Jadi Kaya Kok Ngumpet-ngumpet?

Kasus tentang pengemis yang kaya raya di kampungnya, tapi miskin di kota-kota besar, sudah melebar luas ke seluruh indonesia. Tidak cuma tanah atau mobil yang melimpah tetapi mobil, usaha-usaha kecil juga dimiliki oleh “pengemis” yang sangat pro mungkin untuk dikalangan pengemis.

 

Pemberintaan tentang Walang bin Kilon (54) dan Sa`aran (60), dua pengemis asal Subang, Jawa Barat yang membawa uang puluhan juta rupiah saat terjaring razia oleh petugas Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, pada Selasa (26/11/2013) adalah berita yang paling heboh yang disiarkan di media massa. Jokowi, Gubernur DKI Jakarta beranggapan bahwa Walang bin Kilon adalah pengemis yang kreatif karena beliau mampu mengemis selama 15 hari meraup kurang lebih Rp 25 juta. Penyebab banyaknya pengemis di Jakarta juga berasal dari banyaknya orang yang datang dari daerah lain yang sengaja atau tidak sengaja menjadi pengemis (gepeng).

 

Dalam menjalankan aksinya, Walang dan Sa’aran mempunyai peran yang berbeda. Walang yang menjadi otak dari kegiatan mengemis tersebut bertindak sebagai pendorong gerobak. Sementara Sa`aran yang lebih tua, berpura-pura sebagai orang sakit yang berada di gerobak dan butuh pengobatan.

 

Sesungguhnya, sebelum menjadi pengemis, Walang ialah seorang tukang becak yang kemudian gantung pedal kemudian menjadi penjual sapi. Banyak sumber yang mengatakan bahwa uang Rp 25 juta ialah uang hasil penjualan sapi-sapinya. Akan tetapi, tidak semua sumber dari media yang memberitakan demikian. Hampir 65% media memberitakan bahwa uang yang Walang punya adalah hasil dari ia mengemis selama 15 hari. Sekarang Walang dan Sa’ aran terpaksa mendekam di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya (PSBIBD) 2 Jl Raya Bina Marga No 48, Cipayung, Jakarta Timur, untuk menjalani pembinaan.

 

Selain Walang dan Sa’aran, ada juga seorang pengemis yang mampus membeli mobil CR-V keluaran 2004 dan dua motor Honda Supra Fit yang bernama Cak To. Tidak hanya mobil dan motor, ia juga mampu membeli rumah di daerah Surabaya barat yang tanahnya seluas 400 meter persegi dan 2 rumah di daerah Madura dan 1 rumah di daerah Semarang.

 

Cak To berasal dari pasangan pengemis kemudian ia mengikuti jejak orangtuanya hingga sekarang ia menjadi bos 54 pengemis di daerah Surabaya sejak tahun 2000. Setiap hari, ia mendapatkan  pemasukan dari anak buahnya kurang lebih pemasukan bersihnya Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu yang berarti dalam sebulan beliau mendapatkan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta. Bahkan, dari penghasilan tersebut, Cak To mampu memberikan nafkah masjid dan mushola di daerah tempat ia singgahi. Beliau juga tercatat menjadi donatur tetap di sebuah masjid di daerah Gresik.

 

Di saat akan diwawancara oleh salahs atu media cetak, Cak To menggunak CR-V biru metaliknya yang kinclong. Akan tetapi, penampilannya tidak sebanding dengan mobil yang ia gunakan pada saat itu, kulit hitam, rambutnya terombak dan awut-awutan badannya pun kurus layaknya seperti seorang pengamen. Gaya biacaranya pun dapat ditebak bahwa beliau tidak dapat mengenyam pendidikan yang cukup. Saat ditemui pun, Cak To pun tak mau nama nya di-publish dan saat diwawancarai pun ia tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk pemberitaan di salah satu media cetak tersebut.

 

Dari beberapa sumber-sumber yang telusuri, saya mendapat sebuah hadist yang berisi tentang halnya “meminta-mintaa” yaitu “Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: Seseorang yang menanggung beban (hutang orang lain, diyat/denda), ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti. Dan seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup. Dan seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram.” dari HR Muslim no.1044, Abu Dawud no.1640, dll.

 

Mulai dari sekarang, berprinsiplah bahwa lebih baik memberi daripada meminta-minta. Sekian. Ohayou. Xie-Xie. Terimakashhyi!

 

Shoraya Annisa Sariwardani (nametag)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *