Media Sosial Itu Pilihan

Hari ini teknologi sudah sangat maju. Banyak hal dapat kita lakukan tanpa bergerak karena kemajuan teknologi tersebut. Mari kita contohkan saja remote pendingin ruangan atau AC. Beberapa tahun yang lalu, untuk menyalakan AC kita harus memencet tombol on di remote di dinding dekat AC kita. Menyusul kemudian adanya remote AC yang tidak menggunakan kabel sehingga kita tidak perlu berjalan ke remote di dinding dekat AC untuk menyalakan AC. Baru-baru ini kita bahkan tidak perlu menggunakan remote untuk menyalakan AC. Dengan sendirinya AC kita akan mendeteksi apakah kita sedang di ruangan tersebut atau tidak. Kalau kita berada di dalam ruangan, AC akan otomatis nyala dan menyesuaikan suhu ruangan yang kita butuhkan.

 

Itu baru contoh dari satu alat elektronik saja. Selain sangat maju, teknologi juga sangat cepat berkembang. Begitu juga dengan alat kominikasi. Dari surat yang dikirim melalui burung merpati sampai telepon genggam yang sangat mudah dan murah. Kini telepon genggam juga dilengkapi dengan fitur-fitur canggih yang mendukung kemudahan berkomunikasi. Kita juga bisa mengakses internet untuk “bermain” dengan media sosial melalui telepon genggam seperti yang sering kita lakukan.

 

Seperti yang kita tahu, media sosial sudah menjamur di rakyat Indonesia terutama untuk generasi muda. Indonesia selalu menduduki peringkat atas pengguna media sosial terbanyak di dunia. Tidak ada anak muda yang tidak memiliki akun Twitter atau pun Facebook. Maraknya media sosial di semua kalangan tentu memiliki segi positif dan segi negatif. Salah satu pengaruh yang paling mencolok dengan adanya media sosial adalah bagaimana sebuah informasi dapat diketahui secara luas dengan waktu yang bisa dibilang cepat.

 

Contohnya saja kita bisa mengetahui kabar mengenai meninggalnnya Cory Monteith yang baru-baru ini gempar diberitakan di segala media sosial. Sejak dikabarkan meninggal di daerah Vancouver, dalam waktu yang tidak sampai satu hari kita langsung mengetahui berita tersebut melalui Twitter atau media sosial lainnya. Jarak sudah tidak menjadi masalah untuk mendapatkan informasi. Yang dulu kita harus membaca koran atau menonton TV dahulu untuk mengetahui sebuah informasi, sekarang kita hanya cukup mengambil telepon genggam kita dan mengakses ke media sosial favorit. Tinggal ketik apa yang ingin kita tahu di kolom search maka kita akan mendapatkan informasi apapun yang kita butuhkan.

 

Seringnya penggunaan media sosial kadang dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti spekulasi atau gosip. Yang sering terjadi di kalangan cewek-cewek anak muda masa kini adalah apabila seseorang mem-tweet di Twitter sesuatu misalnya “with him”, tweet-nya akan dibaca oleh banyak orang dan muncullah pertanyaan-pertanyaan spekulasi yang menghasilkan gosip. Tidak jarang juga tweet mencemooh yang meskipun tidak menyebutkan nama dapat menimbulkan sakit hati bagi pembacanya. Itu masih dua dari banyak contoh yang kerap terjadi akibat bercuap di media sosial.

 

Cepatnya penyebaran informasi melalui media sosial dimanfaatkan oleh banyak orang. Salah satunnya adalah para penjual. Mereka mempromosikan dagangannya melalui media sosial seperti Twitter dan Facebook. Berbagai macam barang dagangan dipromosikan melalui media sosial seperti baju, tas, sepatu, gadget, ataupun makanan. Nah, apabila kita ingin membeli salah satu barang yang dijajakan di media sosial, kita hanya perlu memberi komentar di posting-an tersebut.

 

Selain untuk berjualan, tidak sedikit pula para politisi berkampanye melalui media sosial. Media sosial merupakan media kampanye yang paling gampang, murah, dan efektif. Mereka ingin mendekatkan diri kepada rakyat melalui media sosia tersebut. Tentu saja sasaran kampanye mereka adalah generasi muda seperti kita yang merupakan kebanyakan pengguna media sosial. Bahkan Pak Presiden juga sekarang memiliki akun Twitter dan halaman Facebook. Meskipun banyak menuai pro dan kontra, namun saya pribadi setuju-setuju saja. Apa salahnya sih? Lagipula dengan demikian, kita jadi tau apa yang sedang Pak SBY tangani untuk Indonesia. Selain itu pemerintah kita juga bisa diharapkan menjadi transparan melalui media sosial tersebut.

 

Media sosial memang memudahkan kita untuk berkomunikasi dan mencari informasi yang kita butuhkan. Namun ada pula dampak negatif yang ditimbulkan akibat dari maraknya penggunaan media sosial di antara kita. Kita jadi lebih sering memperhatikan layar gadget dan bermain media sosial daripada memperhatikan orang sekitar kita. Kita bisa menjadi pribadi yang tidak peka terhadap lingkungan.

 

Selain itu media sosial juga dapat mengurangi interaksi secara tatap muka dengan orang lain karena kita sibuk dengan gadget kita masing-masing. Mari kita lihat, apabila kita sedang berada di sebuah halte sedang menunggu angkutan umum, kita akan lebih memilih memegang gadget kita dan bermain Twitter, Facebook, Path, atau media sosial lain daripada berkenalan dengan orang yang duduk di samping kita dan mengobrol dengannya. Coba saja media sosial tidak ada, kita akan bosan melihat telepon genggam kita terus menerus dan lebih memilih mengajak ngobrol orang yang ada di samping kita.

 

Tidak jarang juga teman kita menjadi menjengkelkan ketika kita sedang berbicara dengannya namun dengan asyiknya ia tertawa kepada gadget-nya yang sedang membuka akun Twitter-nya kemudian menoleh ke arah kita dan bertanya ada apa.
Semua hal selalu memiliki dampak positif dan dampak negatif. Sama dengan gadget dan media sosial yang menjamur di abad ke-21 ini. Tergantung kita apakah kita memilih untuk menjadi penggila media sosial yang tidak peka akan lingkungan atau menjadi pengambil manfaat dari media sosial saja.

 

Sevira Marsanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *