LTUB Bersama X-4 (Kesempatan Diet)

image

 

Halo, saya akan menceritakan pengalaman paling menarik yang telah saya alami saat saya berada dikelas X-4. Kelas X-4 mempunyai nama, yaitu “Kesempatan Diet” yang kepanjangannya adalah Kelas Sepuluh Empat Anak Didik Bu Elluth. Kelas ini berjumlah 32 orang, 16 wanita dan 16 pria. Pengalaman yang paling menarik adalah saat kelas kami mengikuti LTUB atau Lomba Tata Upacara Bendera. Kami dilatih oleh kakak kelas yang dulunya juga X-4 yang bernama “Sesepuh”. Ya, itu berarti tahun depan saya akan melatih anak X-4. LTUB ini diikuti oleh semua kelas X.

 

Kami dibagi dalam tiga pasukan, yaitu 17, 8, dan 45. Pasukan 17 ada pembina, tura pembawa pancasila, MC, pembaca UUD, dan lain-lain. Pasukan 8 ialah pasukan yang mengibarkan bendera. Pasukan 45 yang menyanyikan lagu Indonesia Raya. Awalnya, kami masih disatukan, mungkin untuk melihat sejauh mana skill kita dalam LTUB ini, pada akhir pertemuan pertama saya, Sintya, Shahnaz, dan Sarah disuruh untuk membawa nampan pada pertemuan berikutnya. Itu berarti kami dipilih sebagai calon baki atau cabak. Pada pertemuan berikutnya, kami berempat dipisah latihannya, untuk menentukan siapa yang akan membawa baki. Kami disuruh untuk memegang nampan, dengan 4-6 buku pelajaran diatasnya selama beberapa menit, untuk mengetehui ketahanan kami. Dan yang pria, dites suaranya untuk menentukan yang mana danpas, dan danpok. Sesekali kami dinasehati oleh kakak Sesepuh karena kami sering telat latihan, tapi itu menjadi motivasi bagi kami.

 

Setelah beberapa kali latihan, ditentukanlah siapa danpasnya, danpas ini adalah Komandan Pasukan, dia yang mengomandoi semua pasukan, danpas akhirnya dipilih Nanda, kami memanggilnya boyband karena ia mirip personil boyband, hahaha. Lalu dipilih danpok, danpok setiap pasukan berbeda. Danpok pasukan 17 adalah Abing, danpok pasukan 8 adalah Rifqi, dan danpok pasukan 45 adalah Upi. Dan bakinya adalah saya sendiri. Dan sebagai pembina adalah Ariska.

 

Setelah beberapa kali mengganti tanggal puncak LTUB, akhirnya ditentukan bahwa puncak LTUB adalah tanggal 20 April 2013. Yang mana sehari sebelum itu ada gladi bersih. Oh iya hampir lupa, di pasukan 17 ada Abing, Manda, Revita, Demi, Dwina, Fachri, Ariska, Aziz, Faris. Di pasukan 8 ada Rifqi, Rheza, Saya, Emil, Fade, Sintya, Alfian, Sarah, Shahnaz, dan Ule. Di pasukan 45 ada Upi, Missy, Rifdah, Dutira, Ratri, Avi, Aldho, Dhea, Apta, Nisa. Hari gladi bersih pun tiba, semua anak dikelas deg-degan. Kami mendapat nomor urut ke-6, dan selama menunggu, kami tidak boleh keluar kelas. Kalau mau ke toilet mata kami harus ditutup. Kami diperbolehkan untuk latihan dikelas, jadi kami sempatkan untuk berlatih membuka tutup formasi. Waktu yang diberikan hanya 15 menit, jadi tidak terlalu lama bagi kami untuk menunggu.

 

Saat kami sedang latihan, kami dipanggil untuk turun karena sudah tiba giliran kami. Setelah berdoa bersama, dengan penuh keyakinan kami pun turun. Kami saling mengingatkan agar tidak ada kesalahan dalam gerakan. Nanda mengumpulkan kita di tengah lapangan, dan kami hanya sampai PBB. Tidak sempat melanjutkan karena waktunya habis. Besok hari, tibalah saatnya puncak LTUB, kami tetap dengan nomor urut 6. Saat kami menunggu, kami dilarang untuk latihan dikelas. Jadi yang bisa kami lakukan adalah main, bercanda, dan ngobrol.

 

Oh iya, design kostum kami dibuat oleh Ule, dan nametag dibuat oleh Fachri. Setelah kami ngobrol sana-sini, kami lapar. Ternyata sudah jam 12. Kami izin untuk makan, dan diperbolehkan makan di luar, di lapangan IM3. Kami delivery McD, kami makan bersama di situ, seperti orang tidak makan 3 hari, kami sangat lapar karena selama 6 jam menunggu dan tidak makan apa-apa. Setelah selesai makan, kami harus menunggu kelas yang sedang tampil, sampai mereka selesai. Karena kami tidak boleh melihat. Setelah menunggu agak lama, kami boleh naik lagi. Di atas, kami menunggu dengan sangat deg-degan. Semuanya deg-degan, semua panik. Tapi kakak kelas Sesepuh (X-4 tahun lalu) menenangkan kami. Kami tidak bisa tenang, karena setelah ini, beberapa menit lagi kami akan tampil. Mulai dari nervous, takut ada yang gatel, takut salah saat PBB, dan lain-lain. Kami berdoa bersama, agar semua lancar.

 

Akhirnya kami turun ke dekat masjid, mempersipkan diri untuk menunggu X-6 yang sedang yel-yel. Di situ, kami semua yakin, kami pasti bisa menunjukkan yang terbaik, kami yakin. Tibalah saatnya kita, kami saling mengingatkan agar yang perempuan untuk senyum. Pertama, Nanda sang danpas mengomandoi kita untuk kumpul, lalu jalan dan belok kiri di depan ruang meeting. Di situ, kami melakukan PBB, dan sang pengibar, yaitu Emil, Rheza, dan Alfian membuka bendera dan melipatnya dengan benar, karena sebelumnya bendera itu tidak dilipat sengan benar. Setelah itu, kami langsung jalan lagi, dan atas komando danpok masing-masing kami berpisah. Pasukan 17 membuka formasi, Ariska naik ke podium merah dan disusul Aziz, yang membawa teks pancasila. Atas perintah MC, yaitu Revita dan Demi, Faris sang tura membetulkan tali bendera.

 

image (1)

 

Posisi pasukan 8 menghadap Lab Kimia, posisi pasukan 45 persis ditengah lapangan menghadap tiang bendera, dan Dhea sebagai dirijen. Setelah beberapa menit Faris membetulkan tali bendera, akhirnya selesai juga. Kini saatnya pasukan 8 mengibarkan bendera, Rifqi memberi komando, sebelum podium merah kami harus berhenti karena saya harus mengambil bendera di Ariska. Rifqi dan Rheza melihat kaki saya gemetaran saat naik ke podium mengambil bendera, saya sangat grogi disitu, takut ada kesalahan. Setelah saya kembali ke barisan, kami berjalan dan langsung membuka formasi. Alfian memberi kode ke saya agar saya ke sana, untuk memberikan benderanya. Setelah saya memberikan, sebelumnya kami sudah sepakat, hanya 27 hentakan kaki agar kami berhentinya bareng, saya berhenti jalan, dan dia berhenti jalan di tempat. Tapi karena kami nervous, tidak ada yang menghitung. Lucu sekali. Lalu, saat sang pengibar sedang mengibarkan bendera, tangan saya rasanya mau copot. Saya keberatan mebawa 2 kilogram baki itu. Saya mencoba untuk tetap senyum, meskipun keberatan.

 

image (2)

 

Akhirnya, selesai juga mengibarkan bendera, saya sedikit lega. Kami tutup formasi, dan akhirnya kembali ketempat. Tepat setelah kami kembali, pluit dibunyikan. Itu tandanya waktu kami telah habis. Dan kami langsung dikumpulkan lagi oleh Nanda untuk yel-yel. Saya hanya hafal sedikit. Dengan komandan yel-yel atau koyel Rheza, Upi, Missy, dan Shahnaz. Saat itu saya berada di barisan paling belakang, di samping kanan Apta dan samping kiri Abing. Saat yel-yel keringat saya masuk ke mata, saya keperihan. Saya berusaha dengan baik walaupun perih. Saya rasa yel-yel kami lucu, banyak sekali orang yang tertawa, saya yakin itu karena koyel paling keren, Rheza, yang juga sang ketua kelas. Setelah selesai yel-yel, Nanda laporan kembali. Setelah itu, kami dibubarkan, dan kami senang, kami lega, kami bangga pada kami semua.

 

Semua latihan, semua capek kami sudah terbayar, Alhamdulillah. Kami harus menunggu sampai selesai karena ada upacara penutupan. Saat menunggu, saya sempat dipanggil untuk wawancara baki. Setelah selesai, kami upacara penutupan. Dan kami pun pulang ke rumah masing-masing. Hari itu tak kan pernah saya lupakan, banyak pengalaman berharga yang bisa saya ambil. Antara lain, kita harus kompak atau solid, disiplin waktu, dan melatih kepemimpinan kita.

 

Gina Safira 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *