Senioritas? Perlu Gak Sih?

Assalamualaikum,

Kali ini penulis mau berbagi pendapat tentang “senioritas”. Sepengertian penulis aja sih dan seorang yang enggak mau disebutin siapa, disimak ya!

Kata senioritas itu kata sifat, sifat siapa? Tidak salah lagi sifat senior. Sifat yang mengharuskan para junior untuk bersifat hormat kepada seniornya dan berbagai hal lagi yang sifatnya merugikan atau pun berdampak positif bagi junior. Untuk mendapat apa? Enggak dapet apa-apa sih, kayak tradisi aja—begitu kata mereka. Mereka ditanya lagi, emang enggak apa-apa jadi junior gitu? “Ya, mau gimana lagi, di saat kita enggak bisa melawan arus, kita terpaksa harus mengalir, sorakan ‘Sok banget,’ ‘Bijak lu tong,’ ‘Beeh,’ terucap dari temannya. Suatu saat juga saya bakal jadi senior, bakal giniin adek kelas saya juga nanti!”

Waktu itu saya pernah dikasih tau, “senior”. Kata mereka yang berkata dihadapan saya, “Senior itu adalah orang yang memiliki nilai lebih, di bidang pengalaman, ilmu, dll., dan senioritas adalah sifat senior itu kepada juniornya.”

Berbeda orang, berbeda juga persepsinya, ada yang pro ada yang kontra. Yang pro menganggap senioritas sesuatu yang diperlukan, demi terjaganya kehormatan sang senior, demi terciptanya keteraturan, demi “menjaga tradisi”. Yang kontra, senioritas itu enggak perlu, kita bisa berjalan bersama. Apa karena beda jarak tahun lahir kita, perlu diadakan juga jarak di antara senior dan junior?

Tradisi emang boleh dijalanin. Tapi, toh tradisi yang baik aja yang dilanjutin, tradisi yang buruk diperbaiki… begitu sebagian pandangan orang tentang senioritas.

Junior akan menjadi senior, begitu terus hidup, terus bergulir tanpa mengenal henti, yang tua akan digantikan yang muda, terus begitu tak ada yang berubah. Bagi yang tua persiapkan kaum muda, yang muda bersiap menjadi yang tua. Tapi yang muda sih harusnya berkembang jadi lebih baik daripada yang tua, agar hidup berkembang menjadi lebih baik.

Balik ke topik, senioritas. Gimana tanggapan penulis sendiri tentang senioritas? Hmm, oke. Menurut penulis emang bener, senior itu emang memiliki beberapa hal yang lebih daripada juniornya dan respect kepada orang yang memiliki kelebihan itu enggak salah juga dan jika ada hal ini, cenderung lebih ada keteraturan sosial, karena junior respect sama senior jadi juniornya masih berlaku sewajarnya dan enggak sesukanya.

Berlaku sewajarnya? Iya, dalam konteks karena junior takut senior. Jadi, junior berlaku yang wajar-wajar aja supaya si junior ini enggak “kena” sama yang senior. Wah, takut kena gimana? Ya, bisa dibayangkan deh, “kena” gimana.

Tapi sebetulnya hal ini bisa positif bisa negatif, kalau jadi positif salah satunya ya gitu, terjadi keteraturan sosial. Negatifnya? Negatif bisa terjadi, ketika sang senior ini mulai memanfaatkan statusnya sebagai senior dengan sesukanya. “NAH! Ini, ini dia, kalau senior mulai sesukanya mentang-mentang senior, jadi sesukanya kan jadi enggak enak yang junior,” begitu kata seseorang yang berbicara dengan saya.

“Ya tapi kan senior itu sebetulnya bisa juga jadi panutan dan membimbing juniornya. Ya, nurunin ilmunya gitulah, kan jadi ladang pahala juga buat seniornya, menurunkan ilmu yang baik dan bermanfaat, ceilah bermanfaat.”

Jadi perlu enggak nih senioritas? Perlu, tapi kalau senioritasnya yang bener ya! Mohon maaf kalau ada salah-salah kata, terima kasih. Comments dipersilakan.

Baca juga: Senioritas di SMA

M. Dian Fachri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *