Pacaran, Itu Perlu?

image

Artikel saya kali ini membicarakan suatu topik yang sudah sangat familiar untuk remaja seumuran kita. Apa itu? Sesuai dengan judul yang saya gunakan, topik artikel saya adalah mengenai pacaran, lebih tepatnya perlukah pacaran itu sebenarnya. Bangsa kita awalnya tidak mengenal kata “pacaran” itu sendiri. Namun, karena adanya perkembangan zaman dan globalisasi, kata tersebut sekarang sangat kita kenal, apalagi di kalangan remaja seperti kita. Di zaman sekarang ini, bukan hanya kalangan dewasa atau remaja yang sudah mengenal pacaran, melainkan anak-anak juga sudah mengenalnya. Bahkan karena perkembangan zaman, gaya berpacaran saat ini mulai beragam, dan tentu ada sisi positif dan negatifnya.

 

Bagi kebanyakan orang tua, remaja seumuran kita kemungkinan belum pantas untuk berpacaran. Tetapi itu tergantung dari masing-masing pandangan berbagai orang tua. Karena pasti ada saja orang tua yang pro dan juga kontra. Menurut informasi dari beberapa narasumber yang saya dapat, kebanyakan orang tua mereka kurang setuju putra/putrinya berpacaran, tetapi saat sudah tahu anak-anaknya berpacaran, mereka akhirnya membolehkan. Ada pula yang dari awal tidak mengizinkan pacaran, dan ujung-ujungnya mengakibatkan si anak berpacaran diam-diam (backstreet). Ada juga yang orang tuanya membiarkan anaknya pacaran, bahkan mendukung. Jadi, itu semua tergantung pandangan atau persepsi mereka masing-masing, bukan?

 

Di kalangan remaja seperti kita ini yang sedang labil-labilnya, pasti masih sulit berpikir untuk memilih mana yang baik untuk kita dan mana yang buruk. Termasuk berpacaran, apakah berpacaran itu diperlukan atau tidak. Karena pemikiran setiap orang berbeda, pasti opini atau persepsi yang saya dapat juga beragam. Menurut hasil yang saya dapat dari berbagai narasumber, opini mereka mengenai pacaran sangat bervariatif, ada yang pro dan juga kontra. Berikut sedikit opini dari salah satu narasumber,sebut saja si J.

Menurut saya, pacaran itu enggak diperluin untuk remaja seumuran kita. Mungkin ada yang bilang pacaran itu perlu, tapi bagi saya enggak, karena pacaran ganggu belajar saya, dan juga untuk sekarang ini merepotkan, secara saya hidup masih dibawah asuhan orang tua, dan belum bekerja, jadi bagi saya itu enggak perlu. Lebih tepatnya sih belum diperlukan.

Itu merupakan salah satu contoh dari pihak yang kontra. Contoh lainnya dari pihak kontra, mengakatan pacaran belum diperlukan, jika mereka berpacaran, itu hanya karena untuk senang-senang saja, sekedar have fun. Begitu istilah yang mereka gunakan. Tetapi, jika ada kontra tentu ada yang pro, tidak sedikit beberapa narasumber yang memberi tanggapan cukup positif. Menurut pihak yang pro, mungkin pacaran memang merepotkan, tapi kalau tidak mau repot ya jangan pacaran. Meskipun terdapat sisi negatifnya, sisi positifnya juga ada. Seperti berpacaran seusia kita, dapat meningkatkan semangat kita, dapat juga menaikkan mood. Berpacaran juga dapat memacu kita untuk lebih giat belajar, karena ingin menyaingi nilai pasangan, jadi lebih giat, atau karena termotivasi. Beberapa contoh sisi negatifnya yaitu, menurunkan semangat, menurunkan mood, mengganggu konsentrasi belajar, dll. Selain itu karena berpacaran, kita mengalami berbagai emosi, emosi amarah,emosi sedih, emosi takut, emosi bahagia,dan emosi malu. Meskipun tidak berpacaran juga pasti mengalami emosi-emosi tersebut, tetapi berbagai emosi tadi akan berbeda saat kita sedang berpacaran. Contoh, emosi malu, jika kita satu sekolah, dan baru selesai ujian, pasti terkadang topik yang dibahas adalah hasil nilai-nilai ujian yang baru keluar, dan terkadang ada rasa malu atau istilahnya minder, karena nilai kita jelek. Itu merupakan opini dari pihak-pihak yang menganggap pacaran itu perlu.

 

Kembali ke pihak yang kontra, beberapa ada yang mengatakan, pacaran hanya untuk senang-senang. Sebelum itu kita harus mengartikan apa maksud senang-senangnya. Kemungkinan ada yang memang senang dalam arti positif, tapi ada juga yang negatif. Untuk itu sebagai remaja yang berpendidikan kita harus lebih selektif dan cermat dalam memilih atau melakukan suatu hal. Karena, di zaman yang tingkat globalisasinya sudah tinggi ini, kebanyakan remaja sangat mudah terpengaruh dan kurang berprinsip. Seperti di awal saya mengakatan, zaman sekarang gaya berpacaran sudah bermacam-macam. Jika pernah mendengar kritik “anak-anak zaman sekarang itu urat malunya udah putus”. Berarti kita pasti tahu maksud dari kritik tersebut. Dilihat dari perkembangannya mungkin kritik tersebut benar. Karena adanya budaya dari luar, gaya berpacaran di saat ini banyak yang memunculkan sisi dan dampak negatif. Akibatnya, menyebabkan berbagai macam komentar yang tak enak didengar ataupun ketidaksetujuan dari orang tua. Kita seharusnya dapat lebih memilah mana yang pantas dan tidak pantas untuk kita ikuti. Tentu tidak semua budaya luar negatif, hanya saja budaya dari luar banyak yang tidak cocok dengan budaya Indonesia itu sendiri. Kebalikannya, bagi pihak yang mengganggap pacaran itu perlu hanya untuk senang-senang, sebaiknya dalam arti positif. Seperti belajar bersama, bisa saja dalam pasangan tersebut salah satunya ada yang lebih pintar, jadi lebih asik pacarannya sambil belajar. Atau karena sekelas mengerjakan tugas bersama, atau bisa juga berpacarannya, slaing mengajarkan bakat masing-masing. Itu merupakan contoh untuk yang positif.

 

Intinya, jika saya rangkum berbagai informasi dari para narasumber, sebenarnya berpacaran itu perlu untuk remaja seusia kita. Karena kita dapat belajar bukan hanya dari orang tua, teman, atau lingkungan, tetapi pasangan kita tersebut juga dapat memberi pelajaran. Dan dari pacaran kita juga dapat melihat berbagai pandangan, serta hal-hal yang kurang baik atau yang sangat baik. Semuanya tergantung kita masing-masing, bagaimana kita berpikir dan memilah-milah hal tersebut.

 

Yasmine Raudya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *