Pro Kontra Menjadi Tuan Rumah

20130907-181523.jpg

Hai saat saat ini berita terhangat di negara kita tentang Miss World kan ya?

 

Kontes kecantikan atau yang biasa kita kenal dengan nama “Miss World” akan diadakan pada tanggal 28 September 2013 dan ini merupakan edisi ke-63. Kali ini Indonesia mendapatkan suatu kehormatan yaitu akan menjadi tuan rumah dalam acara tersebut. Acaranya akan digelar di dua kota. Karantinanya di Nusa Dua, Bali. Sementara penobatannya akan dilaksanakan di Sentul International Convention Center, Bogor.

 

Wah… Keren dong. Jujur, aku merasa bangga Indonesia bisa berpartisipasi dalam ajang bergengsi itu yang sudah dikenal di seluruh dunia dalam hal ini bisa menjadi tuan rumah :D. Bukannya itu hal positif ya? Nih ya, coba berpikir positif kalau jadi tuan rumah pastikan indonesia dibicarakan sama semua negara, turis-turis juga pada berdatangan. Kalau mereka berkunjung pasti kan budaya budaya kita dikenal sama mereka bahkan tidak sedikit yang ikut mempelajarinya. Dalam hal ekonomi, pasti devisa negara bertambah terus juga masih banyak hal positif lainnya.

 

Nah, tapi coba liat kenyataan negara kita ini. Ajang Miss World ini ditolak mentah-mentah, banyak terjadi pro dan kontra, demo di mana-mana. Bukannya sedih melihatnya? Kenapa harus ditolak? “Pemerintah lupa bahwa Indonesia adalah negara yang memegang adat dan budaya ketimuran sehingga kita menjadi bangsa yang disegani serta bermartabat. Kontes ini yang tidak pernah terlepas dari sesi busana bikini dalam sesi wajibnya tentu sangat bertentangan dengan budaya bangsa ini,” kata Ketua KAMMI Bengkulu Rahmat Doni.

 

Kita harusnya berpikir negara kan tidak mungkin bodoh asal mau aja jadi tuan rumah, pasti kan sudah dipertimbangkan dengan matang apa aja dampaknya. Sekilas aku melihat di TV, latar belakang demo itu karena Miss World dianggap melecehkan perempuan, merusak nilai dan budaya bangsa dan lainnya. Karena Miss World sudah dikenal selalu menggunakan bikini dalam tampilannya. Akan tetapi, kulihat berita di TV dikatakan bahwa Miss World yang digelar di Indonesia ini tidak akan mengenakan bikini. Karena memang budaya kita melarangnya.

“Kalau kita menekuni spiritual dan setiap hari bergelut dengan ayat-ayat suci, rasanya aneh jika masih mengurusi atau tergiur atau tergoda oleh kecantikan visual. Ini ranah budaya.” ujar Putu Setia.

Kalau boleh berpendapat tapi jangan diambil hati ya. Memangnya budaya di negara kita udah diterapkan dengan baik? Udah? Coba deh kita berpikir kalau kita ingin bertamu ke rumah orang pasti kan kita mengenakan baju yang sesuai, berbicara dengan baik kepada si tuan rumah dan mengikuti cara mereka agar tidak membuat mereka sakit hati.

 

Hal ini tidak ada bedanya dengan Miss World. Mereka juga manusia, pasti juga punya etika. Mungkin di negara mereka memakai baju yang terbuka sudah biasa karena emang budayanya seperti itu. Nah, budaya kita kan berbeda dengan mereka 180 derajat lebih tepatnya. Mereka boleh memakai baju terbuka namun bagi kita itu tidak sopan. Mereka pasti akan menghargai budaya kita. Masa iya mereka yang bertamu, namun kita yang harus mengikuti budaya mereka? Kan enggak begitu.

“Miss World dipadukan dengan budaya Bali, pembukaannya dengan tari kecak yang pemainnya bertelanjang dada padahal peserta Miss World akan pakai kebaya. Mereka mengunjungi obyek wisata dengan pakaian adat Bali, karena ada obyek yang sekaligus menyatu dengan tempat suci. Apakah budaya lokal ini bertentangan dengan budaya nasional? Lalu, apakah budaya harus diseragamkan?” kata Putu Setia.

Baru baru ini juga aku juga dengar pelaksanaan Miss World akan diadakan di Bali saja. “Acara ini diselanggarakan di Pulau Bali 8-28 September. Jadi tidak ada acara yang diadakan di luar Pulau Bali,” tutur Menko Kesra Agung Laksono dalam jumpa pers di rumah dinas Wapres Boediono, Jl. Diponegoro, Jakarta Pusat, Sabtu (7/9/2013). Kenapa harus seperti itu? Memangnya salah kalau Indonesia menjadi tuan rumah? Padahal ini pertama kaliya Indonesia mendapatkan kesempatan itu harusnya dipergunakan dengan sebaik-baiknya bukan malah dianggap sebagai suatu yang negatif.

 

Seandainya aku diberi kesempatan untuk menjadi Menteri Agama Indonesia, jika ada acara seperti Miss World ini aku tidak langsung berkata tidak, namun dipertimbangkan dulu, walaupun banyak demo sana sini. Akan tetapi, aku tak mungkin langsung terpengaruh oleh demo itu. Karena aku tahu kalau ada demo pasti ada seseorang yang memprovokasi agar demo itu terjadi dan biasanya orang itu tidak bertanggung jawab. Jika aku seorang Menteri Agama dalam menyikapi acara Miss World ini sebelum acara ini digelar aku akan mengambil suatu langkah atau ini bisa dibilang sebagai solusi. Akan kuundang beberapa Ormas islam dan peserta Miss World serta panitia pelaksana dan penanggung jawabnya dan juga petinggi negara Indonesia dan mengundang mereka untuk ikut rapat dalam suatu ruangan dan dilaksanakan secara terbuka agar masyarakat bisa melihat, dengan catatan selama rapat berlangsung Ormas dilarang keras untuk demo di dalam ruangan dan mengacaukan suasana.

 

Dalam rapat itu akan dibahas tuntas mengenai pakaian yang akan dikenakan. mereka mau mengikuti budaya kita apa engga. Masalahnya, Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam. Sebagai Menteri Agama aku harus menjunjung tinggi agamaku. Setelah rapat itu akan ada perjanjian secara tertulis dan sanksi yang tugas apabila dilanggar. Kalau mereka datang kesini mengikuti Miss World dengan mengenakan busana yang sesuai dengan norma bangsa pasti akan kusambut dengan baik bahkan indonesia juga akan dipandang sangat baik dimata dunia. Ajang bergengsi mengenakan pakaian yang sesuai dan sama sekali tidak mengenal kata ‘bikini’ pastikan negara lain kalau ingin berkunjung kesini akan benar benar memperhatikan penampilan mereka sesuai apa tidak. AKAN TETAPI! Apabila mereka datang kesini ikut acara itu dengan mengenakan pakaian yang tidak sesuai misalnya mengenakan bikini diatas panggung tak segan mereka kuusir dari negaraku. Terima kasih telah membaca. :)

 

Shafira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *