Sesuatu dan Segala Penghormatannya

Di Indonesia, budaya menghormati benda itu merupakan fenomena biasa. Bukan fenomena, maaf. Menghormati benda adalah kegiatan dan hal yang biasa terjadi di Indonesia, tepatnya. Menghormati dan menganggap suci suatu benda, pada Al-Qur’an misalnya, dan hal tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, hampir seluruh umat muslim melakukannya. Kita menciumnya ketika tanpa sengaja menjatuhkannya, beristigfar, dan merasa bersalah. Kitab umat Islam itu pun bisa menjadi alat pengesah sumpahmu, bahkan secara formal, seperti bila kita lihat berlangsungnya janji presiden terpilih melalui sebuah kubus besar bersuara dan berwarna, dan menyetrum—berlistrik. Kitab itu adalah sebuah buku tebal berisi firman-firman Allah yang mana kita hormati secara mendalam dan—tanpa kita sadari—kita takuti secara mendalam.

Saya rasa tidak ada salahnya, memang seharusnya begitu. Karena bagaimana pun, walaupun saya seorang Muslim yang artinya saya penganut kepercayaan atau agama yang dinamakan Islam hanya ikut-ikutan orang tua, saya sadar betul sudah seharusnya kitab itu kita hormati, karena kitab Al-Quran itu suci, karena isinya adalah Tuhan yang berbicara. Tanpa saya tahu bagaimana cara kerjanya, kepercayaan untuk menganut agama yang dinamakan Islam dan kepercayaan terhadap segala aturan agama itu berdiri kuat-kuat dan kokoh didalam setiap sel yang sedemikian rupa membentuk diri saya sehingga berwujud, dan mengalir deras-deras di dalam arteri maupun vena saya, bersama darah yang bersih maupun yang kotor.

Manusia di Indonesia tidak hanya menghormati kitabnya, beberapa orang di pedalaman yang belum mengenal agama seperti yang orang kota lakukan, tidak memiliki agama, tapi mereka menghormati alam, mengkramati alam, dan alam itu adalah benda. Tapi, dengan sedihnya, mereka disebut musyrik. Menyekutukan Tuhan. Apa bedanya? Orang kota, atau orang modernis di Indonesia pada zaman ini, sudah dengan canggih menerima wahyu agamanya. Sedangkan saya sendiri, bisa beragama seperti ini sebetulnya hanya ikut-ikutan orang tua. Dan orang tua saya, bisa memiliki agama pun karena ikut-ikutan orang tuanya. Dan kakek nenek saya, bisa memiliki agama pun karena ikut-ikutan orang tuanya. Dan buyut-buyut saya, bisa memiliki agama pun karena ikut-ikutan orang tuanya. Begitu seterusnya. sampai kita mencapai zaman nabi, dimana orang melihat dakwah dan kebenaran, sehingga mereka menganut suatu agama karena mereka menelaah sendiri, mana yang sekiranya menurut mereka betul.

Sedangkan orang-orang pedalaman, seperti di Jawa misalnya, mereka menghormati alam dan mengkramatinya. Seperti yang saya bilang barusan. Mereka—dengan sedihnya—disebut musyrik. Padahal perbedaan mereka dengan kaum modernis seperti kita adalah, mereka tidak canggih. Sehingga mereka tidak tahu kemana harus menyembah. Tapi mereka tahu bahwa ada kekuatan lain selain kekuatan manusia, makanya terjadilah hujan, terjadilah badai, terjadilah kekering-kerontangan. Mereka tidak canggih, mereka tidak bisa ‘ikut’ mengetahui wahyu-wahyu, bahwa sudah ada 4 agama yang bisa mereka pilih di Indonesia, yang hampir keempatnya monoteis. Kita memiliki kitab, mereka tidak. Kita mengkramati kitab, mereka mengkramati alam. Dan mereka adalah orang-orang yang disebut musyrik. Dengan sedihnya.

Pernahkah kaum modernis memahami sebuah alasan mengapa orang-orang yang mereka sebut musyrik melakukan pengkramatan alam? Karena sesungguhnya mereka menghormati. Dan ini memiliki nilai positif. Mengapa hal dianggap salah apabila ia memiliki nilai positif? dengan menghormati alam mereka menjaga alam dari hal-hal buruk. Mereka menciptakan pamali-pamali karena mereka takut menyakiti alam. Mereka mengkramati beberapa pohon atau hutan, yang telah memberi mereka hasil, lantas dengan begitu mereka mengambil secukupnya. Mereka menumpang maka mereka sopan dan merawat. Mereka, orang-orang pengkramat alam, sadar betul bahwa alam adalah sesuatu yang mesti dirawat, dan mereka tahu betul cara berterimakasih. Sedangkan kaum modernis yang memiliki agama resmi, dengan tidak masuk akalnya mengeksploitasi alam, menyakitinya. Jadi, apa bedanya?

Nah sekarang, coba kita bandingkan dengan kaum modernis yang mengkramati bendera Merah Putih, sang saka, si dwiwarna. Mereka menjaga sehelai kain berwarna merah putih itu agar tidak kotor, agar tidak menyentuh tanah, betapa congkak mereka? Dari tanahlah kita dibuat, dari tanahlah kita menikmati hasil-hasil, dari tanahlah tumbuh pepohonan serta buah-buahannya, di atas tanahlah kita berpijak, diatas tanahlah hewan-hewan berkembang-biak dengan sia-sia karena pada akhirnya lagi-lagi manusialah yang menikmati perkembang-biakan hewan-hewan malang itu. Kadang ini membuat saya muak. Para pengibar dengan congkaknya membawa sehelai kain itu tanpa membiarkannya menyentuh tanah, karena dianggap kotor, atau karena dianggap rendah, saya tidak pernah tahu.

Lalu mereka, kaum modernis, didoktrin untuk menghormati sehelai kain itu setiap kali dikibarkan, ya, menghormati. berdiri tegap dengan muka khidmat, merapatkan seluruh jari-jemari tangan kanannya, dan dengan seluruh hati patriotismenya mereka menekuk tangan kanannya dan meletakkan ujung jari mereka di ujung lentikan alis sebelah kanan mereka. Ini sebuah ritual. Tapi mereka tidak disebut musyrik.

Apa alasan mereka menghormati sehelai kain hingga sedemikian rupa? Nilai sejarahnya kah? Ikut-ikutan orang tua kah? Apa alasan dan apa nilai positifnya? Saya sampai sekarang tidak mengerti. Yang saya tahu, bendera yang berupa sehelai kain itu adalah salah satu lambang kemerdekaan kita pada zaman penjajahan. Dan saya pastinya dengan terpaksa pernah mempelajari sejarah kemerdekaan itu, berat memang. Betapa para pahlawan mengorbankan segalanya demi kemerdekaan. Sedihnya, kenapa manusia tidak mau mengorbankan segalanya demi alam yang sudah menjadi tempat bernaung kita selama berjuta-juta tahun dan menyediakan kita apa-apa? Manusia malah kebanyakan menyakiti alam. Tapi jarang manusia menyakiti bendera.

 

Niken Lestari

18 thoughts on “Sesuatu dan Segala Penghormatannya

  • Nice post niken! Great thoughts in a good post. So proud of you! Gue juga pernah mikir kenapa yaa kita harus hormat sama bendera dan sampe sekarang belum pernah tau alasan make sense atas hal itu hahaha

  • Tidak usah jauh jauh bendera, jas-jas ekskul aja kayaknya suci banget haha,nilai sejarahnya jg gak ada. padahal cuman kain yang terbuat dr bulu binatang atau tumbuhan

    • trims ay hehe itulah anehnya Indonesia kita yah..

      kalau soal jas, walaupun saya jg anggota berjas, saya sendiri ga masalah tuh jas saya dipake2 temen hahaha dan saya ga bikin peraturan untuk memakai jas itu diruang tertutup, terus tau2 show up udh pakai jas. saya sendiri fleksibel bgt masalah jas.
      jadi memang tergantung cara memandang jas dari masing-masing individu sih :)

  • Hai ken, biasanya pemikiran2 kayak gitu cuman lalu lalang di otak terus dilupain. Dan yg keren adalah lo bisa nulis pikiran lalu lalang kayak gitu pake bahasa yg enak^^

  • Setuju dengen pemikiran Anda tentang kepercayaan agama itu. Tapi untuk masalah bendera yang Anda sampaikan, jujur saya kurang setuju.
    Bendera tidak boleh terkena tanah bukan karena tanah kotor, rendah, dsb, tapi karena bendera layaknya memang berada di atas tiang. Dan apa salahnya jika bendera dijaga kebersihannya? Kan tidak enak juga kalau bendera yang dikibarkan warna merah atau putihnya terkena noda, ya kan?
    Masalah penghormatan kepada bendera, itu karena dalam aturan militer kedudukan bendera lebih tinggi daripada presiden, jadi kita selayaknya masyarakat Indonesia harus menghormatinya. Kepada kepala sekolah saja kita hormat, apalagi bendera. Toh kita hanya hormat saat penaikan dan penurunan kan.
    Tapi kalau Anda mengaitkannya dengan manusia2 yang tidak mau atau kurang kesadarannya dalam menjaga alam, itu tergantung masing2 pribadi. Bukan berarti yang menghormati bendera tidak meghormati dan menjaga alam kan :-)

    • hai ti! haha gue juga msh suka mengabaikan pikiran lalu lalang kaya gitu, cuma baru kali ini aja mau mengangkatnya dan jadiin itu tulisan,trims yaa :)

      dear pembaca,
      mengetahui fakta bahwa dalam aturan militer kedudukan bendera lebih tinggi daripada presiden justru membuat saya semakin bingung, karena lagi-lagi saya menganggap bendera hanya sebuah kain simboliis. namun, mungkin memang masih banyak nilai-nilai sejarah yang mesti saya gali lagi.
      ngomong-ngomong, makasih ya infonya.
      ^^

  • ahaha nice article keeeeeeeeeeeeen. btw jangan pernah hormat bendera merput kalau belum termaknai hingga menusuk ke hati ken *tsah, asik bgt bahasa gue wkwk sama kayak solat tapi terpaksa karena guru atau apapun, jadi ga manis deh solatnya… bahkan buang2 waktu, mending gausah solat sekalipun itu wajib 😛
    ohiya, satu lagi ken, 5cm isinya pecinta alam sekaligus pecinta bendera loh :p hehe

    • oh ya? ga usah shalat luth? wkwkwk nice kasie 1.

      semua ornag punya pandangannya masing2… dan pandangan serta prinsip itu ga ada yang salah sepenuhnya kecuali pandangan yang selalu menyalahkan pandangan orang lain. open minded guys…

  • padahal gue pikir malah elo si pembaca, loooool skrg praduga gue salah mutlak.

    btw bagus dong tim 5 cm itu kalo gitu haha
    tapi, yang janggal betul rupanya buat gue, ada apa sih dengan bendera sampai beberapa org ngehormatinnya begitu amat, bahkan bendera itu buatan kita sendiri. kalau ngehormatin alam kan ya jelas alam begitu agung dan udah ngasih kita macam2.

    nah, lain kali coba kasih tau gue makna penghormatan bendera itu ya fi haha

  • apa yang kita tidak tahu bukan berarti tidak ada dan
    apa yang kita tidak mengerti bukan berarti tidak beralasan.
    kita harus mencoba saling menghargai dan mengerti. itulah kenapa kita, manusia, diberikan hati dan akal oleh. :) untuk mencari dan menerima kebenaran.

    BTW soal jas disekolah kita emang menurut gw cukup lebay sih wkwkwk

  • Sebagai orang yang merasa disangka mengkramati bendera merah putih, saya tidak setuju dengan kalimat itu. Kenapa? Karena paskibra yang baik itu bukan orang yang mengkramati bendera merah putih. Kalau boleh tahu, saya agak bingung juga, nih. Mengkramati itu maksudnya apa ya?

    Kami juga bukannya hanya menghormati bendera. Paskibra yang baik itu ya yang menghormati segala hal. “Menghormati bendera” dalam paskibra bukan secara harfiah menghormati SI bendera. Bendera itu hanya perwakilan saja. Tapi di balik bendera itu, ada rakyat Indonesia, ada pemimpin Indonesia, ada pahlawan Indonesia, dan bahkan ada alam milik Indonesia. Jadi seharusnya paskibra yang baik itu ya yang menghormati segala sesuatu, terutama yang berhubungan dengan negara Indonesia.

    Terima kasih atas pendapatnya. Itu pendapat yang berani

    • well… durra tau yang namanya majas?
      dan karena alasan estetika penulisan, saya sebut mereka ‘pengkeramat’.
      nah maksud saya pengkeramat itu ya sepaket. meninggikan bendera, menghormati bendera, dan tetek bengeknya. banyak juga kan yang rela dihukum push up berapa belas seri karena jatuhin bendera dan lain-lain? saya pernah menyaksikan sendiri lho hal-hal barusan.

      nah, disitulah menurut saya yang nggak logis. saya merasa kurang berfaedah aja, walaupun sudah ada yang bilang bahwa alasan mereka memperlakukan bendera sedemikian rupa karena derajat bendera lebih tinggi dari presiden dalam aturan militer, alasan itu bahkan membuat saya lebih bingung lagi.
      menurut saya bendera seharusnya berperan hanya semata-mata sebagai simbol, jadi kenapa benda mati harus lebih tinggi daripada ciptaan Tuhan;manusia?

      barusan malah durra bilang tentang bendera sebagai perwakilan ini dan perwakilan itu. okay, mungkin itu sudut pandang kalian yang kontra dengan saya. karena ya lagi-lagi, bagi saya bendera cuma sehelai kain yang memiliki nilai sejarah, bukan sebagai perwakilan dari sana sini. apalagi perwakilan dari alam, menurut saya nggak makes sense aja. jadi, apa maksudnya kalau kita sudah menghormati bendera, tandanya kita menghormati ibu pertiwi? itu jelas dua hal yang berbeda sama sekali.

      dan yang saya bicarakan di artikel ini adalah, betapa ironi saya perhatikan, manusia banyak yang mencibir orang-orang pengkeramat alam, padahal alasan pengkeramatan alam itu lebih positif dan logis(seperti yang saya paparkan diartikel) daripada “mengkeramati” bendera.
      and THAT’S the point of the article.

      ngomong-ngomong, subjek yang saya singgung lebih dalam itu adalah kaum modernis lho, bukan pengibar.

      (duh berasa bikin artikel baru di kolom komentar, hehehe)

  • Gapapa, Ken, panjang, kan biar pembaca mengerti. Haha.

    Jadi begini, maksud saya menjawab seperti di atas karena saya rasa pasti survei pertama Niken (yang sepenglihatan Niken) adalah pelajaran mepet militer terdekat, alias paskib. Saya di sini sebagai diklat mau meluruskan saja, kalau maksud di paskib sendiri tentang hormat bendera, ya, seperti komentar saya di atas. Ada hal-hal lain yang mau diajarkan di sini, dan itu bukan sekadar menghormati bendera kita, dan kalau jatuh push up. Tidak sesimpel itu. Itu kan hanya dari luar bagaimana terlihat. Kami tidak mengajarkan kepada adik-adik kami untuk takut kepada bendera, dan meninggikan bendera sampai seperti kata Niken di post di atas.

    Sementara untuk meninggikan bendera, yang sampai lebih tinggi daripada presiden, saya juga tidak mengerti darimana, dan saya juga tidak setuju. Bahkan saya tidak meninggikan presiden, kok. Jelas. (Presiden itu *menurut hadist, karena presiden termasuk pemimpin* seharusnya dibaiat, bukan ditinggikan)

    Saya mengerti kenapa menurut Niken tentang bendera jatuh itu gak etis, tapi mungkin, ya, mungkin, termasuk ke dalam alasan mengapa bendera tidak boleh jatuh adalah karena pengorbanan saat mengibarkan bendera (yang notabene, berkibarnya bendera berarti tanda kemerdekaan) di zaman dulu itu luar biasa susah dan penuh tumpah darah, bukan karena tanah itu kotor.

    Mau coba memberi pendapat saja,
    Kalau untuk masalah pengkramat alam itu dituduh musyrik (saya katakan dituduh karena belum tentu mereka musyrik), sebenarnya kita tidak tahu juga. Karena masalah dosa dan bukan dosa kan rahasia Tuhan, kecuali (mungkin) kalau orang itu sudah pernah diberikan pengetahuan tentang agama sebelumnya.
    Kalau untuk masalah pengkramat alam yang dianggap lebih rendah dibanding pengkramat bendera, Itu kan hanya ANGGAPAN. Anggapan mayoritas orang tidak selalu menjadi sebuah fakta. Lagipula saya juga gak setuju “pengkramat” bendera itu baik.

    Kenapa? Kenapa dianggap lebih rendah? Sebenarnya seharusnya kita gak menelan bulat-bulat kata-kata “lebih tinggi dari presiden”. Pada akhirnya, (mungkin) maksud dari undang-undang itu bukan bendera itu sendiri, tapi negara ini. Cuma memang mungkin ada beberapa yang menelan bulat-bulat, dan kemudian terjadilah hal ini.

    Mau mengomentari aja, Ken, ini post bagus, kok. Lebih asyik lagi kalau lebih banyak yang berkomentar. Karena tipe post kayak gini, nih, yang ngebuat orang jadi kritis. AYO DONG ANAK 81! Jangan takut mengeluarkan pendapat. Walaupun tulisan Niken bisa pedes.

    Sekian~
    maaf kalau ini juga termasuk ke ‘buat artikel’. Semoga teman-teman mengerti. Over all, ini hanya pendapat saya

  • Hai Niken! saya ditta.
    saya tertarik nih untuk ngasih komentar di blog kamu, biar ada masukan2 buat tulisan kamu selanjutnya.
    menurut saya, topik yang kamu ambil cukup menarik dan mengandung masalah yang polemik di kalangan remaja2 sekarang pada umumnya. tapi, ada beberapa kekurangan yang ingin saya koreksi dari tulisan kamu.
    yang pertama, saya mengerti, kamu sebagai penulis tentunya ingin menjadikan tulisan kamu mengandung seni dan bernilai estetika sehingga menarik pembaca, misalnya dengan menampilkan majas seperti yang kamu bilang pada kata “mengkramati” “kaum modernis” “congkak” dan “ritual” tetapi, kata yang kamu gunakan kurang tepat dan mengandung ambigu yang cukup tinggi,karena arti dibalik kata tersebut jauh melampaui apa yng kamu fikirkan, sedangkan didalam karya tulis, kata ambigu itu adalah kesalahan utama yang harus dihindari oelh seorang penulis yg baik.
    yang kedua, kalau kamu ingin menulis sebuah tulisan, maka ada baiknya kamu melandaskan tulisan kamu berdasarkan fakta dan terdapat referensinya dari mana kamu mengambil info tersebut, bukan hanya sekedar berdasarkan sepengetahuan kamu, saya tau ini hanya blog, tapi kamu juga nulis di blog seperti ini pasti punya tujuan untuk melatih kemampuan kamu dalam menulis, jadi biasakan ya mencantumkan fakta2nya, biar tulisan kamu juga valid dan pembaca dapat meperhitungkan pendapat kamu.

    overall, saya juga ingin memberikan feedback opini mengenai tulisan kamu, kalo saya lebih cenderung pro dengan pendapat saudari durra, karena saya juga pernah menjadi anggota paskibra dan saya telah mengambil pelajaran dan makna2 dibalik hukuman2 yang diberikan oleh senior misalnya memberikan push up saat bendera menyentuh tanah. dan hal itu dilakukan bukan untuk mengkramati atau menghormati secara berlebihan suatu benda, tetapi, sebagai organisasi yang menerapkan sosialisasi represif,maka hal itu adalah hal yang memang seharusnya dilakukan, karena terdapat nilai2 yang dilanggar sehingga muncullah hukuman yang harus dijalani. mengenai makna bendera yang jatuh saya hanya ingin meluruskan agar tidak terjadi salah kaprah dan persepsi diantara pembaca, disana kita diajarkan untuk belajar menghormati bendera sebagai sesuatu yang pernah diperjuangakan untuk bisa dikibarkan bebas di negara ini. dan push up merupakan salah satu jenis hukuman yang dapat dijadikan media untuk membuat kita tersadar betapa pentingnya kita harus menghormati sesuatu(red: bendera). dan push up itu bukan hal yang buruk, push up itu merupakan sebuah bentuk olahraga untuk melatih bentuk tubuh dan pernafasan. so, plis ya jangan menjudge kalo push up itu adalah sesuatu hal yang buruk. try to think positively!

    lalu, kamu gak bisa menggabungkan hubungan spiritual antara manusia dan tuhan dengan manusia dan lingkungan sekitarnya. di dalam sosiologi, kedua hal tersebut jelas berbeda hubungannya. contohnya seperti ini : kita, didunia ini, bersekolah, main dan berinteraksi dengan teman2 kita sekitar berapa jam dalam sehari???
    lalu, kita berinteraksi dengan tuhan melalui ibadah dan doa, berapa jam dalam sehari??
    kita tentu akan menjawab lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan teman2 sekitar kita kan??? lalu, apakah hal tersebut dapat kita simpulkan menjadi kita lebih mencintai ciptaan tuhan daripada tuhan itu sendiri?? tentu tidak. karena, hubungan kita dengan tuhan jauh dibalik itu semua, hubungan kita dengan tuhan tidak dapat direpresentasikan secara physicly.
    sama halnya dengan pendapat kamu mengenai persamaan diantara masyarkat pedalaman yang mengkramati benda sebagai kepercayaannya terhadap sang pencipta dengan seorang anggota paskibra yang menghormati sebuah bendera. 2 hal tersebut tidak dapat kita sambungkan karena objek yang dinilai pun berbeda. selain itu, kata kerja “mengkramati” dan “,menghormati” merupakan persepsi yang salah apabila kamu memang menyamakan kedua kata tersebut. so, kalau kamu ingin menulis tentang suatu permasalahan, coba untuk pelajari hal tersebut secara mendalam terlebih dahulu, at least kamu mengerti nilai2 yang dianut oleh objek yang kamu tulis.

    selebihnya, keep posting! dan semangat untuk nulisnya. kalau kamu mau belajar menerima kritik, just believe that someday you’ll be a great writer. thankyou. sorry ya kalo comment gue kepanjangan dan sok menggurui kesannya, i just want to share tentang ilmu2 yang udah gue pelajari. semoga bermanfaat!

  • salam kenal dear ditta!
    dan halo durra teman seperjuangan TO ^^

    sebenernya sih intinya, kita selalu punya pandangan masing-masing.
    mungkin saya akan tetap dengan diri saya yang nggak mendapat kemasukakalan dari penghormatan bendera yang seketat itu.
    karena, menjaga bendera dari tanah, menekuk tangan dan meletakkannya diujung alis, atau bentuk-bentuk dari penghormatan bendera yang terlalu simbolis itu yang saya nggak setuju.
    kalau menghormati bendera ya tunjukin aja bikin negara ini maju dengan jadi orang berguna serta berkualitas dan dengan tetap mempertahankan sikap patriotisme (saya nggak membicarakan nasionalisme._.), itu menurut saya penghormatan bendera yang benar.
    toh aturan militer yang diterapkan di kalangan muda-mudi negara kita nggak bikin kita jadi negara maju, hahaha! panggil saya si sinis,tapi ya begitulah apa opini saya.
    dan pastinya kalian akan tetap dengan pendapat kalian yang nggak menemukan kesalahan dari penghormatan bendera yang kontra dengan saya itu hehe dan itu jelas bukan masalah. semua pernyataan adalah benar dan penentunya adalah alasannya.
    saya rasa kita sudah berusaha serelevan mungkin untuk memberikan alasan atas opini kita masing-masing. nah, opini yang lain, bisa disimpan sebagai data, bukan sebagai yang kita percaya. (prinsip hidup saya nih, hehe)

    ngomong-ngomong makasih ya saran dan masukannya! saya percaya betul itu sangat berguna, walaupun saya nggak mau jadi penulis ;P

  • Dur, dalam hal ini, gue pribadi berada dalam posisi yang cenderung setuju sama Niken (cenderung itu… agak condong ya, enggak 100% memihak, tapi kalau boleh pilih, ya… lebih ke pihak yang satu ini). Kita tinggalkan soal “keramat-mengkeramati” dulu, gue mau coba berbagi pendapat.

    Gue sendiri bukan orang yang pernah tergabung dalam Paskibra mana pun, tapi kita–anak SMA 81–hampir semuanya pernah ikutan LTUB dan sedikit banyak tahu soal gimana cara kerja anak Paskib (karena kita dilatih begitu). Nalar gue pun (sampai sekarang) belum sampai untuk menjawab “kenapa kita harus memperlakukan bendera ‘segitunya’?” Maksud “segitunya” itu ya… lebih kurang sama dengan apa yang udah dibahas di tulisan dan komentar-komentar di atas.

    Gue juga sudah memperhitungkan soal kaitan menghormati bendera ini dengan makna filosofis di baliknya, seperti sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan di masa lalu untuk mendapatkan kemerdekaan, dsb., dan… nilai-nilai itulah yang kemudian dibawa dan “diterjemahkan” ke dalam bentuk upacara bendera yang sangat sakral dengan segala tata cara untuk memperlakukan bendera ini sebaik mungkin. Namun, tetap masih ada hal yang gue rasa… enggak bisa gue terima secara akal.

    Dan gue jadi penasaran, terkait komentar Ditta bahwa Paskibra sebagai organisasi yang menerapkan sosialisasi represif maka menjadi hal yang wajar jika terjadi pelanggaran terhadap nilai-nilai yang dianut maka yang bersangkutan harus (dan wajar) dihukum. Kenapa harus menjadi organisasi yang represif begitu? Kan ada banyak cara untuk mencapai suatu keharmonisan dan keajegan dalam organisasi, lantas kenapa harus memilih represif? Mungkin Durra atau Ditta bisa menjawab karena gue emang enggak tau…

    Anyway, meskipun begitu, gue tetap mencintai bendera kita ini dan berusaha menghormatinya sebaik yang gue bisa. Gue tetap pasang bendera saat mau 17-an, bahkan di komplek gue yang pasang bendera pas 17-an itu bisa dihitung jari, gue tetap mengingatkan orang-orang di rumah untuk pasang bendera. Gue enggak akan melakukan itu tentunya kalau gue enggak paham “untuk apa” atau makna di balik pasang bendera tiap tanggal 17 Agustus. Atau… gue pun pas SMA dulu, bahkan sampai sekarang, tiap ada kesempatan melihat proses menaikkan/menurunkan bendera, gue pasti berhenti dan hormat ke bendera–sementara orang di sekitar gue bingung atau bilang: Zan, ngapain deh? Gue tentunya enggak akan melakukan itu kalau gue enggak paham makna di balik berdiri tegap menghadap bendera dan hormat selagi bendera itu dinaikkan/diturunkan.

    Buat gue… ada semacam perasaan bahwa Indonesia ini (yang diwakili oleh bendera) masih punya harapan, dan wibawa Indonesia itu terlihat ketika bendera itu berkibar di atas, di puncaknya. Ini juga sesuatu yang abstrak yang enggak semua orang rasakan tentunya, tapi itu yang gue rasakan. Itu baru bendera, gimana dengan lagunya? Okelah, ini sebenernya udah out of topic, hehehe.

    Overall, gue rasa kita harus mengapresiasi Niken atas tulisannya yang cukup berani, biar gimanapun, apa yang ditulis Niken ini pasti banyak terlintas di pikiran banyak orang, tapi kebanyakan orang hanya menyimpannya di pikiran daripada menuliskan idenya, dan gue rasa itu bagus–terlepas dari apakah tulisannya berdasarkan penelitian yang dalam atau ada data valid yang dicantumkan di dalamnya atau tidak, saya kira itu soal belakangan karena pertama, ini murni sebuah opini dan pemikiran biasa; artinya siapa pun bisa setuju dan tidak setuju, sah-sah saja, dan kedua ini merupakan tulisan seorang siswa SMA, dan gue rasa enggak banyak anak SMA zaman sekarang yang mau menuangkan idenya (dengan kemauan sendiri) dalam bentuk tulisan dan membahas hal-hal yang gue yakin sebagian besar anak SMA menganggap ini termasuk tema yang “membosankan” (soal bendera, negara, nasionalismek dsb.), tapi ini suatu hal yang bagus.

    Oh, sebagai bahan perbandingan (dan PR bersama), baiknya kita cari tahu juga bagaimana negara-negara lain memperlakukan benderanya, khususnya negara-negara yang punya latar belakang serupa dengan Indonesia. Dengan begitu kita jadi punya perbandingan dan wawasan kita jadi lebih luas pastinya. Mana tau salah satu dari kita nanti ada yang jadi presiden, kalau emang ada hal-hal tradisi yang udah dianggap enggak sesuai (dan enggak rasional) bisa dirasionalisasi (tentunya dengan didukung oleh wawasan yang luas dan pertimbangan yang matang).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *