I Skipped A Hurdle!

Halo, P-assengers!

Pertama-tama karena gue anggota baru di PIDAS, gue mau perkenalan diri dulu nih. Nama gue Aurellia Quincy, akrab dengan sapaan Icy (bacanya bukan aisi), dan gue dari Departemen Daring! Dalam artikel ini, gue mau berbagi sedikit tentang impian gue.

 

“Kamu mau jadi apa?”

To this day, gue masih sering ditanya seperti itu, bahkan sama ibu gue sendiri. Pas kecil, gue selalu gonta-ganti jawaban kalau pertanyaan itu muncul. Pas TK, jawabnya pelukis. Pas SD, jawabnya fotografer. Sejak SMP hingga detik ini, gue pengen jadi chef.

Setelah gue menggabungkan semua garis-garis dalam hidup gue dengan waktu yang cukup lama, passion gue ternyata ada di seni, buat sekarang lebih tepatnya culinary arts. Dari kecil, gue demen banget yang namanya nonton Junior Masterchef. Kok bisa umur 9 tahun udah jago masak? Usia semuda itu kok udah bisa kerja di restoran? Setelah itu, gue bener-bener tertarik banget sama yang namanya masak.

Datanglah pertanyaan itu lagi, kali ini dari keluarga besar, “Kamu mau jadi apa?”

Gue jawab tanpa ragu-ragu, “Jadi chef.”

Sontak, semuanya kebingungan. Ibu, adeknya, dan saudara gue dokter, kakak gue dosen, ayah gue arsitektur. Semua kakak dan saudara gue ngambil jurusan teknik atau kedokteran pas kuliah. Ya, gue memang ga sepinter kakak-kakak gue, tapi kok gue melenceng jauh? Pertanyaan berikutnya pun dilempar lagi,

“Kenapa mau jadi chef?”

“Kenapa ngga jadi dokter aja?”

Gue diem aja. Ini nih yang ga gue suka, stereotypes. Dalam hidup gue, gue sering banget ditimpa sama pertanyaan-pertanyaan yang berbau stereotypes bahwa gue harus masuk teknik atau kedokteran biar keliatan pinter. Bahkan, saat gue minta ibu gue masuk SMK jurusan Tata Boga, gue ditolak keras, “Mama aja ga kebayang punya anak masuk SMK.” Sakit hati? Pasti. Apa salahnya gue pengen banget mengejar cita-cita gue? Masuk SMK bukan berarti itu tempatnya orang-orang yang kurang pinter. 

Yaudah deh, masuk IPS aja, aku jelek di hitungan.”

Ga dibolehin juga, katanya “Jangan dulu lah, coba dulu di IPA.”

Tapi masa itu sudah berlalu. Baru aja satu hurdle yang udah gue lewatin. Sekarang, semua anggota keluarga gue support gue jadi chef. Target gue ambil culinary school ke Australia juga direstuin. Gue udah bisa beradaptasi dengan baik di kelas IPA, bahkan seneng banget masuk IPA. Sampe sekarang masih ga suka menghitung sih, makanya pelajaran kesukaan gue itu cuma Biologi!

 

“5-10 tahun kedepan, kamu ingin gambaran hidupmu seperti apa?”

Memakai topi koki, celemek, punya restoran yang berjalan lancar atau kerja di hotel bintang 5, dan menghidangkan makanan-makanan gue ke masyarakat sekitar, tak lupa juga keluarga gue sendiri. Kalaupun gue ga ditakdirkan buat jadi chef, gue tetep mau punya penghasilan yang baik nantinya, karena itulah sebenernya impian utama gue di hidup. Gue pengen buktiin kalau mau jadi orang sukses, itu ga harus ambil profesi bergengsi seperti dokter, karena itu stereotype yang paling sering gue denger dari orang tua. Kita semua mampu dan bisa berprestasi dalam bidang yang kita tekuni, percaya bahwa bidang itu merupakan kebahagiaan kita, passion kita yang ingin kita kembangkan dan terapkan terus dalam kelangsungan hidup kita.

Sedikit demi sedikit, gue udah bisa membuktikan kalau gue bisa berprestasi dalam bidang non-akademis. Gue sekarang jadi Ketua Komisi 2 di MPK, dan waktu pelantikan gue yakin ibu gue bahagia gue mampu menjadi pengurus organisasi di SMAN 81. Tak lupa juga menjadi bagian dari tim Incredible, yang dari kelas 10 gue pengen banget masuk PIDAS, sampe semua temen gue tau kalo gue mempunyai keinginan tinggi masuk Daring. Alhamdulillah, sekarang tercapai.

Buat temen-temen gue yang baca ini, apapun cita-cita dan impian mu, jangan pernah berfikir untuk berhenti berusaha mewujudkan apa yang kalian inginkan atau capai hanya karena sebuah halangan. Bagaikan sebuah hurdle, kalian harus bisa melompati atau melewati apa yang menghalangi kamu untuk sampai ke tujuan akhir. Kejar terus karir impian mu, lakukan semuanya yang kalian mampu dengan tekad yang kuat dan semangat yang tak pernah mati membara.

2

Telah sampailah akhir kata untuk artikel gue kali ini! Terima kasih banyak semuanya yang bikin gue memungkinkan untuk menulis artikel di web PIDAS ini. Shout-out buat temen-temen, partner gue yang selalu dukung gue dan terus memotivasi gue biar sampai ke titik puncak dalam hidup gue sejauh ini! Sekian dan terima kasih telah membaca!

 

Salam hangat,

Aurellia Quincy

One thought on “I Skipped A Hurdle!

Leave a Reply to Afra Khairunissa Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *