengan mengenakan pakaian semeriah mungkin. Namanya juga pesta harus tampil cantik, anggun, narsis, pokoknya fashionable. Sementara kegiatannya sendiri entah apa namanya dan banyak sekali, dan tidak ada guru yang mengawasi jalannya pesta tersebut. Bahkan setiap prom night yang diselenggarakan sekolah bisa berbeda-beda. Tapi biasanya ada momen ngumpul-ngumpul, makan bersama dan dansa-dansi masuk to-do-list di acara tersebut. Sampai yang paling parahnya pernah terjadi masalah yang sampai mereggut nyawa siswanya sendiri.

 

Dari sudut pandang saya, mengenai pesta kelulusan ini terlalu berlebihan, karena melihat dari budayanya yang masih menerapkan adat istiadat. Kata Ibu saya, tidak ada dulu itu pesta-pesta malam begitu. Pasti dimarahi orang tua habis-habisan. Sedangkan paham Indonesia bertolak belakang dengan paham negara barat sebagai penganut paham liberalisme, prom menurut mereka adalah simbol kebebasan mereka setelah menyelesaikan studi.

 

Namun, sejak adanya zaman globalisasi, di mana dalam suatu lingkup sekolah tidak ada lagi diskriminasi terhadap segala bentuk ras, agama, dan budaya. Mudahlah budaya baru untuk masuk ke Indonesia. Dari yang baik sampai yang buruk, dan prom ini termasuk yang kurang baik menurut saya. Sebagai anak yang masih dibimbing dan dibiayai oleh orang tua di masa puncaknya dalam mencari “identitas diri”. Siswa-siswi mudah sekali terpengaruh oleh banyak hal. Segala hal yang baru dan asing mau dicoba, demi mendapat identitas diri tersebut.

 

Hanya uniknya mereka tidak sendiri-sendiri tetapi proses pendidikan karakter (character building) mereka dialami bersama-bersama sealmamater, siang malam dan berbaur secara suku, agama dan ras.

 

Sebagai solusi, promenade night ini menurut saya tidak ada dampak khusus bagi yang melaksanakan atau tidak. Dan boleh saja digantikan dengan kegiatan yang berdampak positif dan lebih menonjolkan sikap solid seangkatan. Daripada repot-repot buang-buang uang untuk membeli dress dan outfit mahal untuk sebuah malam. Akan lebih mengenang jika bertukar hadiah atau perpisahan biasa seperti menginap atau rekreasi bersama. Setidaknya itu lebih aman dibanding keluar malam-malam hanya untuk joget-joget tidak jelas dan mencari pamor di malam terakhir.

 

Jadi, saya melihat gaya hidup anak sekolah sekarang ini berkisar antara prom night, sportaiment, narsis dan fashion. Tapi di balik itu semua, mereka juga sepakat mengatakan, “We are not the best, but we are going to be the best for our school and friends”. Sebab di balik gelora jiwa mereka yang membara, ada hal yang wajib mereka jadikan gaya hidupnya yaitu prestasi akademis dan succesful in life.

 

Nisrina Nurafifah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *