Indonesia Butuh Presiden Baru

Wah, 2014 bakal ada PEMILU buat milih Capres dan Cawapres. Di TV, lagi rame-ramenya ngomongin Bapak Jokowi yang bakal dicalonkan jadi presiden, tapi ada kontra yang bilang kalau Jokowi belum berhak dicalonkan karena enggak sesuai kontrak.

 

Sejauh ini, orang mengatakan bahwa presiden terbaik adalah presiden pertama kita, Bapak Soekarno dan wakilnya, Bapak Hatta. Semua orang menginginkan orang yang seperti mereka untuk jadi presiden kita, bukan orang yang giliran kampanye sampai sewa stasiun TV dan segala macam, waktu menjabat jadi Presiden malah invisible. Kira-kira mungkin enggak, sih?

 

Sebenarnya sepengelihatan saya, beda zaman, beda presiden. Mungkin kinerja Pak Karno bagus di tahun 70-an, tapi siapa yang bisa jamin beliau mampu mengatur setiap wilayah di Indonesia yang makin kesini makin berantakan?

 

Jadi presiden memang enggak gampang. Kalau gelar belum disandang, rasanya susah juga menjabat jadi presiden. Otak harus punya IQ yang setinggi langit, plus ke-Indonesia-annya kental banget alias tahu segala macam titik bengek negara ini.

 

Beda orang, beda lagi keinginannya terhadap pemerintahan di negara ini. Buat para buruh, mungkin minta presiden yang mau membuat peraturan baru untuk menaikkan gaji mereka. Para siswa-siswi Indonesia mau presiden yang mengurangi jam belajar di sekolah (ini kita banget). Beda lagi dengan keinginan ibu rumah tangga, pekerja swasta, petani, nelayan, dan lain-lainnya.
Presiden harus tanggap terhadap masalah sekecil apapun. Sekecil apapun wilayah di Indonesia, misalnya di pelosok Kalimantan, pasti mau diperhatikan oleh pemerintahnya. Alih-alih pemerataan pemerintahan sampai ke pelosok, untuk ke ibukota saja sudah susah setengah mati.

 

Bertahun-tahun saya tinggal di Jakarta, hanya satu masalah aneh bin ajaib yang belum ada satu pun pemerintah bisa mengendalikannya. MACET. Cuma satu masalah sih. Intinya banyak kendaraan, dan kendaraan-kendaraan itu nggak bisa jalan dengan normal karena penuh sesak. Seandainya penggambarannya dilakukan di miniatur mainan, pasti kita berpikir, ya tinggal dikurangin aja mobilnya.

 

Orang yang punya pola pikir sederhana pasti cuma bilang, “Saya mau presiden yang mengerti keadaan rakyatnya.” Eggak usah jauh-jauh ke presiden, kalau kita sedang punya masalah lalu cerita ke teman kita, teman kita akan mengerti masalahnya, tapi belum tentu bisa menyelesaikan masalah itu, apa kita puas 100%? Dimengerti doang kalau tidak ada tindakan yang memuaskan, apa gunanya?

 

Saya pribadi ingin presiden yang enggak usah muluk-muluk saat kampanye, kalau memang belum mampu ya jangan dikampanyekan. Nggak usah kampanye gila-gilaan, lalu waktu nggak kepilih, jadi orang stress tak punya uang. Cita-cita jadi presiden kok malah jadi gelandangan?

 

Dasar orang Indonesia. Bisanya menyalahkan orang lain dulu, baru lihat ke pribadi. Sebenarnya, dari dulu presiden kita baik-baik aja kok. Buktinya hidup kita enggak sepenuhnya menderita, yah, walaupun memang ada yang masih miskin. Tapi toh namanya hidup, apa selalu bahagia? Ingat-ingat kalau roda pasti berputar, begitupun hidup. Terima hasilnya, kalau puas ya Alhamdulillah, kalau nggak puas… ya jangan langsung maki-maki pemerintahnya.

 

Winona Sheila Firdausya (nametag)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *