Senioritas di SMA

se·ni·o·ri·tas /sénioritas/ n 1 perihal senior; 2 keadaan lebih tinggi dl pangkat, pengalaman, dan usia; 3 prioritas status atau tingkatan yg diperoleh dr umur atau lamanya bekerja.

Yap. Senioritas memang ada di dalam KBBI. Begitu pun dalam kehidupan bersosial. Di mana pun dan kapan pun senioritas akan selalu ada. Sudah dijelaskan pula di KBBI bahwa senioritas akan selalu ada karena yang lebih tua, yang lebih berpengalaman, dan yang lebih memiliki pangkat itu juga selalu ada di lingkungan kita. Kata “senioritas” lebih sering digunakan di sekolah dan di kampus. Namun, yang akan saya bahas kali ini adalah senioritas di kalangan anak SMA.

Senioritas di sekolah sering diartikan ke arah negatif. Dan benar saja, tidak sedikit senioritas dari kakak kelas ke adek kelas itu negatif. Misalnya saja perpeloncoan saat MOS. Anak-anak baru yang masuk ke SMA dan tidak tahu apa-apa, mereka akan diminta untuk melakukan ini-itu yang melelahkan, baik fisik maupun mental. Mereka sering diteriaki dan dimaki. Perpeloncoan MOS juga merupakan salah satu bentuk senioritas karena yang berkuasa adalah “yang lebih tua dan lebih lama berada di sekolah”. Senioritas negatif ini dilakukan lebih disebabkan karena perlakuan yang serupa pernah diterima “sang senior” saat mereka masih junior. Maka munculah pernyataan-pernyataan, seperti “Enak aja, dulu kan gue diginiin masa mereka enggak”. Kabar baiknya, senioritas semacam perpeloncoan seperti ini sudah sangat langka dan kalau pun masih ada, hanya terjadi di (maaf) sekolah yang kurang baik pengawasan dari pihak sekolahnya.

Namun, yang masih sering terjadi adalah sesuatu yang sering disebut “labrak”. Labrak ini dilakukan face-to-face dan hanya ditujukan untuk satu atau beberapa orang saja. Labrak biasanya dilakukan oleh beberapa kakak kelas kepada adik kelas (yang jumlahnya lebih sedikit dari yang melabrak). Bentuk senioritas “labrak” ini juga biasanya disebabkan karena masalah pribadi saja. Labrak tidak seseram sebutannya. Labrak (sejauh yang saya tahu) tidak disertai dengan pukulan atau kontak fisik lainnya. Hanya membicarakan masalah mereka yang cukup dapat memojokkan si adik kelas.

Senioritas juga ada di ekskul sekolah. Kakak kelas mengajari yang lebih muda karena lebih berpengalaman dan lebih tahu. Yap. Ini merupakan senioritas yang positif. Namun, yang sering salah adalah ketika kita sebagai senior selalu menganggap kemampuan junior di bawah kita. Kadang kita juga kurang menerima apabila mereka lebih pandai daripada kita. Perasaan seperti itu harus dihapus. Kita yang senior juga bisa belajar dari mereka. Dan senior tidak selalu benar.

Nah, bagaimana dengan senioritas di SMAN 81 Jakarta? Bisa dibilang tidak ada. Ketika saya kelas X atau XI, saya tidak pernah diperlakukan semena-mena atau tidak adil oleh kakak kelas XII. Rasa segan saat berbicara dengan mereka ada. Takut salah bicara dan salah bertindak juga ada. Saya rasa itu lumrah. Namanya juga masih “baru”. Sekarang saya kelas XII dan ternyata biasa saja. Bedanya sekarang kitalah siswa yang paling tua di sekolah.

Apakah Trip Observasi (TO) bisa disebut senioritas? Senioritas positif. Pengurus OSIS saat TO menggunakan senioritas, namun yang positif. Dimarahi, dibentak, dan disuruh ini itu. Beda dengan perpeloncoan, TO mengandung unsur-unsur positif. Di TO, kita juga tidak pernah dimarahi atas hal yang kita lakukan benar. Pengurus OSIS juga tidak semena-mena. Mereka tidak mencela atau memukul. Trip Observasi punya tujuan, yaitu agar para siswa menjadi mandiri serta pandai bersosial dari kelas X. Agar tidak manja, tidak menye-menye, tidak klemar-klemer. Dan saya rasa TO ini dibutuhkan oleh tiap siswa kelas X.

Yang cukup ramai belakangan ini adalah masalah “podium” dan “payung Sosro di kantin”. Seperti yang kita tahu, podium hijau dan  payung sosro di kantin (sekarang sudah di cat oranye) hanya di duduki oleh anak kelas XII. Tidak ada peraturan tertulis dan sekolah pun tidak setuju dengan budaya ini karena semua siswa memiliki hak yang sama tentang penggunaan sarana sekolah.

Saya ingat sekali pertama kalinya saya tahu tentang budaya ini adalah saat MOS. Pengurus OSIS saat itu mengingatkan: “Oh iya, kita mau ngasih tau aja nih, kalau podium ijo sama sosro yang di kantin itu, biasanya itu cuma di dudukin sama anak kelas XII aja. Bukan nggak boleh. Cuman yaa… beberapa ada yang nggak setuju. Kita cuman mau ngingetin aja.” Pertama-tama saya terima kasih saya Pengurus OSIS yang saat itu menjabat sudah mengingatkan. Hal-hal seperti itu memang perlu disosialisasikan saat masa orientasi.

Saya pribadi setuju-setuju saja dengan adanya budaya podium hijau dan meja payung sosro di kantin. Sebenarnya cuma sebatas seru-seruan aja sih. Sebagai kelas XII, ya boleh lah ada yang lebih istimewa karena sudah lebih lama bersekolah. Namun kalau pun ada siswa bukan kelas XII yang duduk di podium hijau saya toh bodo amat. Begitu pula dengan siswa kelas X dan XI yang pakai sepatu flat, rok diatas mata kaki, ataupun hal-hal yang suka di perdebatkan lainnya. Saya cukup mengikuti cerita yang beredar saja. Ya bisa dibilang asal tahu aja.

Seperti sudah saya katakan sebelumnya, senioritas akan ada di mana pun dan kapan pun. Baik saat sekolah maupun saat kita sudah kerja. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengikuti aturan yang berlaku, tetapi jangan mau ditindas. Tidak usalah perlu mencari perhatian. Saling bersikap sopan dan menghargai antar senior dan junior. Saya kira menjadi cerdas dalam bersosial akan cukup menghadapi senioritas yang berlaku di masyarakat.

Baca juga: How to Be A Great Senior

Sevira Marsanti (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *