Miss World di Indonesia?!

Perspektif Narasumber

Radhiyan Pribadi Pasopati (XII IPS SMAN 81 Jakarta)

Kalau gue presiden dan kebijakan gue itu melarang Miss World maka tugas dan tanggung jawab atas keputusan gue itu adalah ekstensi pembasmian seluruh kegiatan asusila di Indonesia, atau kalo perlu pindahin ke Papua yang jauh dari tempat agama Islam, nah kalo dari awal sendiri kenapa harus ada Miss Indonesia? Toh Miss World sama kayak Miss Indonesia karena enggak ada sesi bikini lagi.

 Yasmeen Firyaalia (X IPS 2 SMAN 81 Jakarta)

Setuju aja Kak, kan kalo Miss World diadain di Indonesia, Indonesia jadi famous dan lagi Bali kan tempat acaranya pasti ke-shoot kan view Balinya? Bakal narik wisatawan yang banyak banget karena Miss World itu disiarin di seluruh dunia secara internasional. Devisa kita bakal tinggi dan menambah tali silaturahim kita dengan negara2-negara yang berpartisipasi juga dalam Miss World.

 Sarah Anisa Maulia (X IPS 2 SMAN 81 Jakarta)

Antara setuju sama enggak setuju sih Kak, setuju soalnya acara besar-besaran kayak Miss World gitu kan biayanya banyak, bisa nambah devisa negara, enggak setujunya itu mereka kan model ya, pasti bajunya juga yang terbuka gitu, terus kalo photoshoot-nya di depan umum, apalagi di Indonesia pake baju kayak gitu ya pasti juga bakal jadi pusat perhatian lah, malah baju-baju yang mereka pakai bisa jadi nge-trend-an ditiruin sama masyarakat Indonesia.

 Reghina Magrisya (XII IPA 3 SMAN 71 Jakarta)

Kalo gue jadi Presiden Indonesia nih gue bakalan dukung kegiatan Miss World. Kenapa? Kita tuh bisa buktiin ke negara lain kalo Indonesia bukan negara bodoh dengan buktinya Vania Larissa bisa ikut Miss World.

“Banyak negara yang memperebutkan acara tersebut agar bisa terselenggara di negara mereka, tetapi tidak berhasil. Kita harusnya bangga, dipercaya dunia internasional dan kita bisa ambil kesempatan ini untuk mendongkrak devisa kita melalui promosi pariwisata,” kata Wiranto.

 

Yuk tarik benang merahnya, intinya setuju, poin-poinnya ialah:

 

1 Permasalahan ekonomi, yang di mana sangat pas untuk meningkatkan devisa negara, maka perekonomian akan menjadi baik, ditambah lagi pada bidang pariwisata khususnya sangat berkembang dan Bali menjadi makin tenggelam karena akan dipadati para wisatawan, hahaha just kidding.
2 Makin tenarnya nama Indonesia di mata mancanegara. Tapi, selama ini orang-orang yang ada di luar negeri, jika ditanya tentang Indonesia mereka tak kenal, namun jika ditanya tentang Bali maka mereka mengenalnya, jadi negara kita Indonesia atau Bali di mata internasional?
3 Kalau pun enggak setuju, kenapa ada Miss Indonesia? Jadi enggak masalah Miss World ke Indonesia apalagi acara ini sangat diperebutkan oleh berbagai negara untuk menjadi tuan rumah masing-masing negara, nah suatu kebanggan deh bagi kita karena menjadi tuan negara acara tenar ini.

 

Nah, masalahnya, kok banyak banget sih ranah yang ada di bawah presiden seperti menteri-menterinya, ormas-ormasnya, dll. menentang kebijakan presiden yang setuju? Apakah negara kita sudah tak demokratis lagi sehingga ranah yang ada di bawah presiden selalu ditolak? Atau ada politik tersembunyi sehingga muncul konflik ini? Hihihi.

 

Dalam pandangan Islam gimana? Kok lebay banget sih? Hmm… iya juga sih, tapi kan…

 

Latar belakang, Islam di Indonesia

Not what and how, but WHY! ―Felix Y. Siauw

1 Sebagian besar permasalahan di Indonesia ialah, orang-orang diajari Islam ialah mengerti apa itu Islam, bagaimana hukum dalam islam, tahu apa itu iman dengan artinya ialah percaya, dan bagaimana mengamalkannya ialah menghafal Asma’ul Husna, mengenal nama-nama malaikat, kitab, dll. Tahu apa itu puasa, dan bagaimana melaksanakannya. Namun, jika ditanya kenapa kamu Islam? Kenapa kamu sholat? Kenapa kamu berpuasa? “Ya karena saya Muslim, dan itulah Islam.” “Karena ibu bapak gitu…” Ada paradoks di sini, layaknya “Bebek dari mana? Dari telur, telur dari mana? Dari bebek, bebek dari mana? Dari telur…” Akhirnya yang terjadi ialah, orang yang tahu sholat, bagaimana sholat, tapi enggak mau sholat. Lalu, orang yang tahu puasa, bagaimana puasa, tapi males-malesan bahkan enggak mau puasa. Nah, yang harusnya dibenahi ialah, dimulai maupun disolusikan dengan menekankan “Why Should Islam?”.  Ini masalah terpenting, bukannya secara keras merusak pencitraan Islam dengan perlawanan. Toh, kalau ini sudah kuat, maka secara otomatis Muslim tak latah ingin mengikuti Miss World.
2 Oke, jangan salahkan yang besar, tapi mulai dari yang kecil, yang rutin dan sering, karena itulah yang mengalir. Ya, itulah yang kecil maksud saya, namun dampaknya besar! Bukan yang besar tapi dampaknya kecil, yang hanya ‘one event’ dengan mitos akan berdampak besar karena masyarakat latah kita, yup, semua tergantung dari hal kecil itu. Hal kecil itu seperti program acara yang ada di televisi, di mana wanita dieksploitasi untuk periklanan, lalu dalam pameran-pameran mobil wanita juga susah sekali lepas dari hal ini, hingga tak tahu sebenarnya yang sedang dipamerkan ialah mobil atau wanita, dan masih banyak lagi hal kecil tersebut, lantas kenapa ormas-ormas serta menteri, MUI, dan kawan-kawannya yang berbau Islam tidak mempermasalahkannya? Apa dengan dalil “ya… itu sih udah budaya kita, tidak separah Miss World 2013 yang tak sesuai dengan budaya kita.” Emang budaya kita apa? Budaya mereka buruk dan kita baik? Budaya mereka memamerkan badan yang terlalu mencolok? Dan apa yang mereka katakan tentang budaya setempat yang masih tak berbusana? Itu kan budaya Indonesia.

 

Hehehe, kontra dengan Islam ya? Coba ditelaah lagi, kita sedang mencari keadilan untuk masyarakat yang heterogen jika kita diposisikan sebagai pemerintah. Ya, kita Islam, namun yang kita pimpin bukan islam, walau mayoritas. Namun, apa yang dibutuhkan negara, itulah jawabannya.

 

Itu semua mayoritas pembahasan terhadap pemerintah, harus ngapain sih pemerintah terhadap Indonesia, salah satu khususnya Miss World.

 

Nah jika saya Presiden RI, tanggapan saya terhadap pelaksanaan Miss World 2013 di Indonesia: setuju! Pas banget dengan keadaan Indonesia yang perlu dikenal maupun mengenal, sehingga bisa mengambil hal baiknya untuk Indonesia dan memberi yang terbaik dari Indonesia, tak hanya itu, hal vital yang perlu ditekankan ialah permasalahan ekonomi. Yap, otomatis, meledaklah wisatawan yang berkunjung ke domisili para wanita jelita tingkat dunia, yaitu di Bali. Namun, kenapa malah berita yang gencar bukan ketegasan persetujuan SBY tentang diadakannya Miss World di Indonesia? Namun ormas-ormas, menteri-menteri, dll. yang berada di bawah lingkup presidenlah yang tidak suka dengan pengadaan Miss World itu, dengan keegoisan mereka tanpa melihat kebutuhan masyarakat dan alasan presiden, konflik pun terjadi, ya bebas mengeluarkan pendapat, tapi enggak salah kan melihat kebutuhan masyarakat? Toh kekuasaan ada di tangan rakyat, hehehe.

 

Tak temu jua pembahasan di media tentang ‘kenapa sih SBY setuju sama Miss World?’, ya udah penulis pun mencoba menjadi sosok presiden, hahaha.

 

Kenapa setuju?

 

> Ingat kawan, “hutang!” ya, ingat ekonomi Indonesia, ingat pula hutang, tak jauh dari kata tersebut. bahkan bukan lagi bernama hutang, namun bunga. Hutang yang telah ada sejak zaman Pak Harto hingga sekarang, telah bermekar layaknya bunga tak kunjung habis, hingga menjadi bunga yang ‘harum semerbak’ menyengat para pimpinan yang ada di Indonesia. Para penagih hutang Indonesia pun tak segan-segan mem-“boneka”-i secara enggak langsung, ada ikatan di sini, bayangkan saja bagaikan kita mempunyai hutang kepada seseorang lalu jika kita diminta ini itu kepada sang penagih utang maka kita tak bisa menolaknya. Secara logika seperti itu, maka jadikanlah Miss World ini sebuah kesempatan untuk peluang menuntaskan hutang yang telah  berbunga itu. Bukannya menjadi ajang penjatuhan nama ‘cawapres’ kita si Hari Tanoe, ya sungguh permainan yang kasar.
> Budaya, ya… masih ingat tentang beberapa budaya kita diakui negara lain? Dicomot dengan tiba-tiba oleh negara lain, ditambah lagi negara tersebut ialah negara yang bersahabat dengan kita. Mmungkin salah satunya ialah kurangnya memamerkan budaya kita ke luar, yap, inilah saatnya, di Miss World Indonesia. Bagaimana jika disorot bahwa budaya kita ‘keren’? Wah bisa dijual banget keluar, manfaatnya buat ekonomi Indonesia juga nih. :)
> So, pastinya banyak lagi manfaat yang enggak bisa disebut di sini.

 

Solusinya yaitu…

 

Yok, cerdas! Pemimpin yang cerdas, tak latah dengan ini itu, hal-hal yang baru kira-kira keren tiba-tiba ditiru, padahal tak sesuai dengan tujuan Indonesia. Merencanakan hal apa yang harus dibenahi terlebih dahulu, dan itu bisa terjadi perubahan secara signifikan untuk lima tahun ke depan. Ya… jika Pak Harto telah melakukan revolusi pembangunan secara signifikan sungguh tak heran, saya yakin siapa pun presidennya jika menjabat selama 32 tahun bisa saja melakukan pembangunan itu hehe.

 

‘Pembersihan’ kabinet! Terdengar susah, namanya juga dunia politik, mau jadi hitam salah mau jadi putih salah harus jadi abu-abu.

 

Tegas, layaknya Jokowi-Ahok. Hahaha, main banding-bandingin nih… tapi terlihat banget, revolusi yang dilaksanakan mereka emang top. Mulai dari Pasar Senen yang jadi rapih, menata pedagang kaki lima (PKL). Ddengan menata PKL di depan Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Sebanyak 36 PKL mendapat gerobak gratis. Shelter tempat mereka berjualan juga diperbaiki. Selain itu, para pedagang diberi Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) secara gratis, dll. (http://bit.ly/15wqsW3)

 

Yap, dan sungguh tantangan besar bagi mereka pemimpin atau siapa pun yang mencoba adil.

Orang jahat pasti ada yang membela, orang baik pasti ada yang mencela.

Nah, langkah dari kita sendiri apa nih temen-temen?

 

Jantung. Ya… jantunglah jawabannya. Jadilah jantung kawan, tak peduli tindakannya terlihat atau tidak, tapi getarannya terasa untuk mengaktifkan orang-orang yang butuh untuk hidup, semakin cepat semakin besar energi yang dihasilkan, begitupula sebaliknya semakin kecil detak maka semakin kecil energi yang dihasilkan untuk orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita. Ubahlah hal kecil yang ada di sekeliling kita, dengan memperingatkan bahwa hal tersebut tak baik, dan baiknya adalah begini.

 

Dan satu lagi, it’s so simple. Pastinya teman-teman pembaca masih ingat kan janji kita sebagai warga negara Indonesia di pembukaan UUD? *duh males banget gue ngingetnya* Hehehe jangan gitu dong, toh itu buat kita sendiri dan yang bangga kita, apalagi kalau bisa membanggakan Indonesia, top deh (Y). “… mencerdaskan kehidupan bangsa” begitulah tertulis di sana.  Jika terbentuk kebiasaan kita dalam kecerdasan untuk memimpin maka jika kita memimpin untuk ranah yang luas seperti Indonesia bisa teratasi. Kenapa harus cerdas sih? Ya pastinya butuh perencanaan yang matang untuk membuat hasil yang nyata di Indonesia, nah di situ butuh pemikiran yang cerdas dalam memimpin. Apalagi dalam ranah yang cukup luas, lalu belum lagi infrastruktur yang belum merata, dll.

 

Yang jelas, ada pesan nih dari Pak Soekarno :)

Beri aku seribu orang tua, akan aku cabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku ubah dunia.

Luthfi Abdur Rahim (2)

One thought on “Miss World di Indonesia?!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *