Kalau Sarana Penyaluran Bakat Dihapuskan…

Apa, sih, tujuan awal kita bersekolah? Untuk mendapatkan ilmu? Atau sebagai salah satu jembatan menuju terwujudnya cita-cita? Yang jelas bukan hanya kewajiban semata, kan? Kita semua pasti punya cita-cita yang ingin kita raih, dan untuk meraihnya kita perlu bersekolah agar kita punya ilmu-ilmu dasarnya. Jadi, pasti akan lebih baik, ya, kalau pagi-pagi kita berangkat ke sekolah dengan bayangan UI, ITB, UGM atau universitas lainnya di benak kita, bukannya memikirkan nasib PR yang belum dikerjakan… Hehehe.

 

Lalu, setelah sampai di sekolah, kita ngapain lagi, ya? Apakah kita belajar terus sepanjang hari? Almost true, karena hampir 8 dari 12 jam pada siang hari kita gunakan untuk belajar di sekolah, belum lagi jika ada yang mengikuti Bimbingan Belajar hingga jam 8 malam. Tapi, apakah kita akan terus meningkatkan bidang akademisnya saja? Bagaimana bidang nonakademisnya? Lagipula, apa, sih, bidang nonakademis itu? Menurut pengertian saya sendiri, bidang nonakademis adalah bidang yang materinya tidak kita dapatkan seformal ketika kita sedang menerima pelajaran di kelas. Bidang nonakademis ini bisa kita dapatkan di sekolah dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler (ekskul). Contohnya ekskul dalam bidang kesenian (Tari Tradisional, Dance, Paduan Suara), dalam bidang olahraga (Basket, Futsal, Bulu Tangkis, Pecinta Alam), dalam bidang keorganisasian (Paskibra, PMR, Media Sekolah), dan masih banyak lagi. Ekskul-ekskul tersebut bisa kita ikuti di luar jam KBM, misalnya setelah pulang sekolah, di akhir minggu KBM, yaitu pada hari Jumat, atau bahkan dikhususkan satu hari untuk ekskul pada hari Sabtu.

 

Ada tidak ya hubungannya mengikuti ekskul dengan pelajaran di sekolah? Tentu saja ada. Alasan paling sederhananya adalah supaya kegiatan di sekolah tidak monoton hanya belajar di kelas saja. Para siswa pasti butuh kegiatan lain untuk menyegarkan pikiran dari banyaknya soal. Alasan lainnya, anggap kita murid baru di tahun ajaran baru. Dengan mengikuti ekskul, pergaulan kita akan semakin luas. Tidak hanya teman satu kelas saja yang kita kenal, tapi kenalan dari kelas lain pun akan semakin bertambah. Lalu dengan mengikuti ekskul yang sesuai dengan bakat dan minat kita, kemampuan dalam diri kita pun lama-kelamaan akan terasah. Misalnya, bagi yang gemar menyanyi lalu mengikuti ekskul Paduan Suara, lama-kelamaan teknik vokalnya akan semakin bagus. Atau bagi yang suka bermain basket, karena rajin mengikuti latihan, dia jadi tahu bagaimana cara jitu mencetak skor. Ketika kita sudah menguasai teknik-teknik yang diajarkan dalam ekskul tersebut, kita pasti akan menjadi perwakilan dari ekskul tersebut, dengan membawa nama sekolah, untuk mengikuti suatu perlombaan dalam bidang terkait. Lalu ketika kita menang dalam perlombaan tersebut, kita akan pulang dengan bangga karena telah mengharumkan nama sekolah, atau ketika yang terjadi adalah sebaliknya, kita pasti akan berusaha untuk lebih baik di lomba selanjutnya.

 

Namun, jika tetiba saja sekolah mengeluarkan kebijakan bahwa ekskul yang boleh berjalan hanya beberapa saja, sedangkan yang lain dihilangkan, apa tanggapan kalian saat itu juga? Pastinya kaget dan tidak percaya, kan? Hal ini dapat dipastikan sangat tidak diinginkan oleh mayoritas siswa. Lalu, bagaimana jika ini terjadi di sekolah kita sendiri, SMAN 81 Jakarta? Ekskul yang rumornya akan dipertahankan adalah:

 

Memang, pada awalnya ini hanya sebuah rumor, belum ada pemberitahuan resmi dari pihak sekolah. Dengan adanya berita ini, walaupun kebanyakan ekskul masih berjalan seperti biasa, tetapi setiap pengurus ekskul merasa khawatir karena tidak kunjung ada pemberitahuan lebih lanjut dari pihak sekolah, sedangkan rumor semakin beredar.

 

1. PMR: yang baru saya ketahui kalau PMR berbeda dengan KKR. PMR lebih fokus mengurusi kesehatan, sedangkan KKR selain kesehatan juga mengurusi keindahan taman sekolah dan lainnya;
2. PIDAS: sebagai sarana media sekolah;
3. KIR: sebagai sarana mengembangkan kreativitas siswa;
4. Pramuka, dan
5. Paskibra: sebagai sarana pendisiplinan siswa.

 

Banyak yang akan merasa dirugikan jika hal ini terjadi. Mulai dari para siswanya sendiri sampai alumni yang saat SMA mengikuti ekskul tersebut. Kenapa para siswanya dirugikan? Seperti sebelumnya sudah disebutkan, mereka jadi tidak punya tempat untuk menyalurkan dan berbagi pengetahuan tentang hobi mereka dengan orang yang punya hobi sama. Yang paling penting adalah menghilangnya tempat pengembangan diri siswa. Tapi kenapa alumni juga terbawa? Itu karena ada beberapa ekskul yang ikatan dengan alumninya sangat erat dan terjaga meski alumni tersebut sudah bekerja sekarang. Mungkin jika alumni tersebut tahu, wah, bisa panjang urusannya… Hari ini saya mendiskusikan hal ini bersama beberapa teman saya. Ternyata ada yang pro dengan kebijakan tersebut, tapi ada pula yang dengan tegas menyatakan kalau dia kontra. Mau tahu opini mereka seperti apa?

Tidak setuju. Karena banyak anak-anak yang tidak memiliki ketertarikan kepada 5 ekskul tersebut. Jika sekolah tetap memaksakan hanya 5 ekskul, maka sekolah telah gagal menjadi tempat penyaluran dan pengembangan bakat yang dimiliki oleh muridnya. —Tiara Sari (XII IPA 1)

Kalau enggak ada Padus, yang nyanyi pas upacara siapa? Kalau ada acara wisuda/syukuran kelulusan, enggak ada yang nyanyi juga dong? Kalau ekskul lain yang seni dihapus kayak Dance, Saman, Tatra (Tari Tradisional), Band, saya enggak setuju. Karena seni tuh tempat kita berekspresi sekaligus hiburan. 5 hari udah belajar kan suntuk. —Dafina Fitra (XII IPA 3)

Menurut saya, kalau ekskul ditiadakan karena kekurangan dana, itu enggak objektif banget. Biaya memang perlu, tapi bisa dicari, bukan berarti matiin kegiatan. Bisa aja setiap ekskul ngasih ketentuan dan bikin kesepakatan buat biaya masing-masing. Banyak ekskul yang berprestasi, dengan nama ekskul yang udah baik, tiba-tiba dimatikan, bakat anak-anak mau dikemanakan? —Haretna Zahrani (XI IPA 3)

Saya setuju dengan penghapusan ekskul, tapi tidak dihapus keseluruhan ekskulnya. Karena tidak semua ekskul bisa dirangkum dalam ekskul yang tertera. —Huriyah Qamra (XI IPA 6)

Pemotongan ekskul? Kontra, coy! Ekskul itu kan ada untuk mengembangkan hobi dan bakat, terus buat mengembangkan otak kanan juga. Lah, kalo di sekolah hal tersebut dibatasi, mau jadi apa siswa? Robot pelajar yang bahkan penyaluran hobi dan bakatnya aja dikontrol? Begitukah? —Shinta Nur Amalina (XII IPA 3)

Gak banget, deh, ya. Kalaupun karena enggak ada dana dari sekolah, ya, inisiatif muridnya sendiri. Sumpah deh, ekskul Dance, VG, Saman, dll. itu kan udah sering juara di sekolah-sekolah, so, otomatis kita udah terkenal dan masa tiba-tiba hilang gitu aja. Apalagi di pilihan ekskulnya enggak ada seninya, It’s a modern era guys, not 80’s! —Tamara Mayasafitri (XII IPA 3)

Saya setuju, namun dengan catatan seperti ini: 5 ekskul tersebut sebagai ekskul wajib dan ekskul lainnya sebagai ekskul pendamping. Jadi, minimal siswa mengikuti 2 ekskul. Pilihan pertama dari salah satu 5 ekskul tersebut, pilihan kedua boleh mengikuti ekskul apa saja yang sesuai dengan keinginan dan kegemaran agar minat tersalurkan secara positif. —Reno Manggalajati (XI IPA 6)

Sangat amat tidak setuju sekali. Karena banyak ekskul selain 5 ekskul tersebut yang mampu dan telah menghasilkan prestasi dalam mengharumkan nama SMAN 81 Jakarta. Selain itu, di jaman yang serba maju dan modern seperti ini, alangkah baiknya jika jumlah ekskul ditambah, bukan justru dikurangi. Pendidikan dan organisasi memang penting, tapi dibandingkan dengan sekolah lain, SMAN 81 harus punya yang spesial dan lebih daripada sekolah yang sudah bagus dalam bidang pendidikan dan organisasinya. —Arsyal Mushawwir (XII IPA 3)

Saya mencoba untuk menyimpulkan sedikit dari beberapa opini tersebut. Bagi yang tidak setuju, saya rasa karena ekskul sudah merupakan bagian dari sekolah, yaitu tempat lain selain di kelas untuk mendapatkan ilmu. Toh, pelajaran itu bisa kita dapat darimana saja, bukan hanya di kelas. Misalnya, bagi yang ingin meningkatkan teknik fotonya, bisa ikut Fotografi, yang suka dengan Anime, bisa ikut Japan Club, dan sebagainya. Kalau semua itu dihapuskan, saya rasa sekolah kita ini akan terlalu pasif, walaupun berarti bidang akademisnya bisa lebih difokuskan. Bagi yang setuju pun, alasan mereka bersyarat.

 

Kalau dari saya sendiri, jika kebijakan tersebut benar-benar direalisasikan, kelima pengurus ekskul tersebut justru akan kelabakan mengurusi anggotanya yang tiba-tiba membludak. Anggap saja satu angkatan ada 250 siswa, lalu masing-masing siswa mengambil satu ekskul. Berarti satu ekskul anggotanya ada 50 siswa. Wah, bisa pusing pengurus ekskulnya. Bukan berarti tidak bisa, tapi jika kuantitas anggotanya terlalu banyak, kualitasnya akan diragukan. Bayangkan ketika suatu hari ada jadwal kegiatan ekskul A dan hari itu agendanya pemberian materi di ruangan. Bisakah kalian bayangkan, ketika satu orang di depan kelas memberikan materi kepada 50 anggota? Saat si pemberi materi berbicara, anggotanya ada yang asik mengobrol, main HP, atau mengerjakan hal lainnya daripada mendengarkan si pemberi materi. Alhasil, agenda hari itu sia-sia. Padahal, pada saat KBM saja, 1 kelas isinya 30 siswa, maka jumlah 50 pun bisa dikatakan melebihi kuantitas karena dinilai tidak efektif.

 

Ya, semua keputusan memang kembali lagi kepada pihak sekolah. Tapi kita, para siswa-siswi, bisa juga, kok, menyampaikan pendapat kita tentang kebijakan-kebijakan baru tersebut. Bagaimana caranya? Jangan lupa, kita punya Majelis Perwakilan Kelas (MPK) yang akan menyampaikan aspirasi kita kepada para PO, yang akan dilanjutkan lagi kepada pihak sekolah. Pihak sekolah pun akan mendengar suara kita.

 

Kalau kita tidak mau hal ini terjadi, kita bisa mulai memberikan opini kita dari sekarang agar pihak sekolah bisa menimbang lagi tentang keputusan kebijakan tersebut. Tidak mau, kan, kalau ekskul kalian ditiadakan? :)

 

Maysari A.P

4 thoughts on “Kalau Sarana Penyaluran Bakat Dihapuskan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *