Stop Bullying Now and Forever!

f76201

“Stop Bullying”

 

Kalimat diatas pasti sudah sering kita dengar. Bullying memang sudah lama menjadi sorotan masyarakat, terlebih lagi mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Pertama-tama mari kita bahas arti dari bullying tersebut,

Bullying adalah tindak kekerasan atau represif yang dilakukan oleh sejumlah oknum kepada orang lain dengan tujuan menakut-nakuti. Tindakan ini kerap terjadi pada lingkungan kampus, sekolah, intuisi negara dan asrama (dikutip dari bimbingan.org)

Dari pengertiannya saja sudah terdengar negatif, namun sebenarnya apakah alasan atau penyebab anak-anak melakukan bullying, menurut kompas.com penyebabnya ada 6, yaitu:

 

1. Kecenderungan permusuhan
2. Kurang perhatian
3. Gender sebagai laki-laki

4. Riwayat korban kekerasan
5. Riwayat berkelahi
6. Ekspos kekerasan dari media

 

Dampak dari bullying itu sendiri memang tidak bisa dianggap remeh, korban mungkin saja merasa tidak nyaman dengan lingkungan dimana ia terus-menerus di-bully dan bila lingkungan tersebut adalah sekolah akan menimbulkan kerugian bagi korban tersebut, korban cenderung menarik diri dari pergaulan di masa yang akan datang karena tidak ingin di-bully kembali, bahkan dampak paling parah korban bisa saja mengalami depresi dan memutuskan bunuh diri. Jika sudah seperti ini tentu saja urusannya menjadi berbelit-belit dan tidak menutup kemungkinan pelaku bullying dijebloskan ke penjara atas perbuatannya.

 

Namun bagaimana dengan pelaku? Saya pernah membaca suatu berita, di mana seorang gadis cantik yang mengikuti suatu ajang pencarian bakat mendapat protes dari seorang pengguna internet karena gadis itu pernah mem-bully siswi di tempat dimana ia bersekolah, sang pengguna internet ini menuturkan bahwa gadis tersebut memiliki tabiat yang buruk dan merupakan ketua ‘geng’ di sekolah mereka, hingga akhirnya gadis ini keluar–atau dikeluarkan–dari sekolah tersebut. Kemunculannya diajang pencarian bakat tersebut menimbulkan berbagai protes, terlebih ia diloloskan kebabak selanjutnya karena kemampuannya. Hingga akhirnya stasiun televisi tersebut memilih untuk tidak menyertakan gadis itu di babak selanjutnya. Pertanyaan saya adalah, apakah itu sebanding? Mimpi gadis itu terhambat karena mem-bully siswi di sekolahnya terdahulu, beberapa orang mungkin berpikir bahwa seharusnya gadis itu mendapat balasan yang lebih, namun tak sedikit pula orang yang berpikir mungkin saja gadis itu sudah berubah, mungkin saja ia sudah menyadari kesalahannya. Namun bagaimanapun mem-bully seseorang bukan perbuatan yang mudah dimaafkan bagi siapapun itu, terlebih lagi sang korban.

 

Contoh lain adalah seorang gadis Amerika yang memutuskan bunuh diri karena teman-temannya kerap mem-bully-nya dengan perkataan mereka, gadis ini memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat ke rel kereta api dan tertabrak saat kereta melaju kencang, gadis ini sempat menuliskan kata-kata terakhirnya di Twitter sebelum bunuh diri.

 

Saat ini 160.000 anak usia sekolah di Amerika lebih memilih tinggal di rumah setiap hari, dibandingkan pergi ke sekolah dan di-bully. Sekitar 1 dari 3 anak sekolah menjadi korban bullying di sekolah, dan lebih dari 60% anak pernah menyaksikan aksi bullying namun tidak bisa melakukan apapun. Jumlah ini sedemikian besarnya karena banyak faktor. (Dikutip dari vivanews.co.id)

 

Tak hanya di Amerika, di Indonesia sendiri cukup banyak terjadi kasus bullying dengan berbagai kamuflase. Sebagai contoh OSPEK, yang bahkan sampai menelan korban jiwa. Melabrak atau menyindir dengan kasar juga termasuk bagian dari bullying. Lalu apa yang harus kita lakukan agar tidak melalukan bullying?

 

StopBullyingPledge

 

yang pertama adalah jangan pernah mengucilkan teman, walaupun terkadang sejujurnya kita pasti kurang menyukai orang-orang tertentu, namun mengucilkannya bukanlah tindakan yang tepat dan hal itu termasuk kategori bullying. Selanjutnya adalah berhenti memandang orang dengan sebelah mata, salah satu faktor bullying adalah karena “mereka berbeda” entah perilakunya atau yang lain. Yang terakhir adalah jangan ragu ataupun takut melaporkan kepada guru atau pihak yang lebih berkewajiban jika kalian mendengar atau bahkan melihat langsung peristiwa bullying tersebut. Karena sikap peduli kita sangat dibutuhkan bagi para korban, jangan hanya karena tidak ingin ikut campur pada masalah orang lain kalian memutuskan untuk bersikap tidak peduli dan tak mau tahu. Sikap seperti ini hanya dapat memperburuk keadaan dan tidak membantu sedikit pun, mulailah membuka mata pada lingkungan sekitar kita, bersikap ‘sedikit ikut campur’ tak akan merugikan kok!

 

MakeItStop_zpsb44d3cdc

 

Zakiya Zulviyanda (nametag)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *