Penjajahan Budaya

Di era globalisasi seperti sekarang, banyak sekali informasi yang kita dapatkan dalam waktu singkat. Dengan fasilitas yang memadai kita dapat mengetahui informasi yang bermanfaat. Namun tidak semua informasi itu bermanfaat, melainkan informasi yang kita kira bermanfaat dapat menjerumuskan kita menjadi pribadi yang buruk. Seperti percampuran budaya yang kita anggap dapat mempersatukan budaya-budaya padahal budaya yang dominanlah yang menang.

 

Fenomena penjajahan budaya ini dapat kita saksikan di televisi kita, contoh kecil, para girlband dan boyband, kebanyakkan dari mereka meniru atau memiliki kemiripan dengan girlband dan boyband Korea. Ada juga salah satu idol group dari Jepang yang membuat sister group di Indonesia. dan ada Iklan kosmetik dengan embel-embel ‘cantik seperti orang Korea’. Sampai acara-acara televisi yang diadaptasi dari budaya barat yang belum tentu sesuai dengan budaya asli Indonesia. Apakah budaya itu bercampur dengan budaya Indonesia atau mendominasi sehingga remaja sekarang lebih senang dengan budaya asing?

 

Budaya asing itu seakan-akan membaur dengan budaya asli, sehingga tidak banyak orang yang menyadari bahwa ini adalah serangan terhadap budaya asli mereka. Budaya asing ini masuk dengan perlahan sehingga kedatangannya pun tidak langsung terasa. Target utama mereka adalah para remaja yang masih mencari jati diri mereka. Pada saat itulah mereka menanam budaya asing tersebut kepada para remaja tersebut. Sangat mudah bagi mereka mengendalikan para remaja tersebut dengan mengendalikan idola-idola mereka. Tentu saja idola-idola ini sudah menjadi boneka oleh para elite (penguasa) mereka tinggal ‘memainkan’-nya dan para penggemarnya (remaja) akan mengikutinya.

 

Tidak hanya para remaja yang menjadi sasaran, namun anak-anakpun dapat menjadi sasaran para elite. Mereka menggunakan kartun-kartun yang kurang mendidik bagi anak-anak, buku cerita yang mudah dicerna bagi anak-anak. Sulit untuk membatasi apa yang anak-anak layak untuk ditonton dan mana yang tidak. Anak-anak sangat mudah dipengaruhi namun masih dapat dicegah apabila orang tua yang peka terhadap ancaman-ancaman tersebut.

 

Apa keuntungan para elite membuat suatu bangsa tidak memiliki budaya asli?

 

Apabila budaya asing yang memiliki nilai negatif mendominasi dan budaya asli menjadi pudar, maka robohlah pondasi bangsa tersebut. Bagaimana tidak, apabila budaya asing merusak moral para remaja yang sebenarnya mereka adalah penerus bangsa. Apa yang terjadi saat remaja-remaja yang diharapkan menjadi penerus bangsa berubah menjadi penghancur bangsan, siapa yang akan tertawa? Para elite lah yang akan menertawakan kebodohan bangsa tersebut.

 

Para elite pun akan menggeruk semua kekayaan yang dimiliki bangsa tersebut. Apa daya bangsa tersebut melawan para elite? Jika semua harapan bangsa yang berada di tangan remaja-remaja telah sirna, hilang bak ditelan bumi dikarenakan budaya asing yang merusak moral remaja-remaja tersebut. Bagi para elite sangat mudah untuk melakukan itu semua, karena merekalah yang memiliki kekuasaan. kekuasaan di segala bidang, sehingga mereka memegang kendali semua hal.

 

Namun mimpi buruk tersebut dapat kita cegah dengan memperkuat pondasi bangsa kita, yaitu budaya asli kita. Jangan lupakan budaya asli kita, kita harus lestarikan setiap aspek budaya kita. Simpan yang baik dan buang yang buruk. Dengan begitu, pondasi bangsa kita akan tetap kokoh.

 

Budaya asing memang tidak sepenuhnya negatif, ada aspek-aspek budaya yang dapat kita jadikan contoh. Di masa yang serba cepat ini, kita harus jeli mana yang baik untuk kita dan mana yang buruk bagi kita. Semua tergantung bagaimana kita menyaring informasi-informasi yang kita dapatkan. Peran orangtaua dalam memilah informasi sangatlah penting, dengan menanamkan pondasi moral anak yang kokoh. Maka saat anak-anak itu menjadi remaja mereka akan lebih waspada akan ancaman-ancaman budaya asing yang negatif. Sangatlah penting untuk menjaga keaslian budaya kita, karena dengan begitu moral para penerus bangsa yang tetap terjaga dan menjadikan bangsa tersebut bangsa yang jaya.

 

Sebenarnya tidak hanya budaya asing yang negatif, namun ada juga budaya kita sendiri yang memiliki nilai-niali negatif. Maka dari itulah kita harus menghilangkan budaya yang jelek dan melestarikan budaya yang baik. Bangsa yang memiliki pondasi moral yang baik maka bangsa tersebut menjadi bangsa yang nomor satu.

 

Tulisan ini merupakan opini saya, bukanlah hasil suatu riset. Mohon maaf apabila kata-kata yang saya gunakan menyinggung anda. Terima Kasih telah membaca postingan saya, dan silahkan cek blog saya ivanriadi.blogspot.com.

 

Ivanriadi Trilaksono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *