Mobil Murah: Peluang bagi Para Remaja untuk Eksis atau Menambah Penat Pak Jokowi?

Hadirnya mobil-mobil murah sangat disambut gembira oleh segelintir orang-orang yang mempunyai pendapatan yang bisa dibilang ‘tengah-tengah”. Mobil murah juga sangat diminati oleh segelintir remaja yang juga kebelet eksis, karena membawa kendaraan ke sekolah,tempat les, tempat nongkrong adalah hal yang bisa dikatakan wah apalagi itu adalah hasil dari jerih payah atau tabungan uang jajan mereka setiap harinya. Hal ini sejujurnya sangat positif untuk kalangan remaja karena mereka berusaha keras untuk mengumpulkan dana yang mereka ingin gunakan untuk membeli mobil-mobil murah tersebut.

 

Akan tetapi, Mobil-mobil murah tersebut juga bisa menambah pikiran yang ruwet untuk Pak Jokowi, karena pastinya orang-orang yang membeli mobil-mobil murah tersebut sudah tidak akan menggunakan kendaraan umum, seperti busway, angkot, dll. mereka pasti akan memakai kendaraan pribadi masing-masing. dan hal itu akan menambah benang kusut di daerah DKI Jakarta.

 

Kemacetan di daerah Jakarta juga pun berdampak kepada tata kota Jakarta yang semakin menyempit. Karena banyaknya pelebaran jalan. dan hal itu juga disebabkan oleh kemacetan yang selalu dikeluhkan oleh masyarakat Indonesia. Bukan hanya tata kota Jakarta yang menyempit, lingkungan Jakarta pun pastinya akan ikut terpengaruh. Karna pastinya polusi kendaraan pun akan terus bertambah, dan sampah-sampah pun hampir terbengkalai. Walaupun sekarang sudah banyak orang-orang yang peduli kepada kebersihan lingkungan jakarta,akan tetapi pastinya polusi akan terus bertambah pastinya dengan adanya mobil-mobil murah tersebut.

 

Namun, kalangan pengusaha menilai mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC) masih jauh lebih bagus daripada completely buid up (CBU), setidaknya karena mobil murah tidak memboroskan devisa negara. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi berpendapat, “Kalau mobil murah itu ada baiknya buat kita daripada mobil-mobil mahal yang menghabiskan devisa kita,” meski mendukung LCGC, Sofian juga menambahkan bahwa pemerintah lebih harus memperhatikan perbaikan infrastruktur jalan dan transportasi umum. Karena menurut beliau, penyebab dari kemacetan adalah perbaikan dari jalan-jalan tersebut.

 

Menurut Wajiran S.S., dosen Ilmu Budaya di Universitas Ahamd Dahlan Yogyakarta, dikeluarkannya mobil murah adalah bukti ketidakberdayaaannya pemerintah terhadap investasi perusahaan. Hanya para pengusaha yang diuntungkan dalam kebijakan ini. Mereka dengan gembira menerima banyak orederan mobil murah yang didapat, sedangkan kelas ekonomi melemah hanya akan menikmati kemacetan di mana-mana. Yusuf Kalla pun mendukung dengan adanya mobil murah ini, ia beranggapan bahwa mobil murah adalah bagian dari layanan pemerintah kepada rakyat yang mempunyai ekonomi yang pas-pasan.

 

Kehadiran mobil murah ini pun secara telak akan mematahkan keberadaan mobil nasional yang selama ini didambakan oleh masyarakat. Para investor mobil nasional pun akan sulit bersaing dengan kompetitor besar yang telah mempunyai modal yang lebih besar dan peralatan yang lebih maju.

 

Jokowi pun menolak tegas dengan adanya mobil murah ini. Ia tetap konsisten dan realistis dengan adanya kebijakan mobil murah ini. Ia menolak dikeluarkannya mobil murah karena kebijakan ini akan melahirkan masalah baru bagi negeri ini. Keputusan Jokowi untuk memboikot pameran mobil murah yang diselenggarakan IIMS dengan tidak menghadiri undangan panitia adalah langkah yang berani. Ia menolak kebijakan pemerintah yang telah merestui adanya mobil murah. Jokowi juga telah mengirimkan surat keberatan atas keberadaan mobil murah kepada Wakil Presiden.

 

Saya sendiri pun hampir tidak setuju dengan adanya mobil murah ini, meski ini juga sangat menguntungkan untuk orang-orang yang perpendapatan pas-pasan dan remaja-remaja, akan tetapi dampaknya akan melebar kemana-kemana, seperti kepada kemacetan, pola hidup kita, tata ruang kota, lingkungan, dll. Lebih baik panas-panasan sebentar daripada untuk 20 atau 30 tahun yang akan datang kita akan tersiksa di dalam habitat kita sendiri. Selain menghemat uang saku, menggunakan transportasi umum juga telah melatih kedisiplinan kita dan kemandirian kita. Sekian, arigatou, terimakshyi!

 

Shoraya Annisa Sariwardani (nametag)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *