Memeluk Asa Menuju Puncak Gunung Gede Bersama Carvedium (Bagian III)

Suatu Akhir

Alhamdulillah, puji syukur kepada Tuhan, akhirnya saya dan kelompok saya tiba di pos terakhir menjelang Maghrib! Mereka mengurus segala macam laporan kepada petugas—suatu aturan formal. Tapi saya turun duluan sedikit lagi menuju warung tempat berbenah, saya ditemani Hana. Setibanya saya di sana, saya langsung menuju kamar mandi. Awalnya saya ragu, karena bak airnya kotor dan kran air tidak menyala, tapi saya ingat kata Fatah, “Pokoknya ya, kalo gua udah nyampe warung, gua bakal mandi! Mau airnya kotor kek mau airnya dingin kek bodo amat yang penting mandi!”. Ah, saya pun mulai membasuh tubuh saya.

Perjuangan ini sudah berakhir, pikir saya. Saat saya keluar kamar mandi, kelompok saya sudah berada di warung semua. Fandi, Fajar, Adit sudah siap dengan teh manis panas mereka, yang saya seruput pula. Yang lain banyak yang berbenah dan bersiap-siap mandi. Saya bergabung dengan yang sedang makan, kami kembali berbincang dan mengenang-ngenang hari-hari kami yang sebenarnya buruk, karena bagi mereka yang sudah beberapa kali mendaki, pendakian kami kali ini cukup sulit karena cuaca yang enggak bersahabat. Tapi sejujurnya, setelah semuanya nyaris berakhir, yang banyak saya ingat adalah hal-hal yang seru, walaupun hal-hal yang buruk juga enggak bisa dilupakan.

Kepulangan

Dalam perjalanan menuju rumah

Dalam perjalanan menuju rumah

Setelah makan, solat, dan berkemas, kami pun siap melanjutkan perjalanan kami menuju Jakarta sekitar pukul setengah 8 malam dengan mencarter angkot menuju Cipanas. Setelah kami turun dari angkot pukul 8.45 malam, kami menunggu bis. Di bis saya kembali duduk bersama Ule, Nabila dengan Mine di depan saya, Akrima dengan Fatah di belakang saya, Adit dan Fandi dua bangku di depan saya, megikuti Pak Suryo sendiri di bangku seberang mereka, sedangkan Fajar dan Hana saya enggak tahu, mungkin di belakang. Saya tertidur sepanjang perjalanan. Tanpa terasa, pukul 12 tengah malam kami tiba Terminal Kampung Rambutan. Kami mulai berpisah, ada yang dijemput ada yang naik angkot.

Saya tiba di rumah pukul 1 dini hari, saya memutuskan untuk tidur di kamar ibu saya. Sudah dua malam ini saya tidur bersama Ibu Pertiwi, yang memeluk saya mesra hingga meremuk ke tulang, meninabobokan saya dengan angin yang mencabik ke kulit, menimang saya di sebuah ruang gelap jauh dari apa pun. Malam ini, saya merindukan ibu saya, ibu saya yang lain, ibu saya yang dengan garbanyalah saya tiba di dunia yang luas ini, dunia yang saya baru tahu bisa jadi sangat liar dan keras. Saya yakin teman-teman yang lain pun kini sudah tertidur di atas kasurnya yang bukan lagi bebatuan, dengan sehelai selimut yang bisa puas-puas mereka gumul sendiri, juga dengan suhu kamar yang memanjakan.

Sebuah Perenungan

Banyak pelajaran yang saya ambil dari perjalanan saya mendaki Gunung Gede. Tentang betapa pentingnya pengaturan waktu, dan tentang bagaimana kita harus menyelesaikan apa yang telah kita mulai, juga tentang komitmen dan peneguhan hati bahwa kita tidak akan menyerah. Itu pelajaran yang saya dapat dari perjalanannya.

Tapi kalau pelajaran yang saya dapat dari manusia-manusia pendaki gunung ini beda lagi. Melalui mereka saya melihat solidaritas yang luar biasa, yang mau menanggung beban-beban kelompok bahkan beban orang lain, bagaimana para laki-laki mau menunggu perempuan yang kodratnya lebih lemah di saat mereka bisa sampai duluan jika mereka mau, dan mereka pantas, karena merekalah yang membawa carrier sepanjang perjalanan. Juga bagaimana mereka mau bangun di tengah tidur mereka untuk menemani saya pipis di sebuah malam yang beku dan gulita. Bagaimana mereka sangat peka dengan keputusasaan yang saya rasakan dan usaha saya untuk menyimpannya rapat-rapat, tapi mereka tahu, dan mereka menyemangati. Bagaimana mereka membagi apa pun, APA PUN, yang bisa dikonsumsi hingga menjadi sebelas bagian. Bagaimana mereka saling mau ada di belakang agar mereka dapat menjaga.

Selain solidaritas, saya menemukan sebuah sikap toleransi yang sangat besar dari mereka, tentang mungkin betapa egoisnya saya, merepotkannya saya, atau sebanyak apa saya mengeluh, tapi mereka selalu di sana untuk membantu, mereka enggak lantas pergi dan muak dengan saya. Tentang bagaimana mereka menyuruh saya mengganti pembalut (saya harap ini bukan hal yang tabu untuk diceritakan) di dalam tenda, karena tidak ada tempat lain yang memungkinkan. Dan bagaimana mereka mau menemani salah satu dari kami untuk buang hajat, hahaha.

Mereka adalah pendaki yang bersih, yang benar-benar mencintai alam, enggak pernah mereka biarkan ada satu pun sampah dibuang selain di trashbag yang kami sediakan dan kami bawa sepanjang perjalanan. Seperti saat Akrima lupa di mana trashbag kelompok kami yang dari tadi ia bawa, ia rela naik lagi ke atas jika memang tertinggal, dan ternyata Hana membawanya turun saat Akrima lupa membawanya turun.

Ada banyak hal yang saya kagumi dari mereka, hal-hal yang membuka mata saya, hal-hal yang awalnya enggak saya kenal apalagi paham, tapi saya amati sikap dan sifat mereka yang begitu saya puji maka kini saya mengerti. Pada dasarnya manusia memiliki akal untuk berpikir, emosi untuk merasa, dan nafsu sebagai alat pemuas (saya sebut mereka alat pemuas karena tanpa nafsu sesungguhnya kita tidak punya desakan untuk dipenuhi sehingga kita enggak bisa mencapai suatu kepuasan), dan hanya manusia sejatilah yang dapat memanfaatkan dan menaklukan ketiga unsur itu dengan baik dan benar. Melalui 10 orang tersebut secara kasat saya lihat merekalah sosok manusia sejati.

Seselesainya saya menulis jurnal perjalanan saya bersama 10 manusia pecinta alam, saya memperhatikan telapak tangan saya, yang kini muncul guratan-guratan halus seperti kertas habis diremuk, saya perhatikan telapak tangan saya baik-baik. Telapak tangan saya yang bergurat, telapak tangan saya yang kini buruk rupa, telapak tangan saya yang merupakan saksi dari sebuah perjalanan yang agung.

Chairunnisa Niken Lestari

Chairunnisa Niken Lestari

Tamat

 

Niken Lestari

4 thoughts on “Memeluk Asa Menuju Puncak Gunung Gede Bersama Carvedium (Bagian III)

  • Setelah saya membaca cerita perjalanan kali ini (walaupun saya pernah melakukannya beberapa tahun yang lalu) tetap saja takjub, apalagi pemilihan bahasa Niken bagus jadi serasa nyata. Jadi nyesel gabisa ikut perjalanan ke Gede ini bareng-bareng saudara seperjuangan,keluarga kedua, Carvedium :*. Tapi rasa itu kini agak berkurang karena membaca tulisan kamu 😀 keep writting!

  • hehe trims buat positive feebacks nya!
    ayooo kakak2 naik gunung bareng anak carve angkatan muda^^
    saya sendiri bukan anak carve lho hehe cuma penasaran rasanya naik gunung :p

Leave a Reply to Nurina Noviarini Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *