Pikachu vs Bieber

Sebagai pengurus OSIS di SMA, sudah pasti aku harus menjalankan tugasku secara total dan profesional, bahkan pada saat liburan seperti ini. Enggak ada lagi waktu buat main-main apalagi pergi berlibur. Beda banget dengan masa kanak-kanak kita dulu. Kerjaan yang kita lakukan ya… cuma main, main, dan main. Tidak ada begadang karena belajar untuk ulangan, tak ada rasa malu untuk nyanyi kenceng-kenceng di depan umum, tak ada tugas sekolah yang betumpuk, pokoknya bebas deh. Haaah jadi kangen dengan masa-masa itu.

Masa kanak-kanak memang masa yang paling menyenangkan, semua terasa mudah dan menyenangkan. Aku juga tentunya menikmati masa kanak-kanakku. Rasanya ingin kembali kemasa-masa itu. Tapi pada generasi anak-anak saat ini sepertinya masa anak-anak bukanlah lagi anak-anak seperti kita dulu, bukan lagi generasi anak-anak yang hanya tertawa dan menginginkan kasih sayang dengan polos dan manisnya. Aku rasa ada yang salah dengan anak-anak ini. Yuk kita lihat bedanya…

Mainan. Tak dapat dipungkiri lagi mainan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dan ikut mempengaruhi perkembangan dari seorang anak. Kalau ingat-ingat zaman dulu, kita dulu punya banyak mainan, mulai dari tamiya, kelereng, trading card game, bekel , yo-yo, dan masih banyak lagi. Wah… senang rasanya bisa memainkannya dengan teman-teman. Tapi sekarang, coba kamu lihat di abang-abang mainan pinggir jalan, mainan yang dijual disana sekarang adalah berupa kartu Cherry Bell, Foto-foto Sm*sh , lirik lagu Seven Icon dan lengkap dengan biodatanya. Hahahaha, aku enggak bisa bayangin bagaimana mereka memainkannya. Mmm… mungkin nanti mereka bakal adu kekuatan antara Sm*sh vs JKT48 kali ya.

“Aku keluarkan Morgan! Seraaaang!!!!”
(-_-)

Oh ya, soal BB, iPad, iPhone, dan adik-adiknya itu sama sekali bukan mainan untuk anak kecil ya, plis banget deh… Bahkan mereka mungkin belum mengerti manfaat sesungguhnya dari gadget tersebut. Dengan hadirnya gadget tersebut di tangan anak-anak dapat membuat anak tumbuh menjadi anak yang cenderung konsumtif, sombong, dan dapat mematikan imajinasi mereka, kasihan kan?

Jika berbicara gaya dan dandanan … wesssh speechless deh aku. Coba aja lihat cowoknya , rambutnya macem-macem bro. Mulai dari jabrik, spike, jambul, bopak hingga ala-ala boyband Korea. Yaaaah keren sih emang, tapi sisi imut dari seorang anak yang terkesan manis dan polos sudah tidak tampak lagi dan lagi pula memangnya boleh di sekolah rambutnya gitu ya? Nah… kalau cewek-ceweknya lebih parah lagi, wajah imut nan manis sudah sering kali tertutup topeng make-up yang tebal, yang malah membuat mereka terlihat seperti tante-tante tua dengan badan cebol . Tapi itu masih terbilang biasa jika dibandingkan dengan anak-anak di usia taman kanak-kanak diluar sana yang telah melakukan implan payudara. Wow banget kan? Wow dong.

Dulu setiap hari untuk mengusir jenuh aku dapat menonton kartun setiap hari. Kartun mengajarkan banyak hal pada anak-anak mulai dari bahasa asing dan nama-nama benda (Dora, Blues Clues, dll), berani membela yang lemah, arti sebuah persahabatan, semangat pantang menyerah hingga mengajak untuk sering makan sayuran (Popeye) . Memang sih ada dampak buruknya juga, tapi kartun memang diperuntukan untuk anak-anak, tinggal orang tua saja yang dapat menuntun mereka menafsirkan adegan-adegan dalam kartun tersebut. Namun sekarang? Yang menjadi tontonan mereka merupakan adegan cinta-cintaan, pacar-pacaran, saling menghasut satu sama lain, hingga adegan rebutan pacar dan sumpah serapah dengan kata-kata yang tak patut didengar. Istilah tertukar anak, kawin kontrak, dan sebagainya juga telah biasa mereka dengar. Ya, itu semua ulah sinetron, yang mengisi acara TV dari pagi hingga lewat tengah malam kira-kira jam 3 pagi juga masih ada tuh sinetron ibu-ibu yang disiksa sama anaknya. Sok lah dicek kalo enggak percaya.

Oke enough ngebahas sinetron, lama-lama nanti aku ketahuan lagi hobi ngamatin sinetron, Eh? Sekarang coba deh kamu sebutkan lagu anak-anak yang popular saat ini? Apa? Coboy Junior? Hahahah plis deh itu lagunya tentang cinta-cintaan juga kan? Mana pantas untuk anak-anak. Dulu sih masih ada Joshua, Tasya, Sherina Tina Toon, dll. Tapi sekarang mereka malah menyanyikan lagu-lagu yang tidak semestinya untuk mereka.

Dulu anak-anak juga hanya memainkan rumah-rumahan, ibu-ibuan atau keluarga-keluargaan. Tapi kok sekarang anak SD udah pada jadian beneran ya? Weleh-weleh. Rada iri juga sih hehe… tapi itukan juga kurang baik. Eh, itu sih enggak seberapa bahkan jika kamu tengok anak-anak di daerah sudut kota kamu akan menemukan bahwa mereka sudah berteman dengan yang namanya zina, apalagi rokok, video porno, bahkan narkoba.

Kasihan memang. Oh ya, jika dipikir-pikir bukan anak-anak yang salah, mereka kan hanya dalam masa perkembangan dibentuk dan mendapat teladan yang baik mereka tentu akan baik. dari lingkungan di sekitarnya terutama orang tua. Lalu bagaimana peran orangtua sekarang?

Jadi beginilah kira-kira pandangan dari sisiku tentang “masa kanak-kanak yang indah zaman sekarang”, masa di mana Pikachu kalah melawan Justin Bieber. Lalu apa tindakanmu setelah ini?

Salam hari baru,

 

Juan Siva

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *