Tengil?

Hai, P-assengers! Apa kabar? Udah akhir semester genap, nih. Biasanya ada apa, ya?
Apalagi kalau bukan Penilaian Akhir Semester :”))
Eits, daripada pusing mikirin ujian mulu, lebih baik kita ngomongin hal lain.

Kali ini, saya akan membahas sebuah buku yang cukup terkenal.
Tapi, sebelum itu, ada apa nih, kok tiba-tiba PIDAS membahas buku-buku?

Seperti yang kita semua tahu, kalau belum tahu ini saya kasih tahu, pada tanggal 2 Mei lalu, Indonesia merayakan Hari Pendidikan Nasional. Sebagai bentuk perayaannya diadakan lah PENTAS, Pendidikan Nasional untuk PIDAS. Di mana setiap anggota PIDAS membawa buku, lalu buku tersebut dipinjamkan ke anggota lain untuk dibaca dan dibahas seperti yang akan saya lakukan sekarang.

Siapa sih yang gak tau “Diary of a Wimpy Kid“?
Diary of a Wimpy Kid adalah sebuah buku seri buatan Jeff Kinney, yang terdiri dari sebelas buku yang sudah diterbitkan dan satu buku yang akan diterbitkan pada akhir tahun 2017.
Kalau dalam versi translasi judulnya diubah menjadi “Diary si Bocah Tengil”.

Jujur saya sedikit bingung saat membaca judulnya, karena menurut saya “wimpy” dan “tengil” adalah hal yang berbeda. Wimpy sendiri memiliki arti “a person who is not strong, brave, or confident” atau “orang yang tidak kuat, berani, atau percaya diri”. Sedangkan “tengil” adalah “menyebalkan (tentang sikap dan kelakuan)“. Namun, saya sendiri merasa “tengil” mendefinisikan tokoh utama lebih baik daripada “wimpy“, karena memang ia tengil.

Dalam kesempatan kali, saya akan membahas seri ketiga yang berjudul “Diary si Bocah Tengil: Usaha Terakhir”.
Seperti yang sebagian besar dari kita sudah ketahui, buku seri ini dibuat dalam bentuk “setengah novel-setengah komik”, sehingga buku ini tidak berat untuk dibaca anak-anak maupun remaja. Seperti seri lainnya, buku ini juga bercerita tentang keseharian tokoh utama, yaitu Greg Heffley.

Dalam buku ini, Greg bercerita mulai dari wacana-wacana resolusi tahun baru dalam keluarganya hingga kegiatannya di awal libur musim panas. Walaupun Greg adalah tokoh utama dari buku ini, tokoh-tokoh lain juga memiliki peran yang cukup besar. Tokoh yang paling menarik dalam buku ini menurut saya adalah ayah dari Greg, yang disebut sebagai “Dad”, karena ia terkadang bersikap seperti anak-anak. Ia sangat mudah untuk merasa cemburu kepada orang lain dan sulit menahan diri untuk tidak memakan camilan yang ditemukannya. Namun, selain sikap tersebut, ia juga masih bisa bersikap dewasa, ia masih tahu malu saat anak-anaknya melakukan hal aneh di hadapan bosnya. Selain itu.. entahlah.

Buku seri ini juga mendapatkan adaptasi film layar lebar, namun untuk buku yang ketiga ini sayangnya tidak dibuat dalam versi film.

Secara keseluruhan, buku ini sangat asyik untuk dibaca saat waktu luang dan untuk menghilangkan penat karena isinya yang ringan dan lucu. Buku ini sangat cocok bagi kalian yang tidak suka baca novel tapi mungkin sedang bosan dengan komik. Sangat cocok juga bagi kalian yang ingin mencoba untuk mulai membaca novel, kalian bisa mulai membiasakan lebih banyak membaca tulisan daripada melihat gambar dari buku ini.

Marilah kita membaca buku lebih banyak untuk membuka wawasan dan kreativitas kita! 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *