MEA Mendekat, Yakin Masih Malas Belajar Bahasa Inggris?

Siapa yang pernah ngerasa (atau masih sampai sekarang) kurang Pe-De ngomong dalam bahasa Inggris? Atau, siapa yang masih suka ngeles, “gue sih cinta Indonesia aja”? Pastinya, soal “cinta” (dalam hal ini) enggak bisa jadi pembenaran enggak bisa bahasa Inggris.

Kenapa sih kita harus bisa banget bahasa Inggris? Ya, semua pasti tahu kalau bahasa Inggris ini sudah jadi bahasa dunia. Katanya, kalau kita bisa bahasa Inggris, nanti ke mana-mana pasti gampang berkomunikasi sama orang-orang. Masa iya? Katanya sih begitu, tapi sebetulnya saat saya di Rusia tahun lalu, saya tetap harus menggunakan “bahasa tubuh” alias bahasa Tarzan untuk membantu berkomunikasi karena orang-orang di sana kurang bisa berbahasa Inggris.

Namun, kasus semacam itu sebetulnya hanya sebagian kecil saja. Kemampuan berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris, sangat dibutuhkan bukan cuma untuk soal jalan-jalan atau pelesir lucu-lucuan sana-sini. Nope. Kita enggak usah bicara soal UN atau ujian di sekolah karena dalam hal ini bahasa Inggris jadi sesuatu yang harus kalian kuasai semata-mata supaya lulus, ya kan? Ya enggak apa-apa, saya juga dulu mikir begitu.

Namun, di luar itu, ketika kita sudah menapakkan kaki di bangku perkuliahan, pergaulan pun semakin luas, sampai akhirnya lulus kuliah dan bekerja, jelas bahasa Inggris bisa menjadi salah satu “penyelamat” hidup kita di era globalisasi saat ini.

MEA di Depan Mata, Persaingan Semakin Ketat

 
asean_by_pdrpulanglupa-d6n6tlf

Kalian yang membaca artikel ini mungkin masih berada di bangku SMA. Katakanlah ada yang di kelas X, XI, dan XII. Kalian yang baru masuk di kelas X mungkin masih ada “waktu” untuk mempersiapkan diri, sedangkan yang kelas XII harus bersiap-siap menghadapi persaingan global yang sudah di depan mata.

Serius? Emang ada apa? Pernah dengar istilah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)? Jadi, lebih kurang sepuluh tahun lalu, para pemimpin ASEAN sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara pada akhir 2015 (ya, akhir tahun ini). Buat apa? Ini dilakukan supaya daya saing ASEAN meningkat dan juga bisa menyaingi Tiongkok dan India untuk menarik investasi asing. Terus apa lagi? Nah, pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan MEA ini nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat.

Oke, stop sampai di situ. Ada kata “barang” dan “jasa”. Artinya kompetisi nantinya bukan cuma soal barang dari negara mana yang bisa masuk ke negara lain dan bersaing dengan produk lokal, tapi juga akan ada persaingan jasa. Jasa itu berarti pekerjaan. Artinya, di awal tahun depan, para lulusan sarjana di Indonesia enggak cuma akan bersaing dengan jutaan orang Indonesia lainnya yang juga mencari pekerjaan, tapi juga harus siap berkompetisi dengan para lulusan dari berbagai universitas di wilayah ASEAN lainnya yang tertarik bekerja di Indonesia.

Coba kita pikir, kalau sekarang kita lulus sekadar lulus, belajar sekadar belajar, apa yakin bisa berkompetisi di masa depan? Katakanlah, kalian akan masuk ke dunia kompetisi lapangan pekerjaan ini lima sampai delapan tahun mendatang. Ketika tiba waktunya kalian harus “terjun” dan bersaing, tapi hanya membawa segelintir keahlian maka harus siap kalah.

Bahasa Sebagai “Penyelamat”

Lantas, harus gimana? Pastikan kalian punya skill yang mumpuni, minimal dalam bahasa asing. Komunikasi adalah salah satu elemen penting yang enggak bisa dipisahkan dalam segala aspek kehidupan kita. Entah itu dari sejak zaman batu sampai nanti era nano teknologi, skill komunikasi (dalam hal ini kemampuan berbahasa) pasti dibutuhkan.

Permintaan akan kemampuan bahasa ini pun semakin lama semakin tinggi. Kalau dulu tiap pelamar kerja minimal harus bisa bahasa Inggris, yang ditunjukkan dengan setifikat kursus misalnya. Sekarang, permintaan di pekerjaan bukan sekadar “sertifikat”, tapi juga permintaan untuk kemampuan penguasaan bahasa Inggris baik lisan maupun tulisan. Bahkan di beberapa perusahaan ada pula yang meminta bukti nilai TOEFL, misalnya.

Nah, sekarang, kalau enggak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Ke depannya, saya pikir kemampuan bahasa Inggris memang sudah jadi suatu keharusan, yang menjadi nilai tambah adalah jika bisa menguasai bahasa asing lainnya. Dulu, bisa berbahasa Inggris adalah suatu nilai tambah, sekarang bukan lagi karena itu adalah keharusan.

Kalau kita nanti enggak mau kalah bersaing dengan orang-orang dari Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan tetangga-tetangga kita lainnya di kawasan ASEAN, kita harus mulai menyiapkan diri kita dari sekarang. Kalau masih ada yang berpikir jadi dokter itu (pasti) sukses (secara materi), coba pikir-pikir lagi untuk delapan sampai sepuluh tahun ke depan. Semua menjadi lebih relatif, dalam arti, ya… belum tentu juga. Kalau masyarakat kita nantinya di masa depan bisa mendapat pengobatan dengan kualitas dokter Singapura (dari orang Singapura asli) tapi dengan tarif lokal (yang pastinya enggak perlu repot-repot beli tiket pesawat), apa bisa dijamin dokter lokal (pasti) sukses? Terus kalau gitu, lulusan-lulusan dokter kita apa harus “gigit jari”? Apa lulusan dokter Indonesia nanti harus di Puskesmas semua, sementara dokter-dokter spesialis dikuasai orang-orang Singapura, Malaysia, atau Thailand? Pastinya kan kalau mau bersaing di pasar harus punya nilai jual yang membuat orang mau menggunakan jasanya.

Lain cerita kalau misalnya si lulusan fakultas kedokteran universitas dalam negeri ini menguasai keterampilan bahasa. Bukan enggak mungkin dia buka “lapak” di negara lain, sama halnya dengan WNA-WNA di kawasan ASEAN lainnya yang berlomba-lomba nanti menyambung hidup di Indonesia.

Nah, hal-hal semacam ini yang wajib banget kalian pikirkan dari sekarang. Jangan pernah cepat puas dengan apa yang kita punya sekarang. Terus gali potensi diri, kembangkan kemampuan, supaya nanti enggak kalah bersaing dengan orang lain. Belajar jangan lagi sekadar belajar, tapi lebih dari itu perbanyak pengetahuan di luar sekolah. Ikut aktif berbagai kegiatan yang positif, atau organisasi, supaya soft skill kita terlatih. Jangan lupa juga, soal bahasa. Sekarang orang bisa berbahasa Inggris itu hal yang biasa, bukan sesuatu yang istimewa. Karena itu, coba kuasai minimal satu bahasa asing lainnya selain bahasa Inggris. Dengan begitu, kemampuan itu bisa menjadi nilai tambah bagi diri kalian untuk menghadapi persaingan global di masa depan.

Baca juga: Apa yang harus Anda ketahui tentang Masyarakat Ekonomi Asean

Fauzan Al-Rasyid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *