Kisah Capsis, Orasi, Politik, Komitmen, dan Semuanya

223479_1049570688590_3216_n

Masa-masa SMA kerap dianggap sebagai masa-masa yang paling menyenangkan dalam kehidupan remaja. Masa-masa SMA adalah masa para remaja (kalau orang bilang) mencari (dan menemukan) jati diri mereka, mencoba berbagai pengalaman baru, membuat teman-teman baru, yang konon katanya teman-teman SMA itu sifatnya abadi, dalam arti memiliki ikatan yang sangat kuat bahkan hingga tua nanti. Oleh karena itu, tidak heran jika reuni SMA tampaknya lebih sering diadakan daripada reuni kampus, SMP, atau bahkan SD. Saya pribadi yang saat ini sudah berstatus alumni sejak beberapa tahun silam sudah mengalami yang namanya “sedikit-sedikit reuni (teman) SMA,” tapi toh tetap menyenangkan.

Anyway, balik ke soal masa SMA. Jadi, ya… awalnya saya masih kurang percaya bahwa masa-masa SMA adalah masa-masa terbaik (selama dimanfaatkan dengan baik) yang bisa seseorang dapatkan selama hidupnya. Lantas, saya bertanya-tanya, bagaimana dengan masa-masa kampus? Well, sekarang saya mendapatkan jawabannya. Setelah menimbang-nimbang, saya rasa, saya setuju dengan pernyataan bahwa masa-masa SMA sangatlah berkesan. Bukan berarti masa-masa saya di kampus kurang berkesan, jusrtu di kampus saya mendapat begitu banyak pengalaman yang tidak ternilai. Namun, rasa-rasanya, ada sesuatu yang membedakan masa-masa SMA dengan masa-masa di jenjang pendidikan lainnya. Apa ya? Sederhana, persahabatan. Saya kira masalah persahabatan inilah yang memberikan kesan atau warna tersendiri di masa-masa SMA, dan ya… begitulah “anak SMA”.

Namun, di sini saya tidak membahas kisah persahabatan saya di SMA. Saya ingin berbagi satu pengalaman yang saya anggap sebagai satu titik perubahan diri saya baik dari segi pemikiran maupun sikap hingga saat ini. Itu adalah ketika saya (dengan percaya dirinya serta tanpa pikir panjang) mencalonkan diri sebagai Ketua Pengurus OSIS (PO) SMAN 81 Jakarta. Bukan sekedar mengambil formulir untuk menjadi PO, tapi menjadi ketuanya. Sebenarnya, setelah saya pikir-pikir lagi sekarang, keputusan saat itu benar-benar keputusan terambisius yang pernah saya ambil sampai saat ini. Saya memang pernah ikut mencalonkan untuk ikut “maju” dalam pencalonan ketua dan wakil ketua BEM FISIP UI (walau akhirnya tidak jadi) dan saya anggap itu merupakan keputusan yang bersifat lebih politis daripada ambisius. Ah, tapi lupakan, saya tidak bercerita tentang masa-masa kampus.

Jika saya kembali mengingat “siapa saya” sebelum masuk SMA, jawabannya sangat mudah. Saya seorang anak lelaki yang pendiam, introvert. Sekarang pun masih cenderung introvert, tapi saya bisa dengan mudah “mengontrol” topeng saya. Ibaratnya, kapan saya harus pakai topeng introvert dan ekstrovert, bisa saya switch dengan mudah, tergantung saya berada dalam kondisi seperti apa. Namun, dulu, saya 100% pendiam, agak sulit bergaul, agak pemalu, tidak punya kepercayaan diri walau saya dianggap oleh banyak teman saya sebagai sosok yang multitalenta (begitu sih kata orang-orang), saya tetap tidak merasa nyaman dengan keadaan saya saat itu.

Namun, entah ada bisikan apa yang membuat saya merasa bahwa saya harus benar-benar berubah ketika masuk SMA. Di SMA, semua baru. Orang-orang baru, lingkungan baru, segalanya baru. Oleh karena itu, saya merasa bahwa di sini (SMA) saya harus me-refresh karakter saya. Saya harus membentuk image baru seorang Fauzan Al-Rasyid di SMA, dan saya kira hal itu cukup berhasil. Mulai dari kelas X (X-3), tempat saya bertemu teman-teman baru yang sangat menyenangkan, kami melalui bermacam hal bersama-sama. Kemudian ada “ritual tahunan” ala SMAN 81, seperti Trip Observasi (TO) dan Latihan Tata Upacara Bendera (LTUB). Saya merasa kelas X saya sangat penuh dengan perubahan yang sangat besar. Mungkin terasa agak narsistik, tapi saya memang ingin jadi sosok yang dikenal. Saya ingin menjadi seseorang yang “diperhitungkan” keberadaannya dari 300-an kepala lainnya yang satu angkatan dengan saya. Untuk itu, saya rasa menjadi PO bisa “melancarkan” angan-angan (ambisius) saya. Saya tidak pernah menjadi anggota PO sebelumnya di SMP, jadi apa yang saya lakukan memang saya rasa cukup nekat dan menjadi loncatan besar.

Alkisah pada saat pendaftaran PO dibuka, saya merasa begitu bersemangat. Di sekolah, khususnya di angkatan saya, memang sudah terdengar rumor siapa yang kira-kira akan maju mencalonkan diri menjadi Ketua PO, yaitu Aldi (M. Arditama). Sejujurnya saya kurang kenal dengan Aldi pada saat itu. Namun demikian, Aldi memang jelas lebih “tersohor” di angkatan karena perannya yang cukup besar selama Pra-TO hingga TO. Ah, tapi kalau dipikir-pikir, saya juga cukup punya “nama” di Pra-TO hingga TO. Bahkan, saya ikut “termakan” isu―yang cukup memotivasi―bahwa beberapa tahun terakhir, ketua PO yang menang adalah mereka yang dulunya ketika TO memenangkan penghargaan Bintang Mahaputra. Ah! Untungnya saya memenangkan yang satu itu, lumayan jadi motivasi bahwa saya mungkin punya peluang karena (mungkin) itu artinya saya (cukup) pintar. Tentunya asumsi ini sangatlah tidak logis dan tidak bisa dipertanggungjawabkan, tapi tetap patut dicoba.

Aldi kemudian berpasangan dengan Rheza (Jaem). Jaem adalah seorang anak yang tinggi, kulitnya putih bersih, dan… jago bermain gitar. Jelas, hal itu menjadi satu peluang bagi pasangan Aldi-Jaem untuk mendapatkan “perhatian” lebih, khususnya dari kaum wanita―ini serius. Bagaimana dengan saya? Saya tidak tahu harus berpasangan dengan siapa. Saya bahkan tanya sana-sini dulu untuk mencari siapa yang kira-kira bisa diajak jadi partner saya. Kemudian, saya dapat “bisikan” untuk mengajak Nurul. Konon kabarnya, Nurul punya pengalaman mengurus OSIS di SMP dulu. Selain itu, kebetulan Nurul juga ikut mengambil formulir calon pengurus OSIS (capsis). Wah, kebetulan! Dengan bermodal Pe-De, saya pun menemui Nurul yang ternyata kelasnya berada di sebelah kelas saya, kelas X-2. Saya ingat bahwa betapa perkenalan itu adalah salah satu momen terbodoh yang pernah saya lalukan, tapi hingga kini saya tetap bersyukur bisa kenal dengan Nurul, dengan momen yang tidak bisa saya ungkapkan di sini.

Singkat cerita, saya pun akhirnya berpasangan dengan Nurul. Sejak saat itu, saya memulai “perjalanan politis” saya yang pertama di dunia pendidikan. Saya belajar menyusun strategi, saya belajar menghimpun massa, saya belajar berpikir cepat (dan berusaha untuk tepat). Namun, satu hal yang menjadi kendala adalah soal kemampuan saya berbicara, khususnya berbicara di depan umum ditambah dalam situasi yang penuh tekanan. Saya akui saat itu saya sangat payah dalam mengungkapkan isi pikiran saya secara baik ke orang lain. Saya rasa hal itu menjadi salah satu ciri orang introvert. Para senior bahkan sering menganggap saya sebagai orang yang gagap ketika berbicara. Entah ya, rasanya apa yang ada di otak saya jauh lebih cepat daripada yang mau keluar dari mulut. Tentunya itu sangat menyebalkan, dan selama proses capsis, saya tidak bisa mengatasi hal itu. Namun demikian, saya sangat bersyukur ketika tahap orasi, saya bisa menghilangkan seluruh kegagapan yang biasanya pasti akan keluar ketika saya berbicara di depan publik.

225719_1049487446509_904_n

Pada saat orasi, di tengah lapangan, di bawah matahari terik, saya merasa cukup rileks di sana. Walaupun sehari sebelumnya ada kejadian yang cukup mencengangkan, tapi ternyata itu tidak berpengaruh pada kondisi saya hari itu. Berbagai pertanyaan bisa saya jawab dengan baik. Pertanyaan-pertanyaan senior, guru, dan siswa-siswi lainnya bisa saya jawab dengan cukup percaya diri. Ternyata orasi di lapangan tidak seburuk yang saya kira. Semuanya berjalan lancar hingga tibalah saatnya penghitungan suara. Banyak yang memprediksi bahwa hasil suara yang terkumpul akan sangat ketat antara kedua pasangan. Ternyata memang begitu, Aldi-Jaem menang 40 suara lebih banyak dari saya dan Nurul. Jumlah suara abstain dan tidak sah juga sangat kecil. 10 Agustus 2006, Aldi-Jaem menjadi pasangan ketua dan wakil ketua Pengurus OSIS terpilih. Saya dan Nurul? Jelas kalah, tapi itu adalah pemilos (Pemilihan Ketua OSIS) “terpanas” selama sejarah sekolah, ya… setidaknya rekor itu bertahan cukup lama hingga berita yang saya dengar bahwa tahun 2012 lalu, antara pasangan yang menang dan yang kalah hanya selisih lima suara, CMIIW.

224079_1049995259204_7086_n

Nurul, akhirnya, kembali menjadi capsis, melanjutkan mimpinya untuk menjadi PO berjas abu-abus, dan dilantik sebagi Ketua Seksi 2 (Wawasan Keilmuan). Saya sendiri? Saya memutuskan keluar dari capsis. Aldi menyiapkan jabatan Ketua Seksi 7 (Apresiasi Seni dan Budaya Kreasi) untuk saya, tapi saya tetap keluar. Tampaknya keluarnya saya ini mendapat perhatian yang jauh lebih besar dibandingkan ketika saya memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai calon Ketua PO (cakapo). Seisi sekolah bertanya mengapa akhirnya saya keluar? Jauh sebelum masa-masa kampanye, ketika saya mendatangi sekretariat MPK, menemui perwakilan KPP AMPO (Komis Pemilihan dan Penyeleksian Anggota Majelis dan Pengurus OSIS), mereka mengatakan bahwa di tahun itu, sistem pemilos diubah. Salah satu poin yang diubah adalah bagi pasangan calon yang kalah dalam pemilihan tidak bisa melajutkan sebagai capsis. Hal ini jika kita ingat-ingat sangat mirip dengan sistem pilpres atau pilkada. Mereka yang kalah tidak melanjutkan dalam kabinet si pemenang walaupun sebenarnya itu sah-sah saja. Saya menyanggupi persyaratan itu, begitu juga Nurul. Ketika akhirnya kami kalah, saya tahu bahwa saya harus tetap pada pendirian saya; komitmen saya. Saya tidak mau dianggap tidak komitmen dengan janji-janji saya. Dan… mungkin juga saya kurang sejalan dengan Aldi, tapi toh kami tetap berteman baik hingga kini. Bagaimana dengan Nurul? Rasanya saya cukup”berdosa” mengajak Nurul menjadi “pendamping” saya dan akhirnya dia tidak bisa menlanjutkan mimpinya. Oleh karena itu saya memberikan kebebasan pada Nurul untuk menentukan pilihannya. Lagipula, KPP AMPO akhirnya berubah pikiran dan membolehkan kami berdua untuk tetap menjadi capsis (dikarenakan jumlah capsis semakin sedikit jika kami berdua keluar). Namun, tidak… saya memilih untuk tidak mengambil jas abu-abu yang cukup “mentereng” di mata banyak orang dan memilih menjadi warga sipil biasa.

Di sinilah saya merasa telah membuat keputusan yang tepat, tidak ambisius, dan penuh perhitungan. Pada akhirnya saya merasa keputusan saya untuk tidak masuk PO sangat tepat. Saya toh (istilahnya) tetap bisa dikenal luas oleh seisi sekolah jika memang itu yang saya inginkan. Namun, ada proses pembelajaran yang lebih besar dibandingkan soal ketenaran. Saya belajar mengambil keputusan, saya belajar menepati komitmen saya, dan… saya belajar berbicara. Saya rasa saya tidak bisa menjalani kehidupan saya dengan luar biasa di kampus jika saya tidak bisa berbicara dengan baik. Jujur saja, saya anggap masa-masa kampanye dan orasi mengubah pribadi saya. Lucu juga rasanya kalau diingat-ingat bahwa saya dulu tidak bisa bicara, saya selalu gelagapan bicara di depan umum. Siapa yang mengira bahwa saya kini bahkan bisa melatih orang lain berbicara di depan umum. Saya sendiri tidak pernah berpikir bahwa saya bisa menjadi seorang yang (pada akhirnya) sangat gemar berbicara. Namun, saya tetaplah saya yang punya sisi introvert, hanya saja, saya kini bisa mengontrolnya. Itu semua berkat satu pengalaman luar biasa di SMA, berkat satu keputusan-tanpa-pikir-panjang yang saya ambil, dan semuanya sangat berkesan.

Buat teman-teman yang kini masih berseragam putih abu-abu, jangan pernah takut mencoba. Selama hal itu positif tentunya. Kita, sesekali, perlu berbuat di luar kebiasaan kita. Sesuatu yang di luar zona nyaman (comfort zone) kita. Sering kali hal-hal menakjubkan berada di luar zona nyaman kita, dan karena itu butuh keberanian besar untuk mendapatkannya. Jangan pernah takut salah. Kita semua belajar dari kesalahan dan kita menjadi pribadi yang lebih baik karena kita pernah salah dan itu membuat kita lebih dewasa dan bijaksana dalam melihat dunia ini. Ya, akhirnya… begitulah kisah saya yang lumayan panjang ini. Semoga tidak bosan membacanya. Namun, jika kamu sudah membaca tulisan ini, saya anggap bahwa kamu cukup menikmati cerita saya.

 

Fauzan Al-Rasyid

2 thoughts on “Kisah Capsis, Orasi, Politik, Komitmen, dan Semuanya

    • Oh 4 ya Juan? Hahaha, wah luar biasa deh! Gue rasa enggak Juan, kalau pun iya, mungkin untuk waktu yang sangat lama… itu rasanya pasti sesuatu banget ya cuma beda 4 suara, hahaha!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *