“Tumpahkan Airnya”

overflow

Just empty the water from the cup, replace it with some fresh water, cannot feel the taste if you use the same water, because you had saturated!

Terkadang penuh yang tak terbendungi, perlu dibuang tuk diisi yang baru. Tak sanggup tuk memperluas wadahnya, tiap suatu hal pasti punya batasannya, inovasilah yang membedakannya. Yap, ‘replace it’  diawali dengan ‘empty it!’ lalu ‘replace it!’ dan ‘feel it!’ akhirnya ‘yep it’s so tasted!’

 

Menumpahkan kepenatan yang ada, bukan bermaksud keluar dari zona nyaman tapi menggantinya dengan hal yang lebih ‘ngena’ dengan berbagai pertimbangan ‘berat’ demi bisa sampai satu impian “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang sesuai salah satu tujuan bangsa Indonesia kita pada pembukaan UUD ’45 itu telah mulai di tahun ini! Ya, kurikulum 2013. Sangat ditunggu-tunggu oleh para pimpinan negara karena mereka juga pastinya sudah sangat ‘gemes’ dengan perubahan yang lebih mantap tuk tanah air, namun disambut dengan ‘panas’ oleh beberapa oknum di lingkungan kita. mencoba tuk kritis, namun menjadi sulit tuk bisa cari hal positifnya karena tertutup oleh sulitnya kita dalam  menerima perubahannya. Walaupun tak masuk akal jika dibandingkan dengan kurikulum yang silam, seperti

Bagaimana bisa langsung dijuruskan dari awal? Toh yang sudah dijuruskan dengan persiapan yang matang saja masih ada yang ga siap mental!

Seberapa bagus barang itu, jika kita salah pakai kacamata, tetaplah tak ada bagusnya. Yuk telusuri fakta ‘air keruhnya’

 

Sejarah Perkembangan kurikulum

 

Rencana Pelajaran 1947-1968 → Kurikulum Berbasis Tujuan 1975-1984 → KBK & KTSP 2004/2006 → Kurikulum 2013

Apapun kurikulumnya, yang penting bagaimana aksi di lapangan (sekolah) harus ada kesepahaman/pengertian dari semua pihak yang terkait dengan pendidikan. Kurikulum lebih banyak memuat pendidikan moral alias berorientasi kepada watak dan kepribadian bangsa yang beragama. –Identitas dirahasiakan-

Rencana Pelajaran 1947-1968

 

Kurikulum yang digunakan di Indonesia dipengaruhi oleh tatanan sosial politik Indonesia. Negara-negara penjajah yang mendiami wilayah Indonesia ikut juga mempengaruhi sistem pendidikan di Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda, setidaknya ada tiga sistem pendidikan dan pengajaran yang berkembang saat itu. Pertama, sistem pendidikan Islam yang diselenggarakan perantren. Kedua, sistem pendidikan Belanda.

 

Ya, sangatlah identik dengan kasta pada saat itu. Berbagai golongan yang mapan serta terpandanglah yang bisa menikmati pendidikan. Sangat nikmat, hingga butuh perjuangan tuk dapatkan kenikmatan itu bagi kaum bawah. Hierarki sekali, dimulai dari bentuk sistemnya yang bersifat membeda-bedakan dari kaum yang tinggi ke rendah, lalu kurikulum, sistem pengajaran, para pengajar, hingga ke peserta didiknya. Semua dibedakan dengan adanya  batasan tuk setiap golongan yang berbeda.

 

Kurikulum Berbasis Pada Pencapaian Tujuan (1975-1984)

 

“Setelah Indonesia memasuki masa orde baru maka tatanan kurikulum pun mengalami perubahan dari ‘Rencana Pelajaran’ menuju kurikulum berbasis pada pencapaian tujuan. Dalam konteks ini adalah kurikulum subjek akademik, merupakan model konsep kurikulum yang paling tua, sejak sekolah yang pertama dulu berdiri. Kurikulum ini menekankan pada isi atau materi pelajaran yang bersumber dari disiplin ilmu. Penyusunannya relatif mudah, praktis, dan mudah digabungkan dengan model yang lain. Kurikulum ini bersumber dari pendidikan klasik, perenalisme dan esensialisme, berorientasi pada masa lalu. fungsi pendidikan adalah memelihara dan mewariskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai budaya masa lalu kepada generasi yang baru.”

 

Kurikulum Berbasis Kompetensi (2004-2006)

 

Bahasa tingginya…

 

“Kurikulum yang berorientasi pada pencapaian tujuan (1975-1994) berimpilkasi pada penguasaan kognitif lebih dominan namun kurang dalam penguasaan keterampilan (skill). Sehingga lulusan pendidikan kita tidak memiliki kemampuan yang memadai terutama yang bersifat aplikatif, sehingga diperlukan kurikulum yang berorientasi pada penguasaan kompetensi secara holistik.”

KBK ini punya kelemahannya yaitu temen-temen yang telah menyelesaikan pendidikan jadi kurang siap mental dll untuk kerja di lapangan, karena kemampuannya hanya didasarkan pada nilai yang tertera pada rapot saja bukan kemampuan dalam praktik pada pendidikan yang berkurikulum KBK ini. Lalu, solusinya ialah ingin dilaksanakannya kurikulum yang bertujuan agar temen-temen bisa menguasai kompetensi secara holistik, yaitu pemikiran filsafat tentang seorang individu dapat menemukan identitas, makna dan tujuan hidup melalui hubungannya dengan masyarakat, lingkungan alam, dan nilai-nilai spiritual.

 

Sebaik apapun kurikulum, tanpa adanya perubahan paradigma tenaga pendidikan kualitas tidak akan mengalami perbaikan,sering kali kita mendengar bahwa kurikulum kita ketinggalan dari iptek, pembelajaran di sekolah-sekolah masih menggunakan pendekatan konvensional, kita lihat hasil UKA dan UKG jauh dari standar yang ditetapkan, nah sekarang muncul perubahan kurikulum. Saya sarankan pada para penyusun kebijakan benahi dulu kualitas tenaga pendidik, tidak membuat kebijakan yang menghabiskan anggaran. –Identitas dirahasiakan-

 

Menurutku, justru dengan mengambil keputusan dahulu, lalu sambil berjalan sambil bersosialisasi tuk membenahi kualitas tenaga pendidik. Iya, terasa tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, sangat malahan, apalagi sistem yang bisa kita bilang ‘unik’ karena memang paling beda jika dibandingkan dengan sejarah kurikulum yang sebelumnya.

 

Kurikulum 2013

 

kura

 

clip_image011[2]

> Penjurusan bermula dari kelas X

 

Seru, tak usah menunggu waktu setahun dahulu, bahkan bisa menelusuri jurusan IPA maupun IPS lebih luas dan dalam lagi selama tiga tahun. Ya, pertimbangan yang matang dalam memilih IPA atau ips lah tantangannya. Salah, bisa meleset. Ditengah jalan malah ada yang menyesal dengan pilihan jurusannya karena hanya sekedar mau, tak kuat dalam mempertimbangkannya. Berarti caranya dengan memberi bekal ke adik-adik kelas X yang baru memasuki dunia SMA dengan berbagai wawasan tentang IPA maupun IPS, seperti dunia kuliahnya, dunia kerjanya, dan pelajaran-pelajaran yang akan ditempuh mereka selama SMA.

 

> Mata pelajaran berkurang, waktu pun bertambah

 

Ada dua mata pelajaran yang ditambah durasinya yaitu Agama dan Penjaskes (olahraga), namun mata pelajaran TIK (komputer) ditiadakan. Begitulah info yang kudapatkan dari salah satu siswa kelas X SMA 81 yang baru menjadi adik kelas Aquila “Kurikulum 2013 pelajaran agama sama penjas samnya ditambahain heeh, terus tik udah R.I.P” -Sara- Yap! Selamat bagi TIK, bisa menjadi titik fokus yang mantap jika dijadikan ekskul. Pastinya, menjadi mantap karena dijadikan ekskul isinya ialah siswa-siswa yang ahli dalam bidang komputerisasi, bahkan bisa tak monoton lagi hanya belajar Word, Excel, dll-nya. Namun, bisa lebih dijuruskan kepada hal yang menarik seperti designing, programming, web-design, dkk-nya yang menarik bahkan bisa dijuruskan tuk berbagai kompetisi seperti FLS2N, OSN informatika, dll.

 

> Buku satu Indonesia diserasikan

 

Whoa, terpikir bagi yang kritis ialah “wah gabisa kreatif dong, sentralisasi banget sih! Gimana bisa berkembang? Terus buku kan gak gratis, tapi bayar, satu Indonesia diubah? Wah buang2 duit, mending terusin dan kembangin yang lama aja!” bagi yang setuju-setuju aja nan positive thinking “asik satu Indonesia pasti sama, pasti mantap, inilah bukti dari Bhinneka Tunggal Ika yang nyata! Haha” ahaha namun, yang apatis pun mengucap “whoooooooooooooa bodo amat, yang penting gua sekolah” “ga enak banget nih jadi kelinci percobaan”. Yaa, otomatis silabus, materi tiap mata pelajaran, dll nya ada perubahan, yang harus dirubah tuk disesuaikan seluruh Indonesia. Hmm berat, tapi memang tujuan nya bagus, tinggal prosesnya nih yang tantangan banget, haha. Tinggal konsistensi untuk ngembanginnya aja.

 

> Dan masih banyak ‘permen’ yang belum dirasakan

 

Ya, tinggal tunggu saja kurikulum ini berjalan, dan coba temukan permen manis itu dengan membukanya! Haha suatu kejutan bagi yang kita yang taat. “Maaf Anda kurang beruntung” karena usaha kamu belum sesuai.

 

Jadi, perlulah dituangkan air keruh yang sudah tak layak tuk ‘diminum’. air keruhnya itu pikiran yang berupa keluhan tentang kurikulum yang baru, kita tersangkut dengan kurikulum yang lama, bagi kaum terpelajar dan penegak kependidikan lainnya, tuk digantikan dengan yang inovatif yaitu air yang layak ‘diminum’ tak lain ialah air baru itu, kurikulum 2013! Yap, tak mau ‘diminum’ kemungkinan ada salah penggunaan ‘kacamata’ teman-teman. Apalagi, bagi para penegak kependidikan, jika keluhan masih tetap ada, yuk segera ganti ‘kacamata’ nya. Toh gamau rabun berlama-lama kan dalam melihat kebagusan dari kurikulum 2013 yang padahal bagus, tapi bertujuan buram karena hal kecil yaitu kesalahan kacamatanya. Hehe :)

 

Bukan menjadi orang yang tak kritis, tapi sekarang kita memang butuh perubahan, toh kebanyakan kebijakan baik buat kita di Indonesia terlalaikan karena kita yang membangkang. Lalu, kapan kita bisa jadi insan yang taat nan kreatif? 😀 haha mudah-mudahan saja kurikulum 2013 ini bisa berjalan konsisten maupun berkembang, tak diubah lagi maupun tak berkembang telat lagi!

 

Akhir kata, pemerintah kita cuman mau ngucapin…

We can’t spell S*CCESS without ‘U’

Luthfi Abdur Rahim

One thought on ““Tumpahkan Airnya”

  • Pusing melihat keinginan pemerintah, perubahan kurikulum yang diberikan tidak melihat kemampuan siswa dan kesiapan guru. harus ada persiapan yang matang sebelum penggantian kurikulum ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *